Sunday, June 15, 2014

Doctor's Life (part 1)

Kemaren sempet baca postingan dulu yaitu kuis tentang usul postingan dari teman-teman. Banyak ternyata yang minta postingan tentang keseharian kerja atau hal-hal yang terjadi di RS. Berhubung gua juga mulai nonton lagi Grey's Anatomy jadi sering nostalgia masa-masa co-ass dan masa residensi.

Kalau sekarang terus terang 95% waktu gua praktek di outpatient alias rawat jalan alias poli. Berbanding terbalik dengan saat pendidikan dulu. Pastinya gua lebih suka dan enjoy kondisi sekarang tapi kadang kangen juga suasana di ward dulu.

Kadang ada teman yang tanya beneran gak sih kehidupan dokter seseru di film2 macam ER, Grey's Anatomy, House MD bahkan sampai Good Doctor? Jawabannya bisa ya dan tidak haha.. Emang kadang ada hecticnya, ada emergencynya ada drama percintaan sampai perselingkuhan tapi itu cuma secuplik aja. Most of the days just the average normal days.

Kadang gua pikir betapa beruntungnya gua sampai saat ini mendapat pengalaman yang kaya, melewati gradasi perasaan yang bergejolak mulai dari sedih sangat sampai bahagia luar biasa karena mendampingi pasien dan keluarganya dengan perasaan yang sama. Perasaan yang dulu gua gak kenal dan tidak tahu ada dalam diri juga sering bermunculan. Kadang perasaan gregetan, frustrasi, puas sampai bangga juga melanda. Pengalaman kocak, mengharukan hingga mengerikan dan menyeramkan juga sudah pernah dilewati. Gua juga gak nyangka bisa bertindak dari lembut hingga tegas, dari mencoba menganyomi hingga memarahi (untuk kepentingan pasien tentunya). 

Gua sering berpikir betapa gua sendiri berubah. Waktu kecil gua pemalas dan penunda nomer wahid, agak mending saat remaja dan sekarang kalau gua belom selesai mereview artikel yang udah gua tetapin bisa lho kebawa ke mimpi. Dulu gua penakut luar biasa tapi siapa sangka saat kuliah gua pernah bawa dan mempelajari tengkorak (asli) ke kamar kos untuk  untuk ujian Anatomi besokannya. Gak ada rasa takut sedikitpun saat harus memegang cadaver (mayat) di ruang labarotorium. Dulu gua anak bungsu manja dan egois, semua harus ngikutin keinginan gua kalau gak gua ngambek berhari-hari dan papa gua kebingungan. Sekarang gua harus nyingkirin kepentingan pribadi, bahkan sampai kepentingan anak kalau emang ada hal yang emergency (lebih sering lagi hubby yang punya pasien darurat).

Sebagai petugas medis, kita diwanti-wanti jangan sampai sebagai dokter kita sendiri burn-out alias jenuh. Dulu pertama kali co-ass, gua ingat bener gua sulit menata emosi. Jadi ceritanya ada masa orientasi dan kita dirotasi ke berbagai bagian. Saat itu gua lagi di bagian Bedah dan tugas di IGD. Karena belum boleh bertindak, namanya juga orientasi maka hanya boleh anamnesa (mencari keterangan dari pasien dan keluarga), memeriksa dan melaporkan hasilnya pada dokter jaga. Siang itu datanglah seorang bapak korban KLL dengan kepala bocor. Secepat kilat gua tanya singkat dan gua langsung melapor ke dokter jaga yang sedang asyik minum kopi. 

Harapan gua sih dia langsung hecting (jahit) karena darahnya banyak ke mana-mana. Mana meski sudah lulus sarjana kedokteran waktu itu, lihat darah paling di tabung reaksi, jadi ceritanya masih shock saat ngelihat darah bergelimpangan. Eh, si dokternya tenang-tenang aja gak bergerak asyik nyeruput-nyeruput kopinya yang masih panas. Teman-teman gua nenangin, maksudnya jangan kita desak terus ntar dianya marah. Bolak balik gua lihat kondisi pasien. Bapaknya masih ngerang dan sadar tapi tuh darah ngucur kayak keran dan akhirnya kita tampung di bawahnya pakai ember.

Akhirnya gua yang emang terkenal nekad dan vocal datengin si dokter jaga dan kasih tahu semua peralatan sudah disiapkan. Sang dokter jaga dengan galak bilang begini, "Kamu gitu aja heboh! Emang gak tahu apa, kalau vulnus laceratum (luka robek) di kepala emang darahnya banyak! Baca lagi tuh buka anatomi! Ini mah tidak membahayakan! Ganggu saya aja kamu!" Meski sehabis itu dia dengan rapi menjahit luka bapak tersebut, gua bertekad mulai hari itu gua gak mau seperti dia, gua gak mau jadi dokter yang masih bisa memanjakan indra saat ada yang mengerang-ngerang di ruangan yang sama.

Kisah lain juga pada saat orientasi atau awal co-ass, gua lupa. Seorang anak perempuan pasien seumur gua sedang menangisi papanya yang kena stroke perdarahan dan sudah tidak sadarkan diri. Gadis ini meraung dan minta maaf sudah sering menyakiti perasaan papanya dan meminta kesempatan kedua. Dia rela mengurangi umurnya agar papanya bisa sadar lagi. Saat itu gua gak tahan dipaparkan oleh perasaan anak yang begitu terbuka dan tulus. Biar udah gigit bibir, mata didelikkan ke atas tetap aja tahu-tahu mata dan pipi panas. Mungkin juga karena anak itu seumur ama gua  dan papanya seumur papa gua jadi mudah bagi gua bersimpati. Gua tahu dengan kondisi begitu gua gak akan fit sebagai dokter papanya! Mereka tidak butuh air mata gua! Mereka tidak butuh simpati gua! Mereka butuh dokter yang bisa tenang, biarpun berempati tetapi bisa mengambil keputusan yang tepat dan rasional. 

Dua kejadian itu yang menyadarkan gua kalau jadi dokter itu sulit tapi jadi dokter yang baik itu suuuuuliiiiiiiiit. Biarlah kita berempati saja tapi jangan sampai perasaan kita kacau balau. Sampai saat ini meski gua gak pernah lagi menitikkan air mata depan pasien, gua tetap dalam proses belajar untuk memberikan yang terbaik. 

Gua kenal banyak dokter yang sebagai defense mechanism akan bertindak super dingin. Seakan-akan mereka shut down tombol emosi. Sebagian kecil emang sudah terlahir begitu, tapi sisanya itulah cara mereka untuk jadi dokter yang baik versi mereka. Dengan begitu dia tetap memakai analisa dan logika yang terbaik untuk pasien. Di antara mereka ada yang gua tahu benar2 genuine lho segalanya buat pasien tapi kadang pasien tidak respek dengan dokter type seperti itu, karena kurang komunikatif, dingin dsb... Kalau soal itu emang susah ya, karena beda dengan profesi yang lain, dokter butuh trust dari pasien dan keluarganya, kalau tidak yakinlah hasilnya tak akan optimal.

Duh udah panjang aja, next time disambung. Memang gua pernah bilang gak mungkin gua cerita spesifik yang bisa melanggar konfidensial, tapi kalau general sih gak papa. Awalnya  gua ragu mau posting pengalaman fresh graduatedkah, pengalaman kerja di klinik, pengalaman pernah punya klinik, pengalaman horor, pengalaman PTT di desakah? Eh jadi curhat di atas hehe... So dari pilihan di atas pada pengen yang mana nih:)?

Saturday, June 07, 2014

Family time at Neo+ Green Savana

Hari Sabtu, dua minggu yang lalu kita nginap di hotel yang relatif baru di Sentul yaitu Hotel Neo+ by Aston. Bentuk bangunannya unik dan bersebelahan dengan Taman Budaya Sentul di Sentul City. Tahun lalu waktu kita main ke Taman Budaya sempat ngelihat bangunan hotel yang bentuknya unik ini tapi gak kepikiran ini adalah hotel.

Arsitekturnya agak unik jadi selasar dibuat open air. Sementara bangunan cuma berlantai dua tapi memanjang. Di bagian tengah ada kolam renang dan ujungnya ada jacuzzi

Dilihat dari arah kamar

Lobby

Kamar simple minimalis tapi cukup luas. Gua suka lantainya yang tidak berkarpet karena kiddos terutama si kecil yang masih suka crawling sana sini rentan alergi. Contohnya pulang dari Trans kemarenan itu meler semeler2nya even karpetnya tiap hari divacuum.



Kamar mandi terpisah antara toilet, shower dan area ganti maupun wastafel. Downside air panas harus menunggu sedikit lama dan air cukup tergenang di area shower. Bukan karena saluran tersumbat tapi ternyata kemiringan lantainya tidak tepat jadi air tidak cepat mengalir ke drain. Sempat minta ganti kamar karena takut anak-anak terpeleset tapi sayangnya semua kamar penuh.

Karena kita tiba juga udah malam, akhirnya habis dinner kita mutusin berenang deh haha... Meski awalnya agak ragu mengingat si bocah mau UAS hari Seninnya, akhirnya kita mutusin berendam aja di jacuzzi yang hangat:)


Asyik juga karena setelah rombongan terakhir udahan, pool dan jacuzzi milik pribadi. Dan setelah itu gua sempet juga berenang sendiri. Enak dan seger banget deh, meskipun bukan air hangat, nggak dingin-dingin amat juga. Malah menurut gua lebih enak berenang malam-malam sebenarnya gak usah pakai sun block segala. Karena bentuk pool yang memanjang begitu, habis berenang tinggal keluar jalan beberapa langkah udah sampai pintu kamar.

Esokannya sarapan biasa aja, gak selengkap biasanya Aston sih tapi cukup decent. Ada area omelette, lontong sayur, bubur, nasi dan lauk, roti dan oats. Sehabis sarapan Denzel sempet berenang lagi.

Depan kamar langsung pool


Jacuzzi again
Sebenarnya udah bisa ngambang ya, tapi belum mau nerusin les renang yang berhenti sejak Juli tahun lalu
Akhirnya setelah lumayan gosong, baru si bocah mau diajak naik itupun diiming-imingi main ke Taman Budaya. Taman Budaya secara harafiah di belakang hotel, jadi tinggal jalan kaki doang.


Trampolin kesukaan

Habis main trampolin, becak, layangan muka Denzel udah kayak kepiting rebus karena udah  hampir jam12. Tapi si bocah masih ngotot mau main flying fox. Syukurlah ternyata petugasnya sedang istirahat sampai jam1.30 jadi kita bisa dengan tenang kembali ke hotel untuk check-out.

Ini sih selipin foto main flying fox dan layangan persis Mei tahun lalu di Taman Budaya juga.



Yang pasti holiday berkesan buat si bocah. Waktu gua tanya Seninnya apakah bisa ngerjain soal ujian atau nggak dia jawab dengan pede, "Bisalah!" Sekarang sejak masuk SD ngomongnya suka sok tahu dan gemesin. Kata dia begini, "Makanya mommy, sebelum ujian nanti harus nginep di hotel dulu, biar aku bisa ujianya." What??  Tahu deh bisa atau nggak haha.. yang pasti sampai di rumah tepar sampai malem akibat kecapean... untung masih kelas1 :)

Sunday, June 01, 2014

Suatu Long Weekend di Trans Luxury Hotel

Setelah lama pengen coba nginap di hotel yang entah kenapa awalnya sempat disebut-sebut berbintang 6 (emang ada ya?), akhirnya kesampaian juga Maret kemarin pas ada seminar. 



Ranjangnya besar juga, gak sampai berdesak-desakan dengan bocah besar, tapi baby cribnya agak mengecewakan. Gua tahu kalau bumper mungkin untuk standar internasional tidak memenuhi kriteria keamanan tapi untuk toddler yang lasak bisa benjol-benjol nih.


Sofa ini bisa multifungsi untuk tidur juga.


Bathroom elegan


Bathroom amenities komplit sampai bubble bath,  bath salt etc
Anomali :  bisa-bisanya minta mandi mlulu

Breakfast di sini lengkap dan lezat. Nginep di sini 3 malam gua sempet merasakan 2 restoran yang berbeda. Pertama The Restaurant di level3 (bisa ngeliat swimming pool) daaaaan yang di lantai 18 dengan pemandangan yang jauh lebih wow! Btw kalau malam2 mau dinner di sini, viewnya juga bagus banget, gak usah macet2an ke Dago sono.

Dan yang paling mengesankan untuk si bocah besar pastinya swimming pool !!


 Yay, ada pasir putihnya...



Dilema mau berenang atau mau main pasir

Sementara kokonya seperti gasing, explore sana sini, berenang 2 jam sampai gosong dan saban disuruh udahan nangis ala jejeritan dramatis sampai diliatain banyak orang, ngapain dong adiknya?



Jangan terkecoh penampilan Diaz yang siap tempur ya, bahkan nginjakin kaki ke pasir basah aja dia emoh. Emang sih airnya dingin amat. Jadinya little boss bersantai dan berjemur di sofa aja sambil senyum-senyum lihatin ulah kokonya:P

Overall cukup puas nginap di sini. Kamarnya mewah dan luas, pelayanan memuaskan. Letaknya juga strategis langsung nyambung ke Trans Studio Mall. Gua yang tadinya udah ngelist mau makan apa aja, terpaksa menyerah oleh cuaca buruk dan macet gak kira-kira. Akhirnya selain sekali ke Sierra, banyakan makan di restoran di mal tersebut yang rata-rata juga branch dari Jakarta. 


Wednesday, May 21, 2014

Along came the Bee

Beberapa bulan lalu, kita nginep lagi di Novotel Bogor. Udah lama banget gak ke sana. Seandainya saja bisa tiap tahun nginap bisa bikin time lapse photo di sofa kebangsaan ini.


2014
Sudah jadi koko
The room
My little baby
Seingat gua dulu gak ada kids club atau gua gak ngeh. Kemarenan Diaz kita bawa ke kids club berhubung air di kolam renang terlalu dingin buat dia berenang. Kalau Denzel sih udah kepincut mainan-mainan outdoornya.


Seingat gua juga mainan outdoor ini relatif baru atau setidaknya terakhir datang belom ada. Ya iya dong udah hampir 5 tahun yang lalu hahaha...






Air di Bogor tahu sendiri dinginnya udah kayak aer es, tetep aja si manusia ikan pura-pura budeg saban disuruh udahan.

Petani cilik
Tamannya tetap bagus dan asri. Pantesan hubby selalu bercita-cita kalau udah pensiun mau punya rumah di Bogor dan ada kebonnya. Tapi siapa yang mau ngerawatnya ya? Sekarang saban disuruh rapiin cemara udang depan rumah aja udah lonjong mukanya. Belum lagi kalau ada binatang-binatang liar yang suka ngaso di kebon kan banyak ya?

Jadi ingat nih ada kejadian luar biasa akhir-akhir ini. Dua bulan lalu siang bolong gua denger si mbak tereak histeris tapi karena orangnya suka lebay gua cuekin, cuma suruh BS liatan ada apa, tapi gak lama berdua tereak bersahut-sahutan ngalahin Bianca Castafiore. Tetangga sebelah yang lagi renovasi aja sampai nyembulin kepala pada. Lari dong gua ke bawah, eh si mbak lagi ambil kayu buat mukulin ular yang meliuk-liuk. Di bilang gede sih kagak tapi bukan ular kecil juga, ada bangsa semeter deh. Tapi karena panik, pukulannya hanya kena ke badan, bukan kepala. Alhasil si ular melipir pergi masuk selokan. Sementara tukang-tukang sebelah cuma kasih instruksi bukannya bantuin, Ciiih!

Terus kemarenan tukang keluarga gua suruh nguras bak, sekalian dia rapiin pohon mangga tetangga yang cabang-cabangnya merangsek liar ke halaman rumah gua, dan bikin kabel telpon gua ketarik. Pagi-pagi gua minta izin dulu si empunya pohon dan katanya silahkan aja. Sore-sore selesai tugasnya yang lain, naeklah si tukang. Ini pas gua gak di rumah dan cuma diceritain. Pas dia lagi gergaji kok tiba-tiba badannya ada yang sakit-sakit. Ternyata oh ternyata dia udah mulai dirubung tawon. Untungnya selain kulitnya setebal pohon, lumayan pinter juga. Dia pikir kalau panik, terus buru-buru turun yang mana akan bikin makin banyak tawon datang, dia diam aja gak gerak. Gak berapa lama pergi deh tawon-tawon itu. 


Habis itu baru dia ngeliat ada sarang tawon guedeee! Kira-kira seukuran 2 helm orang dewasa ada kali. Usut punya usut ternyata maid si empunya rumah juga udah kesengat pas metikin mangga beberapa bulan silam dan dilarikan ke RS. Kayaknya si trauma dan emang gak kerja lagi sih sejak itu. Jadi mereka emang udah tahu tapi gak ambil tindakan karena takut mindahin sarang tawon itu.Tapi ya, kok pas gua minta izin gak dikasih peringatan gitu, gua gak tahu lho sama sekali. Kan kasian kalau sampai tukangnya kenapa-kenapa, ya gak sih.

Sampai sekarang sih bersyukur semuanya aman sentosa meskipun sport jantung. Kan katanya tawon itu kalau gak diganggu gak nyengat ya, betul gak? Ada yang punya pengalaman seperti gua atau ada yang tahu gak sih cara mindahin/ buang sarang tawon itu? Haha dari cuma mau cerita hotel gua jadi ingat makhluk2 tak diundang ini deh, ganti deh judulnya.

Thursday, May 08, 2014

Never tired of you

When a man is tired of London
He is tired of life
For there is in London
All that life can afford
                          Samuel Johnson

London, what should I say? Kalau baca quote di atas sebelum gua pergi barusan, gua sih skeptis dan ngerasa Dr. Johnson ini hiperbola. Soalnya dulu saat Europe trip sama nyokap, jujur London itu kota paling gak menarik di banding lainnya. Bagaimana tidak? Foto gak ada yang bagus, habisnya gerimis disertai awan kelabu, dan guide lokalnya dong. Galak beneeer, baru sekali gua nemu guide yang gak ada senyum sama sekali. Kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah dia tidak suka kalau ada yang telat, jadi semisal dia bilang pukul 11 tepat, dia tidak mau menunggu barang 5 menit pun.

Jadi kali ini pun gua udah gak punya ekspektasi tinggi deh, kan ceritanya cuma mau nonton Chelsea sama ke rumah si Harry doang. Tapi karena ikut tour ya sudahlah kita ikutan ke tempat-tempat turis.

Pssst... ini baru tiba langsung jalan ke Buckingham jadi belom mandi kurleb 30 jam huaha...

Yang ngantri mau lihat prajurit Monde

Kok jadi pengen biskuit ya *kriuk*
 Ini kita tibanya 1,5 jam sebelum jam 11 siang yaitu jam resmi Changing Guard di Buckingham Palace lho tapi yang ngantri dan mepet ke pagar sudah banyak. Gua sih geser ke jalan aja deh. Di sini antriannya meski rapi, padat sepadat-padatnya. Gak boleh lewatin jalan dan mereka patuh lho. Banyak  polisi berkuda yang ngawasin juga karena dua hari sebelumnya ada insiden yang cukup heboh di sana.

Nah, gua kan gak bisa lihat sama sekali prosesi Changing Guardnya saking orangnya udah padat, tinggi-tinggi pula. Akhirnya dengan tidak tahu malu gua permisi kanan kiri, depan belakang menyeruak ke depan pagar dan ngambil beberapa foto prosesi. Gak berani lama-lama juga karena gak enak dan gua udah kayak hamburger diapit perut-perut buncit bapak-bapak.

Foto yang diambil penuh perjuangan, eh merakanya hadep sana pulak

Ramah sama anak-anak
Ada yang tahu gedung ini?  


Khas taxi hitam dan bus double deckernya
Convent Garden Market
Salah satu yang ngamen di Convent Garden
Nggak tahu apa, tapi bagus ya

Lumayan sudah terhibur di London karena gak ada tur guide lokal yang jutek. Sudah pasrah aja dapat langit kelabu, bahkan hujan gerimis dengan angin dingin menerpa tulang. Sempet foto-foto juga ke Big Ben, Parliament House dengan langit kelabu yang sama:(

Eh gak tahunya hari terakhir sebelum kita pulang tiba-tiba  matahari bersinar, langit birrrruuuu. Tour guide kita dengan baik mengajak kita untuk sesi foto ulang di Big Ben, London's Eye, Parliament House lho.



Loveeee the sky
London's eye
Tower Bridge yang sering disalah sebut sebagai London Bridge

Ben
Penjaga di Tower of London


Parliament House

Pokoknya cuaca cerah hari itu udah merubah persepsi gua tentang London yang suram, muram, kelabu dan tidak bersahabat. Entah mood semua orang juga terangkat kesannya Londoners hari ini juga hangat dan ramah.  Kalau mau mengenang London, gua tinggal memejamkan mata, merasakan hangatnya matahari di muka dan  melihat ulang pemandangan di bawah ini.....

my masterpiece of this trip