Monday, March 05, 2012

Maxi's Resto

Sebelom pulang ke Jakarta dari Padalarang kemaren, mampir dulu ke Bandung buat ketemu oma Denzel dan sempat lunch di Maxi's. Kalau ada yang tahu, dulunya tempat ini Glosis. Ciumbuleuit (tapi masuk lagi ke jalan kecil). Enak banget tempatnya, lapangan rumputnya luas terus kayak ada glass house dan lapangan rumput luas segala yang bisa buat acara wedding, ultah anak, arisan blogger? Berikut makanan yang dipesan:

1. Zuppa ala maxi 19 K dan corn soup 16 K


Appetizer ini biasa aja, zuppanya kurang fluffy. Foto kanan cuma mau nunjukin suasana resto krn lupa difoto (hujan mlulu) yang asri bonus Denzel lagi menolak mentah2 sup, dia sukanya sup yang bening.

2. Petite di pollo ala valdostana 43 K

Dada ayam dengan saus jamur. Kata hubby sih enak.

3. Spaghetti del caesare 43 K

Kenapa di Bandung lagi banyak spaghetti dengan mozarella yang dipanggang ya? Enak juga sih tapi porsinya kelewat besaaar.

4. Grilled Norwegian Salmon 63 K


Ini pesanan gua. Enak tapi kurang banyak porsinya hiks, mungkin karena enak kali ya jadi berasa kurang, terus gua bagi2 pula ke Denzel takut dia kurang pizzanya:P

5. Pizza quatro formaggi 54 K

Pilihan Denzel dan asli enaaaak banget. Tadinya ditanya mau tipis atau tebel, gua pilihin yang tipis. Saking enaknya dijambret ama gua, hubby, MIL juga. Kasian Denzel gak berani nolak hihi..
Minumnya dikasih air putih so gak pesen minum lagi.

Overall makanan dan suasana nyaman. Boleh dicoba kalau main ke Bandung.

Maxi's resto
Masuk dari Jl. Ciumbuleuit (ikutin papan petunjuk)
Jl. Gunung Agung 8
Bandung, Jawa Barat
Phone: 0222032666

Tuesday, February 28, 2012

Mason Pine


Akhir pekan lalu kita nginap di Mason Pine, Kota Baru Parahyangan di Padalarang. Beberapa bulan saat ada seminar di Aston Bandung, sempat dibawa untuk dinner di sini dan udah mupeng banget ngeliat tempatnya bagus dan asri. Pikir2 gak mungkin diadain seminar di sini lantaran jauh dari pusat kota Bandung (sekitar 30 menit) dan ratenya cukup mahal (sekitar 110 USD). Menghibur diri aja kapan2 datang dan nginap sendiri.

Eh, ternyata keinginan kita didengar Tuhan dan jadinya hubby diundang seminar:) Tapi seperti biasa hari Sabtu masih kerja, nyampai2nya udah hampir jam 6 sore. Hotelnya lumayan bagus, banyak pohon dan pemandangan gunung. Bahkan dari kolam renang bisa ngeliat sawah (paddy field) yang udah dipromo2kan oleh hotel ini untuk menarik wisman dan rasanya berhasil karena cukup banyak keluarga bule yang tampak beredar.




Kamar dan kamar mandi yang cukup luas

Ada balkon yang menghadap either ke pool atau jalan seperti kamar kita.

Karena nyampainya sudah hampir jam 6 kita siap-siap untuk dinner sementara Denzel masih merengek2 mau berenang. Gak hanya dia, gua aja ngiler lihat kolamnya...

Foto dari booking.com
(yang gua foto gak jelas sawahnya)

Bocah yang gak mau balik ke kamar

Akhirnya Denzel disogok aja main di kids club bentar :


Dalang puppet show cilik

Dinner juga di restoran dengan menu selain makanan prasmanan ada siomay, sate, dimsum, salad bar, sup, buah-buahan. Biasa aja semuanya.

Besokannya breakfast di tepi kolam renang, lihat tampang bocah yang cembetut krn sakit rindu pengen renang. Makanannya sendiri gak sampai gak enak tapi yah hanya standar deh. Emang mungkin yang dijual adalah suasana dan view hotel. Landscapenya bagus, ada lapangan basket dan beberapa lapangan tenis pula. Terus ada playground outdoor spt ini yang bikin Denzel happy.

Apalagi akhirnya dikasih kesempatan nyemplung juga :


Akhir kata, bagi teman-teman yang pengen nginap di hotel daerah Bandung dengan konsep kembali ke alam silahkan coba reservasi di sini.

Sunday, February 19, 2012

Surga Makanan di Medan

Bagi yang mau wiskul di Medan, mungkin bingung mau mulai dari mana saking banyaknya haha.. Tapi buat gua, udah ada list makanan yang musti-harus-wajib-gak boleh tidak yang harus gua makan. Sedihnya berhubung cuma pulang 6 hari (minus 2 hari di luar kota) belom lagi kalau Imlek banyak tempat makan yang tutup, list gua cuma terpenuhi separohnya, padahal waktu bikin list itu juga udah banyak yang gua hapus2 saking mau realistis gak mungkin sempet kalau semuanya.
Berikut yang sempat gua makan :

1. Jln Semarang
Meskipun sekarang sudah ada foodcourt di Merdeka Walk maupun mal2, tempat jadul ini masih menyimpan daya tarik tersendiri. Apalagi gua penggemar Kue tiau Shen Dian Xia (Lydia Sum). Dulu yang goreng muka dan perawakannya sampai kacamatanya persis dengan komedian terkenal HK itu. Sayangnya beberapa tahun yang lalu beliau meninggal, untungnya ilmu sudah diwariskan pada putrinya dan tetap enak lho. Bagi gua pribadi ini jelas lebih enak dari kwetiau Akang, Cie Mei, Agogo etc etc yang di Jakarta sudah tersohor sekalipun.


Nasi Sayur Ahua

Cimkong (crab) dan selat popia

Martabak piring Murni (Jl Bogor simpang Jl Selat Panjang)


2. Jln Selat Panjang

Ini juga salah satu tempat yang mesti dikunjungi. Kalau di Jalan Semarang, kita duduknya di udara terbuka samping trotoar dan sebagian badan jalan, kalau di sini bentuknya deretan ruko-ruko tapi boleh kok kita mesan dari ruku sebelah2. Meskipun mayoritas makanan tak halal, tetap ada kok pilihan halal dan enak.

Kalau sudah di sini bingung banget karena pengen makan semuanya:) Yang terkenal antara lain:
a. Mie Tiong Sim
b. Mie Hokian
c. Mie Khek
d. Nasi Ayam ( Gua suka yang no.14 tapi ada yang di nomer 10 dan no 1 juga enak dengan ciri khas masing2)
e. Bubur Ayam kampung dan Pek Cam Kee (potongan ayam rebus dengan bawang yang wangi)
f. Bubur Babi
g. Bakpau Kacamata
h. Sate Padang Ajo
i. Es campur, es teler, es sekoteng (sama sekali tidak mirip sekoteng di Jakarta)
j. Kue-kue khas Medan

Menyedihkan, kita gak sempat ke sini tapi untungnya berhasil nyelipin take away Mie Khek ini.

Mie Khek ini bukanya pagi-pagi dan keburu habis sebelom jam 12.

Kira2 nasi ayam spt ini, tp yang ini beli di Nasi Ayam Asen Jl S.Parman

Di Jln S. Parman juga sempet take away mie thien sin (masih saudara mie tiong sim) cuma beda beberapa ruko dengan nasi Asen. Mie buatan sendiri ini unik karena tipis banget dan pangsitnya juga enak banget.

3. Jln. Pagaruyung

Kalau di Medan sebut saja Kampung Keling pasti sudah tahu area ini. Sebenarnya lebih tepat disebut Little India kali ya. Nah, tentunya yang khas adalah makanan2 India yang sudah dimodifikasi ke cita rasa Medan haha..

Yang ini sebenarnya martabak Mesir, semacam kulit tipis yang dibikin dadar dengan kuah kari, kemudian disajikan dengan kuah kari Kambing, irisan acar bawang merah dan timun, lezaaat. Di Medan bisa dipastikan pembuat martabak Mesir hampir semuanya orang India, tp anehnya selama dua minggu di India, hubby gak nemu martabak ini meski sudah nyari2!

Kemudian ada Emie atau mie rebus. Yang masak juga masih orang India. Kuah atau sausnya dibikin dengan kaldu udang giling sehingga rasanya gurih, agak manis tapi masih ada asinnya. Dicampur dengan cabai hijau rawit giling, Mantaaaap!



4. Fountain Cafe
Ada di Sun Plaza dan Thamrin Plaza. Tempat nongkrong saat ABG yang masih bertahan, dulu di Deli Plaza, entah masih ada atau tidak. Selain burgernya yang khas (gak ada mirip2nya dgn Burger di McD, AW, BK or others), mie or nasi goreng. Yang membuat gua sering rindu bahkan ngidam pas hamil Denzel dulu adalah es krimnya.

Suerrr, ga boong. Akhirnya hubby mengakui ini es krim terenak yang pernah dia makan *di bawah ancaman tentunya*. Mungkin karena racikannya pas, pakai rhum dan wangi.. hmmm, belom lagi kalau udah tahu harganya rata-rata cuma belasan ribu, pasti makin nyengir deh. Kalau bawa Denzel pasti rebutan, selain jatah dia yang dia makan cepat2, kalau sudah agak mencair gak mau lagi dan ngincer punya kita:)


5. Kota Cane

Salah satu lagi daerah Pecinan yang kaya cita rasa kulinernya. Kayaknya gua udah dibawa ke sini sejak bayi dan bisa dibilang gak ada perubahan dari masa ke masa. Makanan topnya antara lain sup bihun dengan kepala ikan kakap, kwetiau siram dan kodok goreng! Juice di sini juga enak2 antara lain yang special spt markisa asli dan terong belanda.

Bangunan bersejarah

Kwetiau siram
Jangan nilai penampilannya. Awalnya hubby cembetut krn gua larang dia pesen kwetiau goreng biasa karena dia ragu dengan penampakannya dan cenderung senang makanan yang kering. Hmm, sekarang kena batunya karena gua yakin diam2 dia sering merindukan kwetiau siram yang dilahap tandas dlm tempo yang teramat cepat utk ukuran dia. Kalau gua tanya, di Medan mau makan apa? Pasti otomatis jawabannya ini haha..

Bihun sup kepala ikan kesukaan pho-pho

Kodok goreng kesukaan mama *sluuurrrpp*

Nasi hainam ayam untuk Denzel

Sayangnya nih bocah kurang suka padahal gua icip enak kok.

6. RM Gek Lan

Kalau RM ini baru happening akhir2 ini dan sering gua lihat dibahas oleh blog2 dan teman2 pecinta kuliner. So akhirnya nyobain juga, cuma untuk teman2 yang tidak punya guide sebaiknya di skip karena cukup jauh dr pusat kota di daerah Titi Kuning.

Sempet nyoba yang di gembar gemborkan enak yakni kepiting. Pesan dua ekor, dimasak saus padang dan lada hitam. Hmmm, not bad but definitely not a priority is my list again. Di Jakarta banyak masakan kepiting yang lebih enak kok. Selain kepiting yang rada mahal, masakan lain sih murmer dan lmyn rasanya.



Tapi yang menjadi spot of attraction mlm itu adalah .......

Samcan goreng, the most sinful and delicious food ever

Ckck.. sam cam bukan kesukaan gua, tp gua gak bisa berhenti makan. Untung Dec kemaren gua baru cek kholesterol dan masih jauh di bawah 200, aman.. aman.

7. Restaurant Mikado
Malam sebelom sincia kita makan di sini. Sayang beribu sayang lupa bawa kamera dan tentunya kita sibuk makan haha.. Restoran ini juga udah eksis lamaaaa banget dan enak. Karena malam sincia tentunya rame sampai full house. Untung owner masih teman nyokap jadi bisa disisipin satu meja. Dan tentunya kita gak bisa pilih menu lagi, semua meja hidangannya sama.

Gua lupa apa saja yang jelas ada sup hisit, bebek + mantou , ayam, santapan dingin kombinasi (ubur-ubur, babi, pek cam kee, sotong crispy dll), es krim dll. Denzel agak susah makan di sini karena dia takjub melihat ada dewa rejeki( uang) yang setelah nyanyi dan nari2 di panggung berkeliling memberi angpau dan permen2 ke anak2 termasuk Denzel.

Setelah di bocah nanya terus siapa dan susah ngertinya akhirnya gua jawab aja Chinese Santa Claus, si bocah mengangguk puas tanda setuju. Haha.. pakai jenggot juga sih.

8. Mie Hokian Jl. Lebong

9. Miscellaneous

Yang gak boleh dilupakan tentunya Sate Padang kalau ke Medan. Sayangnya gua gak sempat ke tempat2 yang dulu merupakan tempat idola seperti Sate Padang Jln Kalimantan, Sate Padang samping Bata Jln A. Yani ataupun Sate Padang Ajo di Jln Selat Panjang. Soalnya pas Denzel tidur siang, gua sama hubby nyelonong bentar ke Jln. Sisingamangaraja (samping kolam renang Paradiso) untuk icip2 sate padang ini beserta es campurnya. Biarpun harganya murmer tapi rasanya kurang menurut gua huhu.. Kalau ada waktu harus ke Sate Padang yang gua sebut di atas.



Es Campur Medan juga sebenarnya harus dijajal di tempat2 yang sudah terkenal antara lain Jn Jose Rizal. Di sana ada dua RM khusus menjual Laksa Medan (dengan mie yang putih tebal seperti udon, kuah pedas asam dgn taburan ikan sarden, kemangi) dan Es Campur, Es Cendol dan kue-kue yang enak especially lemper udang dan ayam.

Dan uniknya sarapan di Medan pilihannya tiada terbatas mulai dari Kari Bihun, kwetiau goreng, Lontong/Nasi Sayur, Nasi Lemak, Emie, Mie Khek, Mie Pangsit, Mie Hokian, Pulut, Kue-kue Medan dsb dsb.

Saran gua, kalau mau menghayati sarapan yang sesungguhnya, tinggalkan buffet hotel. Seperti saat dua tahun yang lalu, krn pulangnya rame2 dan kita terpaksa nginap di Novotel Soechi yg terletak persis seberang rumah, akhirnya kita milih makan di pajak (pasar) Hong Kong di basement Hotel daripada sarapan buffet yang pasti sama spt di Jakarta.

Kalau ke sini jangan lupa beli Nasi sayur/ lontong sayur 13 anak. (Krn yg jualan punya 13 anak tp sekarang usaha diteruskan oleh salah satu anaknya). Yang enak adalah kikil dan rendangnya, hubby aja tergila2 saban pagi maunya makan ini terus. Sayangnya tidak ada tempat untuk dine in. semua pembeli adalah penghuni di sekitar pasar yang take away. Selanjutnya ada Nasi Lemak (semacam nasi uduk ) Jln. Pekantan. Asli dendengnya enak banget. Ada juga beberapa tempat yang gak gua cantumin karena letaknya di antara lorong2 dan pasti bisa nyasar nyarinya:)

Panjang juga jadinya postingan ini hehe, Gimana kalau semua list gua terpenuhi ya, wadoh?
Juga baru nyadar ternyata wajar kalau BB gua naik 4 kg selama perjalanan singkat ini:P



“One cannot think well, love well, sleep well, if one has not dined well.”
- Virginia Woolf

Tuesday, February 14, 2012

A Glimpse to Medan



Denzel pernah ke Medan saat belum genap 2 tahun. Kalau ditanya ngapain aja jelas si bocah udah lupa kecuali sambil lihat2 foto (btw gambar Denzel pakai kacamata item di samping theme blog ini diambil di Simalem).

Makanya kali ini bela2in Imlek di Medan meski agak gak rela harga tiket melonjak huhu.. Nanti selain gua mau posting soal wiskul Medan, cerita jalan2 dulu dong. Sebenarnya sungguh terlalu pendek liburan kali ini, dan yang paling disesali gak sempat ke Pulau Samosir untuk bernostalgia, mengenang 4 bulan pertama si bocah dilewatkan di sana.

Untungnya sempet ngintip Danau Toba dari Simalem Resort. Rasanya makin kondang aja ya, dulu pergi belom ada apa2, sekarang fasilitas udah lumayan lengkap. Tiket masuk nggak dihitung per orang melainkan per mobil 200 rb rupiah. Kita jalan dari Sibolangit menuju ke Tiga Panah, sayangnya dari sana jalanan kurang bagus. Tapi capek perjalanan terbayar sudah kalau lihat view dari sini. Percaya deh, view ini bisa dibandingkan dengan tempat wisata kelas dunia lainnya. Denzel aja langsung heboh, nih lihat aksinya.



Gua udah serem aja dia tiba2 lari ke pinggir yang tanpa pengaman, untungnya nih bocah cukup hati-hati.


Eh, makannya kok lahap bener padahal nasgornya pakai cabai :


Gak heran, sambil makan lihat pemandangan ini sih!


Setelah berpuas2 sampai malam, kita kembali ke Sibolangit dan nginep di villa Oom gua di GreenHill Pemandangan di sana juga cakep banget dan adem, meski gak sedingin Brastagi kali ya, soalnya kan masih agak bawah. Tapi landscapenya asli indah deh, apalagi jejeran villa yang lebih baru, kalau punya Oom gua meski di bagian depan deket jalan utama udah agak tua.

Salah satu sudut taman kompleks
(belakangnya ada gunung tp gak keliatan di foto)

Sempat juga main di kompleks sebrangnya yang lebih keren, soalnya udah kayak kebun binatang. Ada kakaktua Brazil, bangau2, ikan-ikan koi, kelinci dan sebagainya. Sayang kita dilarang foto samsek kecuali bayar:P Soalnya udah biasa dipakai untuk orang foto2 prewed.

Balik ke GreenHill, di bagian depan kompleks villa sudah dibangun playground yang lumayan asyik, tentunya jauh dari Dufan, tapi untuk anak seumuran Denzel gak ada bedanya:) Lumayan sih, kompleks ini jadi lebih hidup gara2 ada Hillpark.


Denzel sempet gak mau turun dari treehouse, meski udah lewat jam main yang diperbolehkan. Sampai diescort ke exit ama petugas hihi.. Terus di foodcourt ada ikan purba raksasa gitu, kelihatan gak di foto atas? Aslinya gede banget dan serem, kulitnya kayak udah berbatu2.


Denzel ini lebih pemberani dari yang gua bayangkan. Minta main sepeda layang, minta roller coaster, minta ini itu yang mana semuanya mengharuskan tinggi badan minimal 120 cm haha.. Kuciwa deh, sekalian gua masukin pesan2 kalau makan gak boleh pilih-pilih, kalau gak mau makan daging ntar gak tinggi2. Sekarang tiap habis makan daging suka suruh gua ukurin udah cukup belom kalau mau ke sana main lagi hihi..

Tapi akhirnya dia adu nyali naik rocking tug, semacam boat yang dilempar ke sana kemari. Lha pas orang-orang teriak si bocah ketawa-ketawa, sampai pho2 yang prihatin kaget, kirain dia nangis. Begitu tahu ternyata ceria jadi lega dan gemez:) Terus maksa naik ferris wheel yang ditemenin gua. Sebenarnya gak serem ya, tp gua agak gamang juga kalau lihat ke bawah tapi Denzel malah menikmati banget.

Untuk ukuran bukan di ibukota, Hillpark cukup lumayan lho. Udah tiket masuknya (bukan tiket terusan ya) murah meriah, kalau gak salah cuma 15K per orang. Baru tiap game di dalamnya pakai kartu dengan harga permainan antara 10-15K, pertunjukan film 4D 35 K. Filmnya ada dua lagi satu tentang kehidupan serangga dan tentang perang. Beneran ada percikan air segala tapi masih jauh bagus yang di Disneyland pasti:)

Dalam perjalanan pulang ketemu kedai-kedai duren. Gak usah ditanya lagi langsung serbu deh kita pesta duren. Sayangnya Denzel belum mengerti betapa nikmatnya buah surga ini, cuma dijilat2 terus bilang gak mau lagi. Jangan salah, meskipun buahnya gak tll kuning, enak bener durennya harum dan manis, semanis perjalanan kita kali ini:)

bocah terpesona melihat pembukaan duren
apalagi pas eksekusinya oleh kita2 yang kalap

Saturday, February 11, 2012

Warung Laos Bandung

Salah satu tempat kencan nostalgia di Bandung haha.. Mungkin tinggal segelintir dari restoran pizza yang masih ngandelin tungku tradisional dan bisa kita lihat prosesnya karena ditempatkan di open area.

cembetut nongkrongin tungku

Pizzanya tipis dan garing. Beberapa kali ke sini selalu ganti2 menu soalnya pengen nyoba yang berbeda. Kali ini pesannya Salsicia ( smoked beef, paprika, onions, mozarella) 40,5 K dan Pollo Laos (chicken mushrooms, basillicum, onions, mozarella) 40,5K. Rasa lumayan tapi gua lebih suka yang Salsicia. Sori foto kualitas seadanya.


Lihat menu lagi ada yang unik, entah baru atau terlewat, akhirnya coba pesen Baked Spaghetti bolognaise (spaghetti with minced beef sauce, fresh sauce tomatoes, parmesan) 44.5K. Hmmm yummy gua suka, kejunya melimpah:)



Resto sendiri khas tempat nongkrong anak2 muda, terbukti kemaren kita pergi cukup ramai dan sayangnya tidak ada tempat terpisah antara smoking dengan non smoking area. Tapi bolehlah kalau sudah bingung atau bosen dengan makanan Bandung yang itu2 saja.

Percaya gak, si bocah makan lebih banyak dari kita secara pizza salah satu makanan favoritnya.

Jl. Eyckman No. 2, Bandung, Indonesia
+62 22 203051

Tuesday, February 07, 2012

Gereja Tulang di Kutna Hora

Kalau Karlovy Vary gua yakin gak ada di itenary tour manapun dari Indonesia, Kutna Hora beda lagi ceritanya. Rata2 yang pernah tour ke Praha pasti pernah ke sini lantaran ada suatu gereja dengan desain interior eksentrik!!

Dari Praha kita naik kereta api menuju Kutna Hora. Di stasiun KA beli tiket lancar, lha di keretanya dong. Di forum kan banyak yang bilang turun di stasiun sebelom Kutna Hora supaya lebih dekat ke destinasi yang kita inginkan. Kenyataannya?? Gak nemu stasiun yang dimaksud. Sempat kereta berhenti di suatu terminal yang agak gede, gua tanya ke beberapa penumpang KA penduduk lokal Ceko, apakah Kutna Hora turun di sana? Sementara yang lain pasang muka kebingungan, seorang ibu tua berseru seru, "ANO!! ANO!!". Dengan asumsi jawabnya adalah tidak, kita duduk kembali. Eh, si nenek ini secara harafiah tarik gua terus didorong keluar dari kereta persis tiga detik sebelum kereta jalan kembali. (beneran lho gua kaget nenek2 tp kuat amat).

Sementara gua masih kaget setengah mati dan mengira si nenek lost her mind, hubby sambil cengengesan baru bilang, "Oh, iya ANO kan artinya iya dalam bahasa Ceko!". Ternyata emang harus turun di sana baru naik lagi kereta yang lebih tua dan gerbongnya sedikit ke Kutna Hora. Beberapa saat setelah kita duduk santai di kereta berikut tersebut, baru deh terasa lucunya dan gak bisa berhenti tertawa.

Kereta yang dipakai spt ini, mirip KA di Indonesia!

Stasiunnya kecil

Bis kota minim dan jarak antara satu ke bus lain lama jadinya kita hampir selalu jalan kaki, sebagian jalanan yang masih kuno dan berbatu-batu. Kotanya sendiri tidak cantik seperti Karlovy Vary, mana terik dan jauh jadinya gua banyak berkeluh kesal sambil minta diseret hubby. Kalau sinetron Korea pasti deh gua digendong:)



Sepintas tentang kota ini, kota ini adalah kota tambang perak. Jadi ceritanya ada seorang rahib pemalas bernama Anton sedang tidur2an di jalan. Saat berbalik hampir saja mukanya tertusuk tiga bilah perak yang mencuat dari tanah. Menyadari hal itu adalah perak yang berharga, rahib tsb segera menutupnya dengan jubah (Kutna dalam bahasa Ceko). Tak lama kemudian terbukti perak yang mencuat hanyalah puncak gunung es dari sumber perak terkaya dan terbesar di Kerajaan Bohemia ini.

Tak heran, sebuah gereja khas Ceko yakni bernuansa gothic yang megah dibangun untuk Santo Barbora, yakni santo pelindung petambang. Gereja ini bener2 bagus banget arsitekturnya, gak heran sebenarnya yang masuk Unesco Heritage adalah gereja ini, bukan gereja tulang berikut (Sedlec Ossuary).

Jalan menuju katedral St. Barbora

Katedral St. Barbora

Setelah itu jalan ke gereja tulang!! Nah mau tau kenapa interior gereja ini dibuat dari sekitar 40.000-70.000 tulang belulang manusia? Yup, tulang asli ya bukan replika.

Jadi balik ke tahun1278, seorang kepala biara bernama Henry dikirim oleh Raja Bohemia saat itu ke tanah suci. Kembali ke biaranya, tak lupa ia membawa segenggam tanah dari bukit Golgota yang dia sebarin ke pekarangan biaranya. Kabar tersebut berhembus laksana api di musim kering, ternyata berduyun2, bahkan ribuan orang ingin dikubur di pekarangan biara.

Belum lagi setelah pandemik Black Death dan Perang Hussite, puluhan ribu orang di kubur di sini dan tentunya karena tempat dalam pemakaman yang tidak cukup bahkan setelah diperluas terus menerus, maka sebagian tulang belulang digali dan ditaruh dalam Ossuary ini.

Baru pada tahun 1870 seorang pengrajin kayu diminta menyusun tulang yang sudah sedemikian banyaknya menjadi interior yang indah. Tentu beauty is in the eye of beholder haha.. Menurut kalian indah atau seram?

Pendapat gua mungkin bias karena sejak semester tiga kan gua udah berteman akrab dengan tengkorak dan tulang belulang:) Masih ingat menjelang ujian praktikum Anatomi, betapa senangnya hati gua dipinjami tengkorak kepunyaan teman untuk gua pelajari di kos. Ngeri? Percayalah bagi mahasiswa kedokteran lebih mengerikan kalau harus ngulang mata kuliah Anatomi satu semester lagi.

Gereja tulang ini masuk ke itenary tour2 so selama gua di sana banyak banget rombongan tour dari berbagai tempat. Rata2 sih amazed dan foto2 sih, mungkin karena rame2 ya, entah kalau disuruh masuk satu persatu spt saat perpeloncoan:P Kalau gua justru nunggu sepi biar bisa puas foto2.

Kalau luarnya sih biasa aja

Mari masuk ke dalam :







Di sini di simpan tengkorak yang rusak karena luka kala perang


So what do you think?