Tuesday, November 18, 2014

Beauty and the Beast

Dari dulu gua tertarik dengan cerita-cerita Nazi dan gerakan antisemitnya. Bukan dalam pandangan politis tapi lebih ke cerita humanis. Dulu gua sampai bela-belain nyari buku Diary of Anne Frank (yang sekarang entah di mana), terus film-film semacam Schlinder's List selalu membuat gua terharu. Apalagi film Life is Beautiful sukses membuat gua nangis. Membayangkan betapa sedihnya dan sakitnya para tahanan tersebut akan tetapi juga betapa kuat dan tabah dan masih mampu mencintai dan melindungi orang yang mereka kasihi selalu membuat gua sesak.

Oleh karena itu sudah pasti gua gak akan melepaskan kesempatan mengunjungi Sachsenhausen Concentration Camp. Sebuah kamp konsentrasi Nazi yang cukup luas dan penting di jamannya. Letaknya gak persis di Berlin tapi sebuah kota kecil yaitu Oranienburg, sekitar 35 km di utara kota Berlin.

Para tahanan wajib melakukan Sachsenhausen salute yaitu squat jump dengan kedua tangan terentang ke depan. Sekitar 30.000 tahanan (ada sumber yang menulis 100.000) meninggal di sini. Ada yang karena kelaparan, sakit penyakit hingga penyiksaan berlatar percobaan medis baik operasi eksperimental hingga percobaan gas beracun yang dinamakan gas mustard. Gas ini akan menimbulkan luka bakar yang menyakitkan di paru-paru dan kulit apabila terkena.


 

Cerita tentang gas chamber
Meja otopsi, persis benar dengan meja saat gua co-ass, tentu dengan beda tujuan

Morgue
Nazi waktu itu juga mengajak para ilmuwan dan para donatur untuk menyumbang percobaan dan akhirnya prosedur sterilisasi paksa dan kastrasi pada remaja dan dewasa muda dengan alasan mereka tidak layak punya anak berasarkan ras, sosial dan biologis. Tentunya bagi mereka yang layak untuk prokreasi adalah ras Jerman saja.

 


Contoh kasus yang disterilisasi paksa
Playing God
Ada juga yang dites untuk menentukan rasnya sehingga dapat ditentukan nasibnya kemudian.
Diperiksa apakah merupakan keturunan Gypsi (salah satu minoritas yang harus dimusnahkan)

Medical block

Salah satu menara penjaga
Seperti yang gua tulis di fb, travelling tidak sekedar mencari beautiful sights tapi juga melihat dan mencari tahu sekelumit sejarah (kekelaman) di mana bisa terjadi kegilaan dan kekejaman massal.

Sebagai tambahan, kita ke sini itu masih dalam rangka strike jadi begitu sampai stasiun Oranienburg, kita naik taxi ke sini. Karena ngelihat banyak antrian taxi dekat pintu masuk kita lega karena artinya pulangnya nanti gampang. Eh, tak tahunya pas pulang semua antrian itu lagi menunggu penumpang masing-masing alias harusnya kita suruh taxi kita nunggu juga hiks.. 

Hubby mengusulkan kita jalan kaki saja balik ke stasiun yang letaknya jauuuuh, entah beberapa kilometer yang mikirinnya udah bikin gua mau nangis. Kaki juga masih sakit akibat sehari sebelumnya jalan 16 kilometer (menurut pedometer samsung gua). Habis itu gua bilang mau nebeng aja sama orang-orang yang bawa mobil. Hubby mengira gua bercanda dan dia jalan ke coffee shop untuk cari tahu info public transportation terdekat atau bisa gak pesen taxi di sana.

Posisi kita keluar memang dilewati oleh mobil-mobil yang keluar dari parking lot. Mobil pertama yang lewat langsung gua stop. Isinya suami istri lansia yang kelihatan kaget. Gua ajak ngomong Inggris, mereka jawabnya bahasa Jerman.. hiks hiks.. gak jadi deh. Gak berapa lama mobil kedua isinya dua wanita lansia, agak hopeless apakah mereka bisa bahasa Inggris atau tidak gua nekad aja stopin mobil mereka sambil melambai-lambai dengan heboh.

Begitu berhenti, gua pasang muka memelas sambil menjelaskan situasi kami, eh dua oma ini bener-bener malaikat habis lho. Langsung si pengemudi meloncat turun, bersihin bangku belakang mobil mini mereka yang penuh dengan coat, tumpukan groceries dan entah apa lagi. Gua gak sia-siakan kesempatan langsung teriakin hubby dan hampir menyeretnya naik karena hubby tampak kaget dan segan. Mereka tanya apakah kereta api yang bakal membawa kami ke Berlin jamnya sudah deket yang langsung gua bilang iya (which is somehow true tapi sebenarnya kereta itu akan datang tiap 20-30 menit). 

Si Oma pengemudi pasang gps Tom-tomnya tapi sayangnya stasiun kereta api gak ada di sistem pencarian, akhirnya entah dia masukin apa dan kita ngebut ke sana. Baru di atas mobil gua merasa gak enak hati sama mereka karena mereka ternyata bukan dari kota tersebut juga. Eh tahunya si oma baik hati banget. Dia bilang, "God must have sent you from heaven because now we have opportunity to go to city", soalnya kan camp ini letaknya di pinggiran kota Oranienburg. Sembari jalan, kita cerita-cerita tentang camp yang baru kita kunjungi.

Tahu gak setelah 15 menit ngebut yang mana gua udah curiga aja kok rasanya arahnya beda dengan arah kita datang tadi, ternyata kita diarahkan ke cemetary!! Untungnya mereka punya sense of humor yang tinggi dan kita malah jadi ngakak-ngakak. Mereka terus bilang, "Don't worry, we'll take you there on time".  Lanjut ke GPS ngaconya kita masih putar-putar dan tiba-tiba gua lihat ada bus dari arah berlawanan yang tulisannya hauptbahnhof alias stasiun!! Senang tak terkira kita langsung minta turun tapi sayangnya busnya keburu jalan. Kita disuruh naik lagi dan si oma muter balik, tancap gas sekuat-kuatnya dan berhasil nyusul si bus di halte berikut. Seperti di film-film, si oma bener-bener menghadang bus tersebut menyilang dan dia turun untuk tanya ke supir. 

Begitu tahu arahnya bener kita say thank you very much pada dua oma dan pindah ke bus yang sudah disambut senyum sama drivernya. Tumbenan biasa orang di Jerman disiplin dan tidak murah senyum. Mungkin sudah diwanti-wanti sama oma untuk antar kita dengan selamat. Sembari jalan kita dah dah pada dua wanita cantik yang sudah nolongin kita.

Untuk menghibur hubby yang masih gak enakan, gua bilang mungkin mereka juga senang lho bisa membantu kita, keliatan banget antusiasnya. Dan mungkin juga jadi cerita seru buat kehidupan mereka yang tenang. Gua bayangin mereka cerita ke keluarganya, "Tahu gak, tadi kita hampir nabrak seorang wanita Asia dengan rambut awut2an yang nyegat kita bla bla............................" :)

Sungguh ironi yang menyiram sukma, sehabis melihat kekejaman antar sesama, kita mendapat kesempatan melihat kebaikan hati manusia yang langsung menyentuh kehidupan kita hari itu.

Monday, November 17, 2014

Lost in the Past

Selama travelling gua sering ke museum. Mulai dari yang terkenal semacam Prado di Madrid sampai museum-museum spesifik seperti museum Freud di Vienna  atau museum Van Gogh di Amsterdam. Agak ironis emang, di Jakarta, gua aja jarang banget ke museum padahal udah punya niat bawa anak-anak ke museum tapi belum-belum juga.  Di Eropa museum-museum merupakan destinasi favorit, yang meski tiket masuknya cukup mahal tetap saja antriannya membludak.

Nah kalau museum lain umumnya lebih ke koleksi lukisan, keramik, perhiasan, koleksi seni dll, kali ini di Berlin ada museum yang istimewa banget yaitu museum Pergamon. Di sini kita bisa lihat fasade bangunan-bangunan arkeologis dunia.

Pertama masuk ke museum langsung disambut oleh Ishtar Gate yang megah. Pintu gerbang ini didirikan 2500 tahun yang lalu oleh Raja Nebukadnezar. Dievakuasi pada awal abad ke-20 dan direkonstruksi lagi menggunakan bata-bata asli. Gua di depan gerbang ini cukup lama sambil mendengarkan audio guide. Audio guidenya sangat informatif diimbuhi sound effect yang membuat gua membayangkan bagaimana perasaannya apabila gua dilahirkan pada jaman tersebut.


 Yang ini adalah Babylon Processional Way yaitu koridor sebelum kita memasuki Ishtar Gate di atas. Panjang asli koridor ini adalah 800 meter, tinggi 15 meter. Jadi ukuran aslinya sekitar lima kali lebar yang di museum ini dan jauh lebih tinggi dan megah.


Saat peradaban lain mungkin masih menggunakan kayu, lumpur, tanah liat peradaban Babylonia sudah menghasilkan sesuatu yang indah seperti ini :







Selanjutnya kita mengembara ke Miletus. Gua sempat nyari soal Miletus yang merupakan salah satu kerajaan Yunani kuno (sekarang di Turki). Miletus sempat disebut-sebut dalam Alkitab antara lain di Kisah Para Rasul 20 : 17-38 dimana Rasul Paulus  menasihati para panatua.

Foto di bawah adalah Market Gate of Milletus , sebuah gerbang marmer  yang dibangun abad ke2 Masehi.


Berikutnya lagi adalah Fasade dari kerajaan Yordania yaitu Mshatta Facade dari abad ke-8.  Fasade ini adalah bagian dari istana musim dingin yang kemudian sebagian hancur karena gempa bumi. Bagian yang terselamatkan kemudian dievakuasi dan diberikan sebagai hadiah dari Sultan Ottoman Abdul Hamid II kepada Kaisar Jerman Wilhelm II pada abad ke-19.


The beauty of Islamic Art

Salah satu ruangan di Aleppo (Syria)


Used to be a bath tube


Dan masih banyak lagi yang gak akan habis dilihat dan difoto. Berada beberapa jam di sini membuat gua merasa begitu kecil tapi juga begitu kaya. Maksudnya kecil di hadapan Tuhan yang sudah membentuk peradaban dari jaman dulu sampai entah kapan. Merasa kaya karena tersentuh dan terharu.... entah kenapa rasanya susah disampaikan melalui kata, apakah telah begitu beruntung karena telah menjadi bagian dari peradaban manusia.

Sayangnya manusia yang membangun, manusia pula yang merusak. Banyak artefak yang rusak karena invasi dari negara lain, agama lain, tradisi lain, nafsu lain. Sebagai satu conntoh,  sampai sekarang masih banyak perusakan stupa, arca Buddha di Afganistan. Dan ironisnya di museum Pergamon juga pernah terjadi, sudah susah payah dievakuasi dan direkonstruksi, museum ini juga tak luput dari kerusakan serangan udara saat Perang Dunia II. Coba ya semua manusia di dunia ini hidup tanpa kebencian, tanpa prasangka satu sama yang lain seperti yang gua lihat saat pengunjung-pengunjung museum Pergamon dari berbagai negara dan berbagai budaya maupun agama bersama tertegun kagum memandangi sisa peradaban-peradaban  yang diwariskan pada kita hari ini...


Sunday, November 09, 2014

Adrenaline Rush in Berlin

Oktober  kemarin gua ke Jerman dengan kota pertama Berlin. Baru kali ini ke Europe saat fall, biasanya kalau gak spring, summer. Ternyata dinginnya minta ampunnn deh. Padahal di Berlin ya belum turun snow tapi anginnya menusuk masuk ke tulang aja! Cuma good sidenya, gua baru kali ini ngelihat daun-daun berubah jadi merah, orange dan kuning, cantik banget.  

Berliner Dom


Hotel gua cukup bagus yaitu H10 di daerah Ku'damn yaitu tempat syoping-syoping yang mana ironis karena gua gak syoping sama sekali:P

H10
Charlottenburg Palace
 Gua seneng masuk ke dalam istana even tiketnya emang harganya gak sopan. Kalau kata temen-temen gua yang lain mending buat makan atau shopping, gua rasa pengalaman yang tak terlupakan dan tak tergantikan melongok isi istana dan membaca sejarahnya. Lihat betapa bagusnya salah satu ruangan yang dihiasi ribuan item keramik. Jaman itu Chinese style banyak diminati kerajaan-kerajaan Eropa dan dari sekian banyak istana yang gua masuki, selalu ada saja ruang yang didominasi keramik porselen seperti ini, meskipun ini yang paling spektakular.


Terus entah kenapa ya, setiap travelling gua selalu ada dramanya.. Pas di Ceko hampir salah stasiun dan didorong sama nenek-nenek, di Spain ada mogok massal, di Belanda dituker hotelnya ke tempat yang banyak mafia  dan sekarang ternyata  ada aja lagi! Masakan, gua nyampai, hari Sabtu dan Minggu hingga Senin subuh ada mogok masal lagi terutama kereta api (S bahn dan tram).

Masalahnya kita udah beli tiket online ke Sanssouci Palace (sama persis waktu itu juga udah beli tiket masuk Alhambra)! Harganya gak murah pula hampir 50 Euro berdua. Sebagai informasi Sanssouci ini letaknya di Postdam sekitar 1 jam saja dari Berlin cuma sayangnya transportasi yang tersedia cuma train.

Begitu mendapat kabar ada mogok nasional lagi dari para masinis, gua langsung ngerasa dejavu dan lemes. Tapi pagi itu kita tetap jalan ke Hauptbahnhof untuk mencari solusi karena di semua website ataupun map tidak ada alternatif transportasi lain. Ternyata antrian orang-orang di loket tiket maupun informasi sudah mengular panjang! Semuanya dengan muka bingung dan putus asa, gak sedikit yang ternyata udah membeli tiket antar kota online. Antrian maju dengan sangat lambat karena keliatan para petugas juga kewalahan memberikan solusi. 

Gua iseng ngajak cewek yang lagi antri di depan gua ngobrol. Eh, ternyata dia juga mau ke Postdam! Situasi dia lebih parah pula, karena dalam tiga jam lagi abangnya akan merit dan dia baru sampai naik plane dari kota lain. Karena dia orang lokal, gak lama dia ngobrol sama petugas lain yang lagi berdiri dekat loket. Dengar punya dengar ternyata solusi untuk ke Postdam adalah naik bus selama 2,5 jam, dan itupun muter-muter ke kota kecil entah apa dan harus ganti-ganti bus!! Duh, males banget ya, kita kan rencanya day trip dan banyak yang bisa dilihat di sana. Cewek tadi akhirnya keluar dari antrian dan dia mutusin naik taxi dan nawarin kita untuk sharing. Tentu kita dengan seneng hati deh, gak pa pa deh keluar 25 euro daripada batal. Sepanjang perjalanan ngobrol2 dan ternyata tak disangka mogok seperti itu bukan pertama kali. Padahal Jerman cukup kuat ya perekonomiannya. Tetap saja masinis di sana kurang puas dengan jam kerja dan gaji mereka. Belum lagi kabar yang bikin gua makin deg-degan karena Lufthansa juga sempet mogok hari-hari itu, gimana gua pulangnya coba kalau pas tanggal kepulangan mereka masih mogok?

Kita diturunkan persis di gerbang Sanssouci Palace, yang mana mepet banget dengan jam di tiket. Memang kebanyakan tempat wisata yang ramai menentukan slot waktu di dalam tiket, jadi kalau kita tidak muncul pada jam yang ditetapkan, otomatis kita gak bisa masuk lagi:P Syukurlah kita tiba tepat waktu karena dengan taxi perjalanan hanya 30 menit saja.






Nah yang disebut Sanssouci Park ini gedeee banget terdiri dari beberapa istana dan taman-tamannya. Tiket yang kita beli sudah tercakup semuanya, dan karena punya cukup banyak waktu, kita sempat ke beberapa istana lainnya.
Orangery Palace
Asyiknya pula karena strike itu, tempat wisata ini relatif sepi lho (untuk ukuran yang biasanya rame pol). Contohnya harusnya kalau langsung datang tanpa reservasi banyakan tidak akan kebagian tiket even untuk beberapa jam ke dpn tapi pas gua longok hari itu, masih ada sisa 20an tiket untuk jam yang sedang berlangsung. 

Puas banget akhirnya bisa sampai di sini meski masih khawatir soal pulangnya. Puji Tuhan pas pulangnya dapat kabar, ada satu line S bahn  mulai dioperasikan sore itu karena dianggap layanan basic dan kali ini ketemu lagi cowok dari sekitar Postdam yang mau ke Berlin. Dia cerita jalan dari rumahnya sejauh 6 km untuk sampai ke stasiun Postdam karena kereta yang lewat dekat rumahnya juga strike. Aduh strike ini bener-bener nyusahin banyak orang deh.

Begitulah pengalaman yang gua kira paling mendebarkan selama di sini, tapi ternyata petualangan belum usai...  (bersambung)

Thursday, September 04, 2014

Doctor's Life Part 2 episode Romance

Pasti yang ditunggu-tunggu teman-teman penggemar drakor episode ini hahaha.... Tapi sebenarnya di FK dan RS ada gak sih yang cakep-cakep macam Joo won, Mc Dreamy atau sesangar Gregory House? Adaaa dong. Tiap angkatan seperti juga di jurusan laen pasti ada juga. Tapi yang mengherankan biasanya kalau seangkatan malah kurang peminatnya. Misalnya kalau seangkatan rasanya kurang gimana gitu, yang pasti diidolakan itu kakak-kakak kelas. Apalagi kita yang piyik-piyik baru masuk, ngelihat kakak co-ass yang sudah pakai baju putih dan berkeliaran dengan stetoskop rasanya kagum aja. Gak cuma yang ganteng lho. Contohnya teman-teman cowok seangkatan gua yang tampangnya menurut gua cuma pas-pasan, tapi saat kita udah co-ass malah jadi bahan gosip dan incaran adik-adik kelas, Oh my! Siklus berulang jadinya ya, ternyata mahasiswa kedokteran yang gak dilirik teman seangkatan dan cuma bisa gigit jari saat teman-teman ceweknya lebih demen ama kakak kelas bisa terobati kekecewaannya setelah bertahun2 belajar dan kerja keras:) Sampai mikir apa jas putih itu ada peletnyakah haha.?

Nah kalau ke kakak kelas pengidolaannya masih bisa dikategorikan wajar meski ada sih yang sampai ngejar-ngejar gak jelas. Tapi kalau idola ke konsulen alias dokter spesialis senior kadang bisa go wild haha... Jadi ceritanya ada satu konsulen jaman gua yang tenar di antara co-ass2 cewek. Gua gak sebut spesialisasinya tapi yang pasti di bagian yang stressful dan menuntut  kita untuk belajar keras, mental baja, perut kuat untuk berliter-liter kopi karena setiap jaga praktis gak tidur selama 36 jam.

Gua juga bingung kenapa pada tergila-gila pada dokter ini. Dibilang cakep biasa aja, umur juga gak muda lagi ada deh 40an waktu itu. Memang gayanya cool habis persis Dr. Kim do Han di serial Good Doctor. Bukan cuma gayanya tapi pinternya ampun deh. Bisa dibilang dia itu text book berjalan dan perfeksionis. Tuh kurang  apa lagi? Oh, ya orangnya juga galak dan tidak bisa menerima kealpaan. Sudah tak terhitung berapa co-ass2 cantik yang nangis habis ronde (round) bersama. Pernah juga ada cerita status yang dibanting ke lantai saking dia frustrasi melihat cara anamnesa co-ass.

Herannya makin cool, makin galak kok makin diidam-idamkan ya? Apa pada makisme (suka disakiti)?  Selain cerita-cerita yang beredar, gua sebagai saksi langsung senior-senior gua begitu selesai ronda lompat-lompat histeris sambil ada yang tutup muka sama bantal, ada yang ketawa-ketiwi sendiri, ada yang langsung nyambar minum dari gelas si dr Kim (let's call him that). Gua sampai terperangah?! Hellooo, bukannya kita di Public Health malah bikin penyuluhan tentang pentingnya hygiene? Tapi katanya biar serasa ciuman bibir ama dr. Kim ?!!! Ooooh my, jangan ditiru ya sodara-sodara. 

Gua sendiri gimana? Seriously gua masih step on earth huaha..kebetulan teman barengan gua semua juga sensible dan rasional semua. Kebetulan lagi hati gua bercokol ama yang laen (gak usah dirincilah ya). Nah tapi ada juga akhirnya sedikit cerita ama konsulen alien ini.

Jadi kalau di bagian ini, karena namanya bagian Mayor maka kita kebagian 10 minggu di sini. Lima minggu sebagai junior terlebih dahulu dan sisanya naik pangkat jadi senior. Kalau sudah di co-ass tidak memandang umur atau angkatan lagi tapi seberapa cepat kita lulus sarjana kedokteran dan kadang juga rotasi. Jadi gak heran bisa aja junior gua adalah kakak-kakak kelas yang bertahun-tahun di atas gua.  Junior biasanya dapat tugas yang lebih tidak enak semacam pesuruh bolak balik lab (apalagi kalau ketemu senior yang jutek dan aji mumpung), disuruh tensi, ukur suhu nadi, disuruh observasi ketat dll. Tapi tanggung jawab lebih banyak di senior karena kalau sampai pasien bermasalah yang dicecar dan dimaki-maki pasti seniornya. (Satu pasien dipegang seorang senior dan seorang junior). Senior yang baik juga secara tak tertulis wajib menurunkan ilmu baik teori maupun praktek semacam hitung cairan, atur infus, pasang NGT etc etc. Prinsipnya berbahagialah kalau dapat senior yang pintar dan baik.

Jadi ceritanya minggu kelima gua sebagai junior, anak senior kalang kabut siapin pasien buat ujian. Kita yang junior cuma bantu sebisanya tapi tanggung jawab masih di tangan senior. Pagi-pagi itu gua dipanggil sama dua senior cewek sama satu senior cowok buat bantu mereka mem'beres'kan pasien (artinya pemeriksaan fisik dan tulis di status). Mereka lagi stres berat karena pengujinya dr Kim. Meskipun ngefans tapi yang namanya ujian rata-rata berdoa siang dan malam untuk dapat penguji laen selain beliau saking sadisnya kalau nguji.

Gak lama dr. Kim datang dan mereka pun masuk ke ruangan tempat pasien yang mau diuji berada. Gua dan teman-teman santai-santai di ruang bersama sambil ngerumpi nunggu konsulen lain yang mau visite (jenguk pasien). Gak sampai lima menit senior gua yang lagi ujian tahu-tahu menggubrak pintu dan teriakin gua supaya segera hadir. Lha kagetlah semua kita para junior termasuk senior yang gak ujian hari itu. Biasanya ujian justru sangat secretive dan confidential, mana boleh dilihat ama junior.

Sambil deg-degan dengan jantung mau copot dan dengkul gemetaran gua masuk dan di dr Kim, cuma angguk dikit dan suruh gua tunggu di samping situ. Habis itu gua lihat dong pembantaian demi pembantaian sambil berusaha pikir positif, saat gua belum tiba. Mungkin gua disuruh jadi saksi doang bahwa senior-senior gua gak bisa jawab.

Eh, tahu-tahu gua lagi ngelamun gitu, dr Kim kembali menggelegar dan tahu-tahu gua ditunjuk! Syukur pertanyaan pertama gua lolos! Kalau kata teman gua, gua hokinya tuh besaaar banget. Menurut gua sih gua punya insting yang so far so good haha.. Jadi kalau dosen kasih pertanyaan dan misalnya teman ada yang jawab ke arah A gua bisa lumayan membaca dosen itu setuju atau tidak, atau pun di tengah-tengah jawaban kalau air muka dosen jadi aneh dan tidak ramah pertanda jawaban kita pasti salah langsung boleh banting setir :) Terus satu lagi adalah giring dengan jawaban yang elo emang paham banget, jangan pernah menjawab dengan kepo sesuatu yang elo gak terlalu ngerti, itu namanya menggali kubur sendiri.

Pendek kata, gua sih berusaha balancing antara menyelamatkan diri dan jangan sampai menjatuhkan senior soalnya kan mereka yang ujian. Cuma asli udah serem aja dengerin tonenya yang dingin kalau senior salah jawab. Beberapa kali gua jawab ngaco alias pakai logika sendiri soalnya memang ilmu belum sampai level situ. Yang gua ingat ditanya kenapa kalau radang selaput otak tesnya pakai nekuk kaki pasien ke atas. Kalau kesakitan berarti positif. Apa hubungannya emang otak ada di dengkul???
Auuuuw, yang ada di test book dan diktat manalah diterangkan, langsung aja nama tes bla bla, gejala bla bla. Setelah senior tak berkutik, murkalah si dr Kim, katanya kalau sampai gak pada bisa, bubar saja ujiannya gak usah lanjutin. Habis itu giliran gua dipelototin. Hello? Dalam hati gua udah sumpah serapah siaaal emangnya gua juga ujiaaaan?!!

Pikir ayo pikirrr! Udahlah dengan pasrah gua pake logika teknik aja bahwa meningen (selaput) yang melapisi otak kan lanjut melapisi medula spinalis (saraf di tulang belakang), kalau dimanipulasi (saat kaki digerakkan) ya pasti terasa sakit juga. Syukur alhamdullilah bingo jawabannya itu, mungkin sih harusnya dengan kata-kata yang lebih sophisticated dan ke-textbook2-an tapi intinya begitulah.  habis itu gua jawab aja juga dibetulin dan mulai dipuji-puji sama dia, junior aja bisa gimana nih senior. Gua cuma berdoa habis itu gua gak dibully aja.

Nah, setelah moodnya membaik dia malah bagi2 ilmu. Terus waktu nerangin tentang vertigo dan nistagmus, masyaolloh, gua dijadiin manekin diputer2in terus dia pegangin pipi gua dua tangan dan meski beramai2 mereka lihatin deep to my eyes untuk lihat apakah ada nistagmus (pergerakan bola mata ritmik ke satu arah), gua cuma bisa lihat si dr Kim kok mukanya deket amat berbintang-bintang pula (yang sebenarnya lagi pusing). Otomatis muka gua panasss sodara-sodara, gak tahu deh udah kayak lampu merah belom.

Singkat cerita, karena moodnya bagus, tiga senior gua lulus dan mereka jumpalitan saking senang, gak jadi deh ngebully gua malah say thank you. Cewek yang satu rada jealous sih cerita-cerita ke temannya gua dipuji mulu terus dipegangin pipinya. Terus ada yang tanya, "Hari ini gak cuci muka dong?". Gua bilang cuci dong kalau gak jerawatan:P

Habis itu, kadar kekaguman gua sama dr Kim ya tetap segitu2 aja gak beralih jadi cinlok seperti yang lain haha... mungkin karena setelahnya timbul kejadian yang bikin gua gak sreg. Ada suatu kali dia mentreat teman sekelompok gua dengan  buruk padahal bukan salah teman gua sepenuhnya. Dia cuma mengikuti instruksi konsulen lain yang menurut dr. Kim sangat fatal kesalahannya dan  merugikan pasien. Gua kurang respek karena menurut gua dia harusnya tahu posisi kita sebagai co-ass yang kejepit bagai pelanduk di tengah. Kalau saja kasus ini terjadi di gua, gua mungkin bisa balik marah dan menyuruh dia gentleman dengan menghadapi konsulen lainnya kalau emang berani. Tapi kalau itu terjadi mungkin juga gua dikeluarin ya, secara kadang dalam clerkship prinsipnya telan semua kesalahan kalau mau selamat.

Terus selama co-ass elo bisa lihat 'ketampanan' dan 'kecantikan' orang yang sesungguhnya. Teman cowok yang cakep dan kita kira baik selama ini ternyata bisa menjadi orang yang egois, sikut sana sini asal dirinya selamat, tidak berempati sama sekali sama pasien. Sementara cowok yang tadinya gak dilirik bisa aja ternyata bukan cuma baik sama teman tapi pada perawat, care banget pada pasien dan keluarga pasien. Kalau mata batin sudah dibukakan banyak juga teman-teman gua akhirnya jadiannya jaman co-ass di bagian yang sama. Kalau kasusnya begitu gua berani jamin hubungan mereka kemungkinan akan langgeng karena sudah kelihatan asli sampai jeroan-jeroannya saat dalam tekanan.

Ceritanya ini memang lebih banyak pada saat kuliah dan co-ass karena paling lucu, unik dan berkesan. Jaman residen sih juga berkesan karena ada hubby di sana tapi off the record ah *tutup muka pake text book*. Kalau boleh tahu selama ini bayangan kalian giman? Kalau dokter galak pasti cool? kalau dokter cool pasti pintar? Kalau dokternya cakep pasti baik? Ada yang punya pengalaman sama dokter yang berkesan? Share ya............

Tuesday, September 02, 2014

Denzel turns 7


Tak terasa lagi setahun berlalu, Denzel sudah 7 tahun. Sudah bukan anak yang nempel terus ama gua. Kalau dulu, selalu bareng kan kalau sama-sama di rumah semisal gua di kamar pasti dia juga, kalau gua turun, dia tanya mau ke mana. Kalau sekarang tiba-tiba ngilang dicariin ternyata bersantai di kamar sendiri baca buku, main lego atau mobil-mobilan. Rasanya aneh aja hiks, padahal kalau di kamar misalnya main sama Diaz juga akibatnya pasti rusuh dan bikin gua ngomel-ngomel. Tapi giliran anaknya gak ada gua berasa sepi dan pengennya manggilin dia mulu:P

Urusan bertanya, anak ini nanya melulu. Kalau sudah dijawab ada pertanyaan lanjutannya. Waktu dia jadi suka baca buku Why gua kira urusan selesai tapi kadang-kadang dia masih bertanya juga sih yang gak dia ngerti tapi mendingan deh :)

Ngomongnya masih lucu meski gua lupa nih sekarang apa ya. Kalau dulu kan setiap ada yang lucu gua posting:) Yang pasti makin ngeyel dan kritis. Paling sebal pula kalau udah bawa, "Kata Miss harus begini, harus begitu!"
Kalau lagi pengen makan permen, "Kata Miss boleh, asal gak banyak-banyak."
Kalau disuruh bikin homework, "Kata Miss anak kecil di rumah harus istirahat, gak boleh kerja biar besok segar"

Beberapa bulan yang lalu waktu Denzel masih les kumon, dia tanya apakah gua waktu kecil juga les kumon. Errrrg, antara jawab tidak pasti dia minta berhenti langsung akhirnya gua bohong deh bilang iya dong.
Terus dia dengan santai nanya, "Kok mami sekarang hitung juga pakai kalkulator?" sambil nunjuk kalkulator di tangan gua.
 ".................",  pura-pura gak denger.
"Mami gak usah les kumon aja, kata Miss uang les beli kalkulator." Gedebuk! Memang akhirnya les kumon diberhentiin begitu masuk level D yang menurut gua ketinggian untuk kelas 1 SD dan tidak terlalu aplikatif karena hanya berupa pengulangan-pengulangan dan tidak terlalu mengasah logika berpikir. Kasian juga waktunya habis untuk pr kumon dan sejujurnya gua juga capek harus adu urat dan ngawasin dia bagai mata elang. Karena diam-diam tak bersuara dikira ngerjain pr ternyata udah di bawah leha-leha nonton tv.

Sama Diaz suka main bareng sampai berdua cekakak cekikik tapi sangat disarankan untuk ngawasin mereka bermain karena pernah Denzel ngangkat si Diaz yang ditarik kepalanya. Terus kalau udah kasar biasanya ada yang terinjak, tersikut dan ter-lain-lainnya yang mengundang air mata dd dan teriakan dramatis koko.."Kan aku gak sengajhaaaaa.... Kata miss, kalau gak sengajhaaa gak boleh dimarahin huhuhu....."

Tapi pada dasarnya dia koko yang baik. Kalau gua suaranya agak meninggi aja ama Diaz, dia buru-buru datang.  "Dede jangan dimarahin, kan masih kecil". Terus cium-ciumin Diaz.

Bersama adik yang sudah diminta sedari kecil
Bisa lari keluar pintu buat surprise in Diaz

Soal teledornya masih sama. Baru masuk dua hari sudah ketinggalan tas bekal makanan dan kehilangan dasi. Terus gua baru tahu lho rasa-rasanya wali kelas saat Denzel kelas1 itu sayang banget ama dia. Pantesan waktu pertemuan orang tua murid gua kan minta saran apa yang perlu diperhatikan untuk Denzel, katanya dengan semangat 45. "OOOooo gak ada, Bu. Si ganteng kita anak paling baik attitude di kelas, pinter pula." Mama manggut2 terharu. Denzel cerita si Miss kelas 1 suka peluk dan cium dia.

Jreng-jreng kelas 2, kemaren2 pulang bawa LKS (Lembar Kerja Siswa) yang dari 5 soal cuma disi 1 soal. Nilainya? 19 sodara-sodara.  Ditanya kenapa gak isi, senyum-senyum manis bilang time up. Terus ada yang gak isi sama sekali dan dapat telur bebek! Disuruh isi di rumah benar semua karena emang soalnya gampang.  Huaaaaaa... keinget waktu K2 sama placement test dia juga kasih kertas kosong karena sibuk liatin teman2. Gua rasa selama ini dia diingetin terus kalau lagi melamun waktu kelas 1. Setelah gua ancam pakai sistem reward and punishment (komiknya disita, weekend gak boleh  main tablet), syukurlah nilanya di atas 90 lagi semuanya. Denger-denger dari orang tua murid lain di sekolah Denzel memang begitu, miss kelas 2 lebih disiplin dan tegas. Apalagi mulai kelas 3 udah strict banget. Mudah-mudahan Denzel bisa lebih bertanggung jawab, gua heran kok nyokap gua gak stres hadapin gua dulu yang sama atau lebih parah dari Denzel. Minggu ini mulai ujian berderet dengan buku tematik yang menurut gua antik banget. Terus namanya juga cara berpikir tiap orang harusnya gak usah seragam kan? Contoh ada soal: Kalau ada tugas dari guru, saya mengerjakannya dengan....................... . Kalian jawab apa? Gua pikir jawabannya baik atau benar, tapi Denzel bilang pensil, hahaha.. tapi ya make sense juga sih. Gua bilang aja good job!

Soal kemandirian akibat tidak punya sus dan mbak selama sebulan *usap keringat*, Denzel jauh lebih mandiri. Mandi, gosok gigi, keramas, membersihkan diri habis BAB, memilih dan memakai baju sudah bisa sendiri meski  kadang gua  masih suka lihatin.

Oh, ya ada satu yang tersimpan dari jalan-jalan kemarin di HK. Malam-malam pulang dari mana gitu, biasa kita udah capek sementara baterai Denzel masih nyala dan sibuk celoteh sana-sini. Eh tahu- tahu dia nyelutuk gini. "Nanti kalau Mommy dan Daddy udah tua, Denzel mau bawa kalian jalan-jalan keluar negeri seperti  mommy udah bawa Pho-Pho dan Gung-gung." Doenggg... gua sampai terperanjat dan mama yang dengerin juga kaget. Duh speechless lho, gua ajak ortu jalan-jalan gak terbersit untuk nunjukin ke Denzel apalagi mengharapkan dia gimana. Tapi kadang anak kecil itu copycat itu bener banget ya.. Gua cuma berharap semoga langkah-langkah gua selama ini selalu di jalan yang benar, jangan sampai mislead anak-anak *elap elap mata*

Selamat ulang tahun Denzel yang sangat kita sayangi! Semoga juga Denzel yang hatinya baik akan tetap diberkati dan dituntun agar menjadi berkat bagi banyak orang...Amin.


Tetap minta tiup lilin lagi. Akhirnya makan keluarga di Restoran Angke karena kenyang kuenya dibawa pulang

Minta foto sama sus dan mbak juga
My sweet boy:)







Monday, August 25, 2014

Summer Holidays

Seperti gua pernah cerita sebelumnya, ortu gua suka travelling. Dan gua bercita-cita pengen ngajak mereka keliling dunia. Sebenarnya pas tahun lalu ke Kyoto, gua udah  ngajak ortu. Tapi ternyata waktu itu mereka udah planning ke China so gak jadi ikut. Terus  bulan Juni tahun ini gua ajak ke Hong Kong ternyata mau. Kali ini bener-bener pengalaman yang unik. Bawa anak kecil, bawa toddler dan bawa dua lansia:)selama 8 hari 7 malam berpetualang. HK sendiri sangat berkesan buat gua karena sedari kecil kan belom punya mimpi pergi jauh-jauh pasti pengennya ke HK aja.

Pertama pergi kelas 5 SD karena diiming-imingi kalau juara diajak ke HK, dan untuk pertama dan terakhir kali gua juara 1 huaha.. (mama gua syok karena 5 besar aja biasanya gak pernah), kedua kali sama teman2 SMA nginep di rumah sepupu gua, terus pas mau masuk coass dan saat seminar beberapa tahun yang lalu jadi gua sih cukup pede bisa menjelajah sendiri kemana-mana.

Untungnya juga ortu gua lumayan gampang adaptasi. Jalan kaki hayuk, makan apa aja hayuk. Cuma satu request papa gua yaitu minta tempat tinggal yang berada di pusat keramaian. Yang tadinya gua udah dapat apartemen yang bagus dengan harga reasonable di Causeway Bay terpaksa batal karena mereka prefer daerah Mong Kok.

Untuk pergi bareng keluarga besar begitu sih emang lebih enak dan ekonomis tinggal di apartemen. Gua pilih dan pesan di Airbnb. Cuma mungkin karena space yang mahal, rata-rata tempat tidur untuk double bed lebarnya cuma 137 cm:(  Cuma enaknya seperti gua bilang kemaren ada mesin cuci, rice cooker, kompor dan peralatan masak dan makan.  Apartemennya bersih dan securitynya ketat. Untuk masuk perlu pakai password dan ada uncle2 gantian jaga mengawasi CCTV. Cuma liftnya juga mungil pisan. Perlu dua kali naik untuk rombongan kita plus stroller.

Apartemen kita juga benar-benar hanya selangkah dari exit MTR. Sayangnya gak ada lift untuk exit MTR ke apartemennya melainkan tangga biasa jadi bisa dibayangin deh hubby yang angkatin stroller saban pulang dan pergi. Mungkin kalau exit MTR ke daerah lain kebanyakan udah pakai lift malah hiks. Mungkin daerah Mongkok udah tll crowded emang.

Overall sih  pengalaman yang menggembirakan terutama buat dua bocah. Let's explore with us!



The Peak
Avenue of Stars

Mie kuah satay enak banget
 Kata sepupu gua yang tinggal di HK, dari sekian banyak cabang Tim Ho Wan yang paling enak ada di Olympian City. Resto di sini juga lebih bagus dan besar.
Famous Tim Ho Wan
Aneka mie
Untuk selera emang beda-beda. Kita sempet ngejar restoran mie yang konon juga dapat michelin star tapi end up biasa aja, kita malah lebih senang gerai noodle dekat apartemen dengan kuah satenya.. Sluurrrp.Ada satu restoran shabu-shabu alias hot pot yang uenak banget, namanya Tao Heung. Ke sini habis pulang dari Macau jadi jam 9-10an malam dan masih full house gitu. Cckckckck orang HK demen makan banget. Sehabis makan malam dan sebelum tidur ada yang namanya xiao ye alias late supper. Gak heran ya gua selama seminggu di sana naik 2 kg padahal udah capek banget jalan kaki terus dan gendong si Diaz:P

Hanya ini yang kefoto, udah kalap  saking enak-enak
Catatan buat gua sendiri adalah cukup sekali aja datang ke daerah turis. Kapok sekapok-kapoknya ngantri sejam lebih untuk naik tram. Penuh dengan turis dari mancanegara tapi kebanyakan dari China. Turis tuh lebih sadis daripada penduduk lokal yang udah galak genetik. Pas gua naik ke tram kan sambil gendong Diaz karena hubby angkut stroller. Untung ada ortu yang jagain Denzel. Eh, rebutan naiknya parah lho. Kebetulan gua naik sama rombongan orang India yang tidak berbelas kasian even ngelihat gua gendong Diaz. Berbekal mental preman, gua sih survive naik ke atas tanpa insiden apa-apa cuma keinjek dan kecakar orang yang mau grab pegangan. Ada yang dorong, gua dorong balik. Berani sikut, gua sikut lebih kenceng huaha.. Nyokap yang kasian karena nyaris jatuh saking paniknya.

Tadinya juga mau ke Ngong Ping tapi seingat gua 3 tahun yang lalu ke Peak aja gak ngantri sekarang ngantri parah apalagi dulu ke Ngong Ping aja udah antri mengular juga. Kasian Denzel sih, tiap kali lihat iklan cable car selalu ingetin kita belom ke sana.

Denzel ultahnya kan selalu pas musim liburan, emang kalau masih Kinder dulu suka sedih karena gak bisa ngerayain di sekolah tapi kalau udah gede begini dia seneng luar biasa karena kita bisa pas-pasin waktunya ke Disneyland!!!




Birthday Boy
Waktu itu kita lihat ramalan cuaca HK memang tidak menguntungkan. Hampir tiap hari diramalkan hujan tapi untuk tgl 25 Juni hujan hanya pagi saja jadi kita nekad aja nyambangin Disney dengan pertimbangan kalau ditunda toh sama saja. Untung juga kita bawa payung dan banyak jas hujan sekali pakai.

So begitulah pas hujan kita buru-buru masuk ke wahana indoor. Karena ortu juga belom pernah ke Disney Hk mereka cukup enjoy. Kalau ke entertainment park begitu, gua selalu ambil buku panduan. Yang pasti lihat dulu ride apa yang popular (biasa ada tanda untuk fast pass) seperti Space Mountain dan antri di sana. Ada bagusnya juga mendung dan hujan karena pengujung tidak terlalu membludak.
Yang sempat kita enjoy antara lain The Golden Mickey Show, Mickey's Philarmagic, Tarzan's Tree House, Festival of the Lion King. Diaz juga anteng dan tenang-tenang aja nonton pertunjukan. Kadang karena ac yang dingin ketiduran juga di pangkuan gua.  Yang gak diremomenin adalah Utopia karena udah antriannya sejam, cuma nyetir gitu doang di rel tapi Denzel anehnya seneng banget.

Dan untunglah setelah lewat jam 12 matahari mulai bersinar dan artinya pertunjukan kembang apinya tidak dicancel:)


Sempet juga ke Macau day trip. Tadinya mau nginap tapi ribet bawa koper dan segala macam terus kita emang udah nyewa apartemennya 7 malam berturut. Enjoy juga sih even cuaca panassss minta ampun. Untung di belakang reruntuhan katedral St Paul ada museum kecil, lumayan buat ngadem.


Selebihnya dari mal ke mal, makan-makan, syoping-syoping. Sebrang apartemen gua ada Langham Plaza yang interiornya keren habis, escalatornya tinggi banget sampai gua cukup serem tuh naiknya. Overall kita seneng banget di HK, mudah2an ada kesempatan balik lagi kalau Diaz sudah lebih besar dan bisa menikmati.

"Mommy gak ajak makan-makan, gua ngemil stroller belt dulu dah"