Monday, December 08, 2014

Bandung for Animal Lovers

Dua minggu lalu kita ke Bandung. Berangkat Jumat malam karena Denzel masih sekolah dan masih les Yamaha dulu. Gua dan hubby juga kerja dulu karena udah keseringan cuti:P Kali ini kita nginap di Hotel Hyatt Regency di Jalan Sumatera. Hotel ini sudah berumur tapi masih cukup bagus. Kamar luas dengan karpet. Ada bath tube di kamar mandi.


Baby cot buat Diaz, baru sadar kayaknya Diaz udah kegedean, tapi anaknya tidur nyenyaaaak
Setelah ujian harian tiga minggu berturut gua pikir minggu berikutnya adalah minggu tenang sebelum UAS. Ternyata rekor deh ujian berturut selama empat minggu disusul tanpa henti oleh UAS. Syedap, tapi holidays must go on dan seperti kata Denzel kalau mau nilai 100 kan harus nginap di hotel dahulu :P
Belajar dulu sebelum jalan-jalan
Cakep-cakep pakai sandal siapa?
 Breakfast yang menurut hubby dulu sangat lezat sekarang biasa-biasa aja. Standar tapi kurang lengkap di sana sini. Contoh ada pancake dan waffle tapi gak ada selai coklatnya terus gak ada yoghurt meskipun ada paapan namanya selama dua hari.

Untungnya si mochi suka dan lumayan lahap

Apalagi yang satu ini, tiap hari ambil sosis tiga biji dan makannya menikmati banget
Masih pakai piyama karena mau berenang habis breakfast
 Ada kids club juga meski gak bagus-bagus amat tapi lumayanlah yang penting bersih. Terus uniknya ada gamelan, angklung, dan congklak. Lumayan buat kasih tahu Denzel wujud congklak setelah dia ribut nanya saat belajar permainan tradisional untuk pelajaran Pkn. Sayangnya sport club ini gak ada petugasnya lho. Waktu itu kan kita berenang tapi hanya sebentar terus hujan turun lebat. Otomatis banyak yang lari berteduh ke sport club termasuk anak-anak dan basah deh lantainya. Takut Diaz tergelincir kita umpetin dia ke tempat mandi bola tapi dalam sekejab si bocah lari mau nyusul Denzel ke tempat gamelan dan karena lantai sana sini licin, terbanting deh ke lantai :( Kita mau ngelapin lantai juga sulit gak punya kainnya.

Selain berpuas-puas di hotel, kita juga nyempetin diri jalan-jalan ke Museum Geologi. Iya bener ke museum :) Ok, emang gua merasa agak guilty feeling karena di Indonesia hampir tidak pernah ke museum apalagi mengajak anak-anak. Oleh sebab itu setelah searching sana-sini kayaknya museum Geologi di Bandung ini cukup menarik dan mudah-mudahan menjadi a good start untuk wisata museum-museum selanjutnya.


Turns out museum ini cukup bagus. Cocoklah sama anak yang curiositynya tinggi seperti Denzel.

Takjub dengan kerangka gajah purba



Mengagumi kerangka kerbau purba

Sampai garuk kepala lihat kerangka T rex
Lantai satu dengan segala era kehidupan manusia dan fosil-fosilnya. Tempatnya agak panas karena tidak pakai AC yang sangat gua maklumin dengan harga tiket gak sampai goceng. Eh, tapi ternyata saat kita naik ke Lantai 2 tempatnya lumayan bagus dan berAC. Ada berbagai macam jenis mineral, seksi bencana yang paling diminati Denzel seperti video edukasi tentang longsor, tsunami, gempa bumi dan letusan gunung berapi. Khusus untuk gempa bumi ada stimulasinya yaitu satu panggung di mana kita bisa merasakan gempa bumi. Hampir sama seperti yang di Jatim Park.

Sayangnya tempatnya gelap jadi foto-foto agak kabur. Terus lift menuju lantai 2 benar-benar mini, hanya bisa ngangkut dua orang yang agak kurus atau satu orang gendut (bukan hiperbola). Alhasil sudah pasti stroller Diaz gak bisa naik dan dia sedang pulas pula di stroller. Kita tadinya cuma mau di atas bentar ninggalin Diaz di bawah dengan BSnya eh tak tahunya Denzel enggan pulang jadi mungkin ada sejam di atas.

Ki-Ka : Meneliti batu-batuan, melihat aneka minyak dan motor asli yang dievakuasi dari letusan gunung berapi

 Diaz anak yang suka pada binatang. Suka pakai bangett! Jadi kalau jalan-jalan tiap pagi dan sore di taman  dan ketemu dengan anjing, dia akan senang bilang guk-guk sambil tunjuk-tunjuk. Meskipun  anjing-anjing tetangga-tetangga gua kadang-kadang termasuk anjing yang menyeramkan semacam pitbull, german sheperd, rotweiler. Diaz tuh gak ada gentarnya meski kadang gonggongan anjing-sekalipun dalam kandang nyaris bikin hati gua mau copot.  Begitu juga sama kucing, kalau sampai lihat kucing pasti dikejar trus mau dipegang yang tentunya dilarang.

Oleh sebab itu gua langsung pengen ajak dia ke Laktasari Farm di PVJ. Tiket per anak Rp.60.000 boleh didampingi satu orang dewasa dan dapat sekeranjang sayur + wortel dan sebotol susu untuk anak kambing. Tadinya BS agak khawatir Diaz bakalan takut karena ini kan bukan binatang yang dia sering lihat sehari-hari. Aiiiih, ternyata happynya gak ketulungan. Duh, anak ini penyayang binatang bukan kepalang. Kepala anak domba, anak sapi diusap-usap, kelinci diusap-usap, bahkan tahu-tahu lari ke gudang dimana ada dua anjing Siberian Husky juga hampir dipegang kalau gak kita cegah.

So happy..
Nyuapin daun ke anak domba


Denzel juga gak kalah antusiasnya, dia udah bisa kasih minum anak sapi pakai botol yang lebih besar. Untuk susu ini ataupun mau tambahan sayur/ wortel/ susu harganya Rp. 5000/ porsi. Awalnya gua gak tahu boleh beli lagi, jadi begitu Diaz tahu keranjangnya kosong, tanpa malu-malu dia ngekorin anak lain yang jauh lebih gede dan menjulurkan tangan untuk minta... haha... anak ini emang pede habis. Terus sama tante yang jaga dikasih sedikit eh dia bolak balik minta lagi lho sama si tante itu berkali-kali dan dikasih mulu, mungkin karena Diaz cute hihi...

Old McDenzel


Sebenarnya Laktasari farm ini mini nian, tapi namanya buat anak-anak apalagi Diaz udah puas banget. Beneran gak mau udahan sampai harus dibopong paksa. Oh, ya pulangnya dapat dua susu segar sapi. Susunya enak, langsung dihabisin oleh dua bocah.

Pulang dari sana, Denzel ribut minta masuk ke Bird Park yang ada di seberangnya. Gua rada males karena kalau dibandingkan Jatim Park kecil dan kurang lengkap. Tapi karena si bocah memelas terus akhirnya kita masuk juga deh. Tiketnya Rp. 50.000 baik untuk anak maupun dewasa sudah termasuk keranjang makanan lengkap (potongan buah+ daging+ biji-bijian+umbi2an+ jangkrik).  Diaz karena masih di bawah umur 2 tahun free. Ternyata selain aneka burung ada kelinci, kancil dan kura-kura.

Di sini si bocah kecil juga nunjukin keberanian yang cukup mencengangkan. Gua aja terus terang seram sama beberapa jenis burung macam si Senor tucan itu. Sebenarnya sih tahu gak papa ya, tapi paruhnya itu...

Brave boy
Nah gua baru tahu kancil bentuknya seperti ini

Maunya nyuapin pake tangan gak mau pakai tusuk lidi lagi:P
 

Masalahnya karena datang saat weekend adalah kelinci-kelinci, kura-kura sudah kekenyangan dan menolak disuapin haha.. Untungnya burung-burung kayaknya tidak mengenal lapar.. Di sini juga lama karena bolak balik minta beli lagi biji-bijian. Ada trik supaya burung-burung mau hinggap di tangan kita yaitu dekatkan dahulu tangan kita yang penuh biji ke lantai, ntar mereka akan lompat dan hinggap di tangan kadang sekaligus banyak. Tapi gak semua anak suka sih, karena kan cengkramannya agak sakit atau geli2 gitu. Selama di sana gua lihat banyak anak yang awalnya senang akhirnya nangis sampai yang nangis dari awal mungkin karena fobia. Yang mengherankan mamanya tidak mau keluar lho, mungkin pikirnya sudah bayar mahal jadi tetap duduk di dalam, sambil dua anaknya nangis histeris setiap burung-burung meloncat ke arah kaki mereka jadi petugas yang sibuk ngusirin burung-burung.

Dan tentunya si Diaz selalu jadi contoh ortu yang anaknya takut atau menangis, tuh adik kecil aja berani dan beberapa bocah langsung diam dan akhirnya jadi berani:) Padahal namanya anak-anak yang ditakuti mah beda-beda. Diaz masih rada takut air contohnya sampai sekarang:P

Yang pasti holidays kali ini sangat mengesankan buat anak-anak. Setiap kali Diaz lihat video saat ia nyuapin little lamb masih ketawa ketiwi kesenangan.

Beautiful woodpecker

Mengamati burung

Tuesday, November 18, 2014

Beauty and the Beast

Dari dulu gua tertarik dengan cerita-cerita Nazi dan gerakan antisemitnya. Bukan dalam pandangan politis tapi lebih ke cerita humanis. Dulu gua sampai bela-belain nyari buku Diary of Anne Frank (yang sekarang entah di mana), terus film-film semacam Schlinder's List selalu membuat gua terharu. Apalagi film Life is Beautiful sukses membuat gua nangis. Membayangkan betapa sedihnya dan sakitnya para tahanan tersebut akan tetapi juga betapa kuat dan tabah dan masih mampu mencintai dan melindungi orang yang mereka kasihi selalu membuat gua sesak.

Oleh karena itu sudah pasti gua gak akan melepaskan kesempatan mengunjungi Sachsenhausen Concentration Camp. Sebuah kamp konsentrasi Nazi yang cukup luas dan penting di jamannya. Letaknya gak persis di Berlin tapi sebuah kota kecil yaitu Oranienburg, sekitar 35 km di utara kota Berlin.

Para tahanan wajib melakukan Sachsenhausen salute yaitu squat jump dengan kedua tangan terentang ke depan. Sekitar 30.000 tahanan (ada sumber yang menulis 100.000) meninggal di sini. Ada yang karena kelaparan, sakit penyakit hingga penyiksaan berlatar percobaan medis baik operasi eksperimental hingga percobaan gas beracun yang dinamakan gas mustard. Gas ini akan menimbulkan luka bakar yang menyakitkan di paru-paru dan kulit apabila terkena.


 

Cerita tentang gas chamber
Meja otopsi, persis benar dengan meja saat gua co-ass, tentu dengan beda tujuan

Morgue
Nazi waktu itu juga mengajak para ilmuwan dan para donatur untuk menyumbang percobaan dan akhirnya prosedur sterilisasi paksa dan kastrasi pada remaja dan dewasa muda dengan alasan mereka tidak layak punya anak berasarkan ras, sosial dan biologis. Tentunya bagi mereka yang layak untuk prokreasi adalah ras Jerman saja.

 


Contoh kasus yang disterilisasi paksa
Playing God
Ada juga yang dites untuk menentukan rasnya sehingga dapat ditentukan nasibnya kemudian.
Diperiksa apakah merupakan keturunan Gypsi (salah satu minoritas yang harus dimusnahkan)

Medical block

Salah satu menara penjaga
Seperti yang gua tulis di fb, travelling tidak sekedar mencari beautiful sights tapi juga melihat dan mencari tahu sekelumit sejarah (kekelaman) di mana bisa terjadi kegilaan dan kekejaman massal.

Sebagai tambahan, kita ke sini itu masih dalam rangka strike jadi begitu sampai stasiun Oranienburg, kita naik taxi ke sini. Karena ngelihat banyak antrian taxi dekat pintu masuk kita lega karena artinya pulangnya nanti gampang. Eh, tak tahunya pas pulang semua antrian itu lagi menunggu penumpang masing-masing alias harusnya kita suruh taxi kita nunggu juga hiks.. 

Hubby mengusulkan kita jalan kaki saja balik ke stasiun yang letaknya jauuuuh, entah beberapa kilometer yang mikirinnya udah bikin gua mau nangis. Kaki juga masih sakit akibat sehari sebelumnya jalan 16 kilometer (menurut pedometer samsung gua). Habis itu gua bilang mau nebeng aja sama orang-orang yang bawa mobil. Hubby mengira gua bercanda dan dia jalan ke coffee shop untuk cari tahu info public transportation terdekat atau bisa gak pesen taxi di sana.

Posisi kita keluar memang dilewati oleh mobil-mobil yang keluar dari parking lot. Mobil pertama yang lewat langsung gua stop. Isinya suami istri lansia yang kelihatan kaget. Gua ajak ngomong Inggris, mereka jawabnya bahasa Jerman.. hiks hiks.. gak jadi deh. Gak berapa lama mobil kedua isinya dua wanita lansia, agak hopeless apakah mereka bisa bahasa Inggris atau tidak gua nekad aja stopin mobil mereka sambil melambai-lambai dengan heboh.

Begitu berhenti, gua pasang muka memelas sambil menjelaskan situasi kami, eh dua oma ini bener-bener malaikat habis lho. Langsung si pengemudi meloncat turun, bersihin bangku belakang mobil mini mereka yang penuh dengan coat, tumpukan groceries dan entah apa lagi. Gua gak sia-siakan kesempatan langsung teriakin hubby dan hampir menyeretnya naik karena hubby tampak kaget dan segan. Mereka tanya apakah kereta api yang bakal membawa kami ke Berlin jamnya sudah deket yang langsung gua bilang iya (which is somehow true tapi sebenarnya kereta itu akan datang tiap 20-30 menit). 

Si Oma pengemudi pasang gps Tom-tomnya tapi sayangnya stasiun kereta api gak ada di sistem pencarian, akhirnya entah dia masukin apa dan kita ngebut ke sana. Baru di atas mobil gua merasa gak enak hati sama mereka karena mereka ternyata bukan dari kota tersebut juga. Eh tahunya si oma baik hati banget. Dia bilang, "God must have sent you from heaven because now we have opportunity to go to city", soalnya kan camp ini letaknya di pinggiran kota Oranienburg. Sembari jalan, kita cerita-cerita tentang camp yang baru kita kunjungi.

Tahu gak setelah 15 menit ngebut yang mana gua udah curiga aja kok rasanya arahnya beda dengan arah kita datang tadi, ternyata kita diarahkan ke cemetary!! Untungnya mereka punya sense of humor yang tinggi dan kita malah jadi ngakak-ngakak. Mereka terus bilang, "Don't worry, we'll take you there on time".  Lanjut ke GPS ngaconya kita masih putar-putar dan tiba-tiba gua lihat ada bus dari arah berlawanan yang tulisannya hauptbahnhof alias stasiun!! Senang tak terkira kita langsung minta turun tapi sayangnya busnya keburu jalan. Kita disuruh naik lagi dan si oma muter balik, tancap gas sekuat-kuatnya dan berhasil nyusul si bus di halte berikut. Seperti di film-film, si oma bener-bener menghadang bus tersebut menyilang dan dia turun untuk tanya ke supir. 

Begitu tahu arahnya bener kita say thank you very much pada dua oma dan pindah ke bus yang sudah disambut senyum sama drivernya. Tumbenan biasa orang di Jerman disiplin dan tidak murah senyum. Mungkin sudah diwanti-wanti sama oma untuk antar kita dengan selamat. Sembari jalan kita dah dah pada dua wanita cantik yang sudah nolongin kita.

Untuk menghibur hubby yang masih gak enakan, gua bilang mungkin mereka juga senang lho bisa membantu kita, keliatan banget antusiasnya. Dan mungkin juga jadi cerita seru buat kehidupan mereka yang tenang. Gua bayangin mereka cerita ke keluarganya, "Tahu gak, tadi kita hampir nabrak seorang wanita Asia dengan rambut awut2an yang nyegat kita bla bla............................" :)

Sungguh ironi yang menyiram sukma, sehabis melihat kekejaman antar sesama, kita mendapat kesempatan melihat kebaikan hati manusia yang langsung menyentuh kehidupan kita hari itu.

Monday, November 17, 2014

Lost in the Past

Selama travelling gua sering ke museum. Mulai dari yang terkenal semacam Prado di Madrid sampai museum-museum spesifik seperti museum Freud di Vienna  atau museum Van Gogh di Amsterdam. Agak ironis emang, di Jakarta, gua aja jarang banget ke museum padahal udah punya niat bawa anak-anak ke museum tapi belum-belum juga.  Di Eropa museum-museum merupakan destinasi favorit, yang meski tiket masuknya cukup mahal tetap saja antriannya membludak.

Nah kalau museum lain umumnya lebih ke koleksi lukisan, keramik, perhiasan, koleksi seni dll, kali ini di Berlin ada museum yang istimewa banget yaitu museum Pergamon. Di sini kita bisa lihat fasade bangunan-bangunan arkeologis dunia.

Pertama masuk ke museum langsung disambut oleh Ishtar Gate yang megah. Pintu gerbang ini didirikan 2500 tahun yang lalu oleh Raja Nebukadnezar. Dievakuasi pada awal abad ke-20 dan direkonstruksi lagi menggunakan bata-bata asli. Gua di depan gerbang ini cukup lama sambil mendengarkan audio guide. Audio guidenya sangat informatif diimbuhi sound effect yang membuat gua membayangkan bagaimana perasaannya apabila gua dilahirkan pada jaman tersebut.


 Yang ini adalah Babylon Processional Way yaitu koridor sebelum kita memasuki Ishtar Gate di atas. Panjang asli koridor ini adalah 800 meter, tinggi 15 meter. Jadi ukuran aslinya sekitar lima kali lebar yang di museum ini dan jauh lebih tinggi dan megah.


Saat peradaban lain mungkin masih menggunakan kayu, lumpur, tanah liat peradaban Babylonia sudah menghasilkan sesuatu yang indah seperti ini :







Selanjutnya kita mengembara ke Miletus. Gua sempat nyari soal Miletus yang merupakan salah satu kerajaan Yunani kuno (sekarang di Turki). Miletus sempat disebut-sebut dalam Alkitab antara lain di Kisah Para Rasul 20 : 17-38 dimana Rasul Paulus  menasihati para panatua.

Foto di bawah adalah Market Gate of Milletus , sebuah gerbang marmer  yang dibangun abad ke2 Masehi.


Berikutnya lagi adalah Fasade dari kerajaan Yordania yaitu Mshatta Facade dari abad ke-8.  Fasade ini adalah bagian dari istana musim dingin yang kemudian sebagian hancur karena gempa bumi. Bagian yang terselamatkan kemudian dievakuasi dan diberikan sebagai hadiah dari Sultan Ottoman Abdul Hamid II kepada Kaisar Jerman Wilhelm II pada abad ke-19.


The beauty of Islamic Art

Salah satu ruangan di Aleppo (Syria)


Used to be a bath tube


Dan masih banyak lagi yang gak akan habis dilihat dan difoto. Berada beberapa jam di sini membuat gua merasa begitu kecil tapi juga begitu kaya. Maksudnya kecil di hadapan Tuhan yang sudah membentuk peradaban dari jaman dulu sampai entah kapan. Merasa kaya karena tersentuh dan terharu.... entah kenapa rasanya susah disampaikan melalui kata, apakah telah begitu beruntung karena telah menjadi bagian dari peradaban manusia.

Sayangnya manusia yang membangun, manusia pula yang merusak. Banyak artefak yang rusak karena invasi dari negara lain, agama lain, tradisi lain, nafsu lain. Sebagai satu conntoh,  sampai sekarang masih banyak perusakan stupa, arca Buddha di Afganistan. Dan ironisnya di museum Pergamon juga pernah terjadi, sudah susah payah dievakuasi dan direkonstruksi, museum ini juga tak luput dari kerusakan serangan udara saat Perang Dunia II. Coba ya semua manusia di dunia ini hidup tanpa kebencian, tanpa prasangka satu sama yang lain seperti yang gua lihat saat pengunjung-pengunjung museum Pergamon dari berbagai negara dan berbagai budaya maupun agama bersama tertegun kagum memandangi sisa peradaban-peradaban  yang diwariskan pada kita hari ini...


Sunday, November 09, 2014

Adrenaline Rush in Berlin

Oktober  kemarin gua ke Jerman dengan kota pertama Berlin. Baru kali ini ke Europe saat fall, biasanya kalau gak spring, summer. Ternyata dinginnya minta ampunnn deh. Padahal di Berlin ya belum turun snow tapi anginnya menusuk masuk ke tulang aja! Cuma good sidenya, gua baru kali ini ngelihat daun-daun berubah jadi merah, orange dan kuning, cantik banget.  

Berliner Dom


Hotel gua cukup bagus yaitu H10 di daerah Ku'damn yaitu tempat syoping-syoping yang mana ironis karena gua gak syoping sama sekali:P

H10
Charlottenburg Palace
 Gua seneng masuk ke dalam istana even tiketnya emang harganya gak sopan. Kalau kata temen-temen gua yang lain mending buat makan atau shopping, gua rasa pengalaman yang tak terlupakan dan tak tergantikan melongok isi istana dan membaca sejarahnya. Lihat betapa bagusnya salah satu ruangan yang dihiasi ribuan item keramik. Jaman itu Chinese style banyak diminati kerajaan-kerajaan Eropa dan dari sekian banyak istana yang gua masuki, selalu ada saja ruang yang didominasi keramik porselen seperti ini, meskipun ini yang paling spektakular.


Terus entah kenapa ya, setiap travelling gua selalu ada dramanya.. Pas di Ceko hampir salah stasiun dan didorong sama nenek-nenek, di Spain ada mogok massal, di Belanda dituker hotelnya ke tempat yang banyak mafia  dan sekarang ternyata  ada aja lagi! Masakan, gua nyampai, hari Sabtu dan Minggu hingga Senin subuh ada mogok masal lagi terutama kereta api (S bahn dan tram).

Masalahnya kita udah beli tiket online ke Sanssouci Palace (sama persis waktu itu juga udah beli tiket masuk Alhambra)! Harganya gak murah pula hampir 50 Euro berdua. Sebagai informasi Sanssouci ini letaknya di Postdam sekitar 1 jam saja dari Berlin cuma sayangnya transportasi yang tersedia cuma train.

Begitu mendapat kabar ada mogok nasional lagi dari para masinis, gua langsung ngerasa dejavu dan lemes. Tapi pagi itu kita tetap jalan ke Hauptbahnhof untuk mencari solusi karena di semua website ataupun map tidak ada alternatif transportasi lain. Ternyata antrian orang-orang di loket tiket maupun informasi sudah mengular panjang! Semuanya dengan muka bingung dan putus asa, gak sedikit yang ternyata udah membeli tiket antar kota online. Antrian maju dengan sangat lambat karena keliatan para petugas juga kewalahan memberikan solusi. 

Gua iseng ngajak cewek yang lagi antri di depan gua ngobrol. Eh, ternyata dia juga mau ke Postdam! Situasi dia lebih parah pula, karena dalam tiga jam lagi abangnya akan merit dan dia baru sampai naik plane dari kota lain. Karena dia orang lokal, gak lama dia ngobrol sama petugas lain yang lagi berdiri dekat loket. Dengar punya dengar ternyata solusi untuk ke Postdam adalah naik bus selama 2,5 jam, dan itupun muter-muter ke kota kecil entah apa dan harus ganti-ganti bus!! Duh, males banget ya, kita kan rencanya day trip dan banyak yang bisa dilihat di sana. Cewek tadi akhirnya keluar dari antrian dan dia mutusin naik taxi dan nawarin kita untuk sharing. Tentu kita dengan seneng hati deh, gak pa pa deh keluar 25 euro daripada batal. Sepanjang perjalanan ngobrol2 dan ternyata tak disangka mogok seperti itu bukan pertama kali. Padahal Jerman cukup kuat ya perekonomiannya. Tetap saja masinis di sana kurang puas dengan jam kerja dan gaji mereka. Belum lagi kabar yang bikin gua makin deg-degan karena Lufthansa juga sempet mogok hari-hari itu, gimana gua pulangnya coba kalau pas tanggal kepulangan mereka masih mogok?

Kita diturunkan persis di gerbang Sanssouci Palace, yang mana mepet banget dengan jam di tiket. Memang kebanyakan tempat wisata yang ramai menentukan slot waktu di dalam tiket, jadi kalau kita tidak muncul pada jam yang ditetapkan, otomatis kita gak bisa masuk lagi:P Syukurlah kita tiba tepat waktu karena dengan taxi perjalanan hanya 30 menit saja.






Nah yang disebut Sanssouci Park ini gedeee banget terdiri dari beberapa istana dan taman-tamannya. Tiket yang kita beli sudah tercakup semuanya, dan karena punya cukup banyak waktu, kita sempat ke beberapa istana lainnya.
Orangery Palace
Asyiknya pula karena strike itu, tempat wisata ini relatif sepi lho (untuk ukuran yang biasanya rame pol). Contohnya harusnya kalau langsung datang tanpa reservasi banyakan tidak akan kebagian tiket even untuk beberapa jam ke dpn tapi pas gua longok hari itu, masih ada sisa 20an tiket untuk jam yang sedang berlangsung. 

Puas banget akhirnya bisa sampai di sini meski masih khawatir soal pulangnya. Puji Tuhan pas pulangnya dapat kabar, ada satu line S bahn  mulai dioperasikan sore itu karena dianggap layanan basic dan kali ini ketemu lagi cowok dari sekitar Postdam yang mau ke Berlin. Dia cerita jalan dari rumahnya sejauh 6 km untuk sampai ke stasiun Postdam karena kereta yang lewat dekat rumahnya juga strike. Aduh strike ini bener-bener nyusahin banyak orang deh.

Begitulah pengalaman yang gua kira paling mendebarkan selama di sini, tapi ternyata petualangan belum usai...  (bersambung)