Thursday, September 04, 2014

Doctor's Life Part 2 episode Romance

Pasti yang ditunggu-tunggu teman-teman penggemar drakor episode ini hahaha.... Tapi sebenarnya di FK dan RS ada gak sih yang cakep-cakep macam Joo won, Mc Dreamy atau sesangar Gregory House? Adaaa dong. Tiap angkatan seperti juga di jurusan laen pasti ada juga. Tapi yang mengherankan biasanya kalau seangkatan malah kurang peminatnya. Misalnya kalau seangkatan rasanya kurang gimana gitu, yang pasti diidolakan itu kakak-kakak kelas. Apalagi kita yang piyik-piyik baru masuk, ngelihat kakak co-ass yang sudah pakai baju putih dan berkeliaran dengan stetoskop rasanya kagum aja. Gak cuma yang ganteng lho. Contohnya teman-teman cowok seangkatan gua yang tampangnya menurut gua cuma pas-pasan, tapi saat kita udah co-ass malah jadi bahan gosip dan incaran adik-adik kelas, Oh my! Siklus berulang jadinya ya, ternyata mahasiswa kedokteran yang gak dilirik teman seangkatan dan cuma bisa gigit jari saat teman-teman ceweknya lebih demen ama kakak kelas bisa terobati kekecewaannya setelah bertahun2 belajar dan kerja keras:) Sampai mikir apa jas putih itu ada peletnyakah haha.?

Nah kalau ke kakak kelas pengidolaannya masih bisa dikategorikan wajar meski ada sih yang sampai ngejar-ngejar gak jelas. Tapi kalau idola ke konsulen alias dokter spesialis senior kadang bisa go wild haha... Jadi ceritanya ada satu konsulen jaman gua yang tenar di antara co-ass2 cewek. Gua gak sebut spesialisasinya tapi yang pasti di bagian yang stressful dan menuntut  kita untuk belajar keras, mental baja, perut kuat untuk berliter-liter kopi karena setiap jaga praktis gak tidur selama 36 jam.

Gua juga bingung kenapa pada tergila-gila pada dokter ini. Dibilang cakep biasa aja, umur juga gak muda lagi ada deh 40an waktu itu. Memang gayanya cool habis persis Dr. Kim do Han di serial Good Doctor. Bukan cuma gayanya tapi pinternya ampun deh. Bisa dibilang dia itu text book berjalan dan perfeksionis. Tuh kurang  apa lagi? Oh, ya orangnya juga galak dan tidak bisa menerima kealpaan. Sudah tak terhitung berapa co-ass2 cantik yang nangis habis ronde (round) bersama. Pernah juga ada cerita status yang dibanting ke lantai saking dia frustrasi melihat cara anamnesa co-ass.

Herannya makin cool, makin galak kok makin diidam-idamkan ya? Apa pada makisme (suka disakiti)?  Selain cerita-cerita yang beredar, gua sebagai saksi langsung senior-senior gua begitu selesai ronda lompat-lompat histeris sambil ada yang tutup muka sama bantal, ada yang ketawa-ketiwi sendiri, ada yang langsung nyambar minum dari gelas si dr Kim (let's call him that). Gua sampai terperangah?! Hellooo, bukannya kita di Public Health malah bikin penyuluhan tentang pentingnya hygiene? Tapi katanya biar serasa ciuman bibir ama dr. Kim ?!!! Ooooh my, jangan ditiru ya sodara-sodara. 

Gua sendiri gimana? Seriously gua masih step on earth huaha..kebetulan teman barengan gua semua juga sensible dan rasional semua. Kebetulan lagi hati gua bercokol ama yang laen (gak usah dirincilah ya). Nah tapi ada juga akhirnya sedikit cerita ama konsulen alien ini.

Jadi kalau di bagian ini, karena namanya bagian Mayor maka kita kebagian 10 minggu di sini. Lima minggu sebagai junior terlebih dahulu dan sisanya naik pangkat jadi senior. Kalau sudah di co-ass tidak memandang umur atau angkatan lagi tapi seberapa cepat kita lulus sarjana kedokteran dan kadang juga rotasi. Jadi gak heran bisa aja junior gua adalah kakak-kakak kelas yang bertahun-tahun di atas gua.  Junior biasanya dapat tugas yang lebih tidak enak semacam pesuruh bolak balik lab (apalagi kalau ketemu senior yang jutek dan aji mumpung), disuruh tensi, ukur suhu nadi, disuruh observasi ketat dll. Tapi tanggung jawab lebih banyak di senior karena kalau sampai pasien bermasalah yang dicecar dan dimaki-maki pasti seniornya. (Satu pasien dipegang seorang senior dan seorang junior). Senior yang baik juga secara tak tertulis wajib menurunkan ilmu baik teori maupun praktek semacam hitung cairan, atur infus, pasang NGT etc etc. Prinsipnya berbahagialah kalau dapat senior yang pintar dan baik.

Jadi ceritanya minggu kelima gua sebagai junior, anak senior kalang kabut siapin pasien buat ujian. Kita yang junior cuma bantu sebisanya tapi tanggung jawab masih di tangan senior. Pagi-pagi itu gua dipanggil sama dua senior cewek sama satu senior cowok buat bantu mereka mem'beres'kan pasien (artinya pemeriksaan fisik dan tulis di status). Mereka lagi stres berat karena pengujinya dr Kim. Meskipun ngefans tapi yang namanya ujian rata-rata berdoa siang dan malam untuk dapat penguji laen selain beliau saking sadisnya kalau nguji.

Gak lama dr. Kim datang dan mereka pun masuk ke ruangan tempat pasien yang mau diuji berada. Gua dan teman-teman santai-santai di ruang bersama sambil ngerumpi nunggu konsulen lain yang mau visite (jenguk pasien). Gak sampai lima menit senior gua yang lagi ujian tahu-tahu menggubrak pintu dan teriakin gua supaya segera hadir. Lha kagetlah semua kita para junior termasuk senior yang gak ujian hari itu. Biasanya ujian justru sangat secretive dan confidential, mana boleh dilihat ama junior.

Sambil deg-degan dengan jantung mau copot dan dengkul gemetaran gua masuk dan di dr Kim, cuma angguk dikit dan suruh gua tunggu di samping situ. Habis itu gua lihat dong pembantaian demi pembantaian sambil berusaha pikir positif, saat gua belum tiba. Mungkin gua disuruh jadi saksi doang bahwa senior-senior gua gak bisa jawab.

Eh, tahu-tahu gua lagi ngelamun gitu, dr Kim kembali menggelegar dan tahu-tahu gua ditunjuk! Syukur pertanyaan pertama gua lolos! Kalau kata teman gua, gua hokinya tuh besaaar banget. Menurut gua sih gua punya insting yang so far so good haha.. Jadi kalau dosen kasih pertanyaan dan misalnya teman ada yang jawab ke arah A gua bisa lumayan membaca dosen itu setuju atau tidak, atau pun di tengah-tengah jawaban kalau air muka dosen jadi aneh dan tidak ramah pertanda jawaban kita pasti salah langsung boleh banting setir :) Terus satu lagi adalah giring dengan jawaban yang elo emang paham banget, jangan pernah menjawab dengan kepo sesuatu yang elo gak terlalu ngerti, itu namanya menggali kubur sendiri.

Pendek kata, gua sih berusaha balancing antara menyelamatkan diri dan jangan sampai menjatuhkan senior soalnya kan mereka yang ujian. Cuma asli udah serem aja dengerin tonenya yang dingin kalau senior salah jawab. Beberapa kali gua jawab ngaco alias pakai logika sendiri soalnya memang ilmu belum sampai level situ. Yang gua ingat ditanya kenapa kalau radang selaput otak tesnya pakai nekuk kaki pasien ke atas. Kalau kesakitan berarti positif. Apa hubungannya emang otak ada di dengkul???
Auuuuw, yang ada di test book dan diktat manalah diterangkan, langsung aja nama tes bla bla, gejala bla bla. Setelah senior tak berkutik, murkalah si dr Kim, katanya kalau sampai gak pada bisa, bubar saja ujiannya gak usah lanjutin. Habis itu giliran gua dipelototin. Hello? Dalam hati gua udah sumpah serapah siaaal emangnya gua juga ujiaaaan?!!

Pikir ayo pikirrr! Udahlah dengan pasrah gua pake logika teknik aja bahwa meningen (selaput) yang melapisi otak kan lanjut melapisi medula spinalis (saraf di tulang belakang), kalau dimanipulasi (saat kaki digerakkan) ya pasti terasa sakit juga. Syukur alhamdullilah bingo jawabannya itu, mungkin sih harusnya dengan kata-kata yang lebih sophisticated dan ke-textbook2-an tapi intinya begitulah.  habis itu gua jawab aja juga dibetulin dan mulai dipuji-puji sama dia, junior aja bisa gimana nih senior. Gua cuma berdoa habis itu gua gak dibully aja.

Nah, setelah moodnya membaik dia malah bagi2 ilmu. Terus waktu nerangin tentang vertigo dan nistagmus, masyaolloh, gua dijadiin manekin diputer2in terus dia pegangin pipi gua dua tangan dan meski beramai2 mereka lihatin deep to my eyes untuk lihat apakah ada nistagmus (pergerakan bola mata ritmik ke satu arah), gua cuma bisa lihat si dr Kim kok mukanya deket amat berbintang-bintang pula (yang sebenarnya lagi pusing). Otomatis muka gua panasss sodara-sodara, gak tahu deh udah kayak lampu merah belom.

Singkat cerita, karena moodnya bagus, tiga senior gua lulus dan mereka jumpalitan saking senang, gak jadi deh ngebully gua malah say thank you. Cewek yang satu rada jealous sih cerita-cerita ke temannya gua dipuji mulu terus dipegangin pipinya. Terus ada yang tanya, "Hari ini gak cuci muka dong?". Gua bilang cuci dong kalau gak jerawatan:P

Habis itu, kadar kekaguman gua sama dr Kim ya tetap segitu2 aja gak beralih jadi cinlok seperti yang lain haha... mungkin karena setelahnya timbul kejadian yang bikin gua gak sreg. Ada suatu kali dia mentreat teman sekelompok gua dengan  buruk padahal bukan salah teman gua sepenuhnya. Dia cuma mengikuti instruksi konsulen lain yang menurut dr. Kim sangat fatal kesalahannya dan  merugikan pasien. Gua kurang respek karena menurut gua dia harusnya tahu posisi kita sebagai co-ass yang kejepit bagai pelanduk di tengah. Kalau saja kasus ini terjadi di gua, gua mungkin bisa balik marah dan menyuruh dia gentleman dengan menghadapi konsulen lainnya kalau emang berani. Tapi kalau itu terjadi mungkin juga gua dikeluarin ya, secara kadang dalam clerkship prinsipnya telan semua kesalahan kalau mau selamat.

Terus selama co-ass elo bisa lihat 'ketampanan' dan 'kecantikan' orang yang sesungguhnya. Teman cowok yang cakep dan kita kira baik selama ini ternyata bisa menjadi orang yang egois, sikut sana sini asal dirinya selamat, tidak berempati sama sekali sama pasien. Sementara cowok yang tadinya gak dilirik bisa aja ternyata bukan cuma baik sama teman tapi pada perawat, care banget pada pasien dan keluarga pasien. Kalau mata batin sudah dibukakan banyak juga teman-teman gua akhirnya jadiannya jaman co-ass di bagian yang sama. Kalau kasusnya begitu gua berani jamin hubungan mereka kemungkinan akan langgeng karena sudah kelihatan asli sampai jeroan-jeroannya saat dalam tekanan.

Ceritanya ini memang lebih banyak pada saat kuliah dan co-ass karena paling lucu, unik dan berkesan. Jaman residen sih juga berkesan karena ada hubby di sana tapi off the record ah *tutup muka pake text book*. Kalau boleh tahu selama ini bayangan kalian giman? Kalau dokter galak pasti cool? kalau dokter cool pasti pintar? Kalau dokternya cakep pasti baik? Ada yang punya pengalaman sama dokter yang berkesan? Share ya............

Tuesday, September 02, 2014

Denzel turns 7


Tak terasa lagi setahun berlalu, Denzel sudah 7 tahun. Sudah bukan anak yang nempel terus ama gua. Kalau dulu, selalu bareng kan kalau sama-sama di rumah semisal gua di kamar pasti dia juga, kalau gua turun, dia tanya mau ke mana. Kalau sekarang tiba-tiba ngilang dicariin ternyata bersantai di kamar sendiri baca buku, main lego atau mobil-mobilan. Rasanya aneh aja hiks, padahal kalau di kamar misalnya main sama Diaz juga akibatnya pasti rusuh dan bikin gua ngomel-ngomel. Tapi giliran anaknya gak ada gua berasa sepi dan pengennya manggilin dia mulu:P

Urusan bertanya, anak ini nanya melulu. Kalau sudah dijawab ada pertanyaan lanjutannya. Waktu dia jadi suka baca buku Why gua kira urusan selesai tapi kadang-kadang dia masih bertanya juga sih yang gak dia ngerti tapi mendingan deh :)

Ngomongnya masih lucu meski gua lupa nih sekarang apa ya. Kalau dulu kan setiap ada yang lucu gua posting:) Yang pasti makin ngeyel dan kritis. Paling sebal pula kalau udah bawa, "Kata Miss harus begini, harus begitu!"
Kalau lagi pengen makan permen, "Kata Miss boleh, asal gak banyak-banyak."
Kalau disuruh bikin homework, "Kata Miss anak kecil di rumah harus istirahat, gak boleh kerja biar besok segar"

Beberapa bulan yang lalu waktu Denzel masih les kumon, dia tanya apakah gua waktu kecil juga les kumon. Errrrg, antara jawab tidak pasti dia minta berhenti langsung akhirnya gua bohong deh bilang iya dong.
Terus dia dengan santai nanya, "Kok mami sekarang hitung juga pakai kalkulator?" sambil nunjuk kalkulator di tangan gua.
 ".................",  pura-pura gak denger.
"Mami gak usah les kumon aja, kata Miss uang les beli kalkulator." Gedebuk! Memang akhirnya les kumon diberhentiin begitu masuk level D yang menurut gua ketinggian untuk kelas 1 SD dan tidak terlalu aplikatif karena hanya berupa pengulangan-pengulangan dan tidak terlalu mengasah logika berpikir. Kasian juga waktunya habis untuk pr kumon dan sejujurnya gua juga capek harus adu urat dan ngawasin dia bagai mata elang. Karena diam-diam tak bersuara dikira ngerjain pr ternyata udah di bawah leha-leha nonton tv.

Sama Diaz suka main bareng sampai berdua cekakak cekikik tapi sangat disarankan untuk ngawasin mereka bermain karena pernah Denzel ngangkat si Diaz yang ditarik kepalanya. Terus kalau udah kasar biasanya ada yang terinjak, tersikut dan ter-lain-lainnya yang mengundang air mata dd dan teriakan dramatis koko.."Kan aku gak sengajhaaaaa.... Kata miss, kalau gak sengajhaaa gak boleh dimarahin huhuhu....."

Tapi pada dasarnya dia koko yang baik. Kalau gua suaranya agak meninggi aja ama Diaz, dia buru-buru datang.  "Dede jangan dimarahin, kan masih kecil". Terus cium-ciumin Diaz.

Bersama adik yang sudah diminta sedari kecil
Bisa lari keluar pintu buat surprise in Diaz

Soal teledornya masih sama. Baru masuk dua hari sudah ketinggalan tas bekal makanan dan kehilangan dasi. Terus gua baru tahu lho rasa-rasanya wali kelas saat Denzel kelas1 itu sayang banget ama dia. Pantesan waktu pertemuan orang tua murid gua kan minta saran apa yang perlu diperhatikan untuk Denzel, katanya dengan semangat 45. "OOOooo gak ada, Bu. Si ganteng kita anak paling baik attitude di kelas, pinter pula." Mama manggut2 terharu. Denzel cerita si Miss kelas 1 suka peluk dan cium dia.

Jreng-jreng kelas 2, kemaren2 pulang bawa LKS (Lembar Kerja Siswa) yang dari 5 soal cuma disi 1 soal. Nilainya? 19 sodara-sodara.  Ditanya kenapa gak isi, senyum-senyum manis bilang time up. Terus ada yang gak isi sama sekali dan dapat telur bebek! Disuruh isi di rumah benar semua karena emang soalnya gampang.  Huaaaaaa... keinget waktu K2 sama placement test dia juga kasih kertas kosong karena sibuk liatin teman2. Gua rasa selama ini dia diingetin terus kalau lagi melamun waktu kelas 1. Setelah gua ancam pakai sistem reward and punishment (komiknya disita, weekend gak boleh  main tablet), syukurlah nilanya di atas 90 lagi semuanya. Denger-denger dari orang tua murid lain di sekolah Denzel memang begitu, miss kelas 2 lebih disiplin dan tegas. Apalagi mulai kelas 3 udah strict banget. Mudah-mudahan Denzel bisa lebih bertanggung jawab, gua heran kok nyokap gua gak stres hadapin gua dulu yang sama atau lebih parah dari Denzel. Minggu ini mulai ujian berderet dengan buku tematik yang menurut gua antik banget. Terus namanya juga cara berpikir tiap orang harusnya gak usah seragam kan? Contoh ada soal: Kalau ada tugas dari guru, saya mengerjakannya dengan....................... . Kalian jawab apa? Gua pikir jawabannya baik atau benar, tapi Denzel bilang pensil, hahaha.. tapi ya make sense juga sih. Gua bilang aja good job!

Soal kemandirian akibat tidak punya sus dan mbak selama sebulan *usap keringat*, Denzel jauh lebih mandiri. Mandi, gosok gigi, keramas, membersihkan diri habis BAB, memilih dan memakai baju sudah bisa sendiri meski  kadang gua  masih suka lihatin.

Oh, ya ada satu yang tersimpan dari jalan-jalan kemarin di HK. Malam-malam pulang dari mana gitu, biasa kita udah capek sementara baterai Denzel masih nyala dan sibuk celoteh sana-sini. Eh tahu- tahu dia nyelutuk gini. "Nanti kalau Mommy dan Daddy udah tua, Denzel mau bawa kalian jalan-jalan keluar negeri seperti  mommy udah bawa Pho-Pho dan Gung-gung." Doenggg... gua sampai terperanjat dan mama yang dengerin juga kaget. Duh speechless lho, gua ajak ortu jalan-jalan gak terbersit untuk nunjukin ke Denzel apalagi mengharapkan dia gimana. Tapi kadang anak kecil itu copycat itu bener banget ya.. Gua cuma berharap semoga langkah-langkah gua selama ini selalu di jalan yang benar, jangan sampai mislead anak-anak *elap elap mata*

Selamat ulang tahun Denzel yang sangat kita sayangi! Semoga juga Denzel yang hatinya baik akan tetap diberkati dan dituntun agar menjadi berkat bagi banyak orang...Amin.


Tetap minta tiup lilin lagi. Akhirnya makan keluarga di Restoran Angke karena kenyang kuenya dibawa pulang

Minta foto sama sus dan mbak juga
My sweet boy:)







Monday, August 25, 2014

Summer Holidays

Seperti gua pernah cerita sebelumnya, ortu gua suka travelling. Dan gua bercita-cita pengen ngajak mereka keliling dunia. Sebenarnya pas tahun lalu ke Kyoto, gua udah  ngajak ortu. Tapi ternyata waktu itu mereka udah planning ke China so gak jadi ikut. Terus  bulan Juni tahun ini gua ajak ke Hong Kong ternyata mau. Kali ini bener-bener pengalaman yang unik. Bawa anak kecil, bawa toddler dan bawa dua lansia:)selama 8 hari 7 malam berpetualang. HK sendiri sangat berkesan buat gua karena sedari kecil kan belom punya mimpi pergi jauh-jauh pasti pengennya ke HK aja.

Pertama pergi kelas 5 SD karena diiming-imingi kalau juara diajak ke HK, dan untuk pertama dan terakhir kali gua juara 1 huaha.. (mama gua syok karena 5 besar aja biasanya gak pernah), kedua kali sama teman2 SMA nginep di rumah sepupu gua, terus pas mau masuk coass dan saat seminar beberapa tahun yang lalu jadi gua sih cukup pede bisa menjelajah sendiri kemana-mana.

Untungnya juga ortu gua lumayan gampang adaptasi. Jalan kaki hayuk, makan apa aja hayuk. Cuma satu request papa gua yaitu minta tempat tinggal yang berada di pusat keramaian. Yang tadinya gua udah dapat apartemen yang bagus dengan harga reasonable di Causeway Bay terpaksa batal karena mereka prefer daerah Mong Kok.

Untuk pergi bareng keluarga besar begitu sih emang lebih enak dan ekonomis tinggal di apartemen. Gua pilih dan pesan di Airbnb. Cuma mungkin karena space yang mahal, rata-rata tempat tidur untuk double bed lebarnya cuma 137 cm:(  Cuma enaknya seperti gua bilang kemaren ada mesin cuci, rice cooker, kompor dan peralatan masak dan makan.  Apartemennya bersih dan securitynya ketat. Untuk masuk perlu pakai password dan ada uncle2 gantian jaga mengawasi CCTV. Cuma liftnya juga mungil pisan. Perlu dua kali naik untuk rombongan kita plus stroller.

Apartemen kita juga benar-benar hanya selangkah dari exit MTR. Sayangnya gak ada lift untuk exit MTR ke apartemennya melainkan tangga biasa jadi bisa dibayangin deh hubby yang angkatin stroller saban pulang dan pergi. Mungkin kalau exit MTR ke daerah lain kebanyakan udah pakai lift malah hiks. Mungkin daerah Mongkok udah tll crowded emang.

Overall sih  pengalaman yang menggembirakan terutama buat dua bocah. Let's explore with us!



The Peak
Avenue of Stars

Mie kuah satay enak banget
 Kata sepupu gua yang tinggal di HK, dari sekian banyak cabang Tim Ho Wan yang paling enak ada di Olympian City. Resto di sini juga lebih bagus dan besar.
Famous Tim Ho Wan
Aneka mie
Untuk selera emang beda-beda. Kita sempet ngejar restoran mie yang konon juga dapat michelin star tapi end up biasa aja, kita malah lebih senang gerai noodle dekat apartemen dengan kuah satenya.. Sluurrrp.Ada satu restoran shabu-shabu alias hot pot yang uenak banget, namanya Tao Heung. Ke sini habis pulang dari Macau jadi jam 9-10an malam dan masih full house gitu. Cckckckck orang HK demen makan banget. Sehabis makan malam dan sebelum tidur ada yang namanya xiao ye alias late supper. Gak heran ya gua selama seminggu di sana naik 2 kg padahal udah capek banget jalan kaki terus dan gendong si Diaz:P

Hanya ini yang kefoto, udah kalap  saking enak-enak
Catatan buat gua sendiri adalah cukup sekali aja datang ke daerah turis. Kapok sekapok-kapoknya ngantri sejam lebih untuk naik tram. Penuh dengan turis dari mancanegara tapi kebanyakan dari China. Turis tuh lebih sadis daripada penduduk lokal yang udah galak genetik. Pas gua naik ke tram kan sambil gendong Diaz karena hubby angkut stroller. Untung ada ortu yang jagain Denzel. Eh, rebutan naiknya parah lho. Kebetulan gua naik sama rombongan orang India yang tidak berbelas kasian even ngelihat gua gendong Diaz. Berbekal mental preman, gua sih survive naik ke atas tanpa insiden apa-apa cuma keinjek dan kecakar orang yang mau grab pegangan. Ada yang dorong, gua dorong balik. Berani sikut, gua sikut lebih kenceng huaha.. Nyokap yang kasian karena nyaris jatuh saking paniknya.

Tadinya juga mau ke Ngong Ping tapi seingat gua 3 tahun yang lalu ke Peak aja gak ngantri sekarang ngantri parah apalagi dulu ke Ngong Ping aja udah antri mengular juga. Kasian Denzel sih, tiap kali lihat iklan cable car selalu ingetin kita belom ke sana.

Denzel ultahnya kan selalu pas musim liburan, emang kalau masih Kinder dulu suka sedih karena gak bisa ngerayain di sekolah tapi kalau udah gede begini dia seneng luar biasa karena kita bisa pas-pasin waktunya ke Disneyland!!!




Birthday Boy
Waktu itu kita lihat ramalan cuaca HK memang tidak menguntungkan. Hampir tiap hari diramalkan hujan tapi untuk tgl 25 Juni hujan hanya pagi saja jadi kita nekad aja nyambangin Disney dengan pertimbangan kalau ditunda toh sama saja. Untung juga kita bawa payung dan banyak jas hujan sekali pakai.

So begitulah pas hujan kita buru-buru masuk ke wahana indoor. Karena ortu juga belom pernah ke Disney Hk mereka cukup enjoy. Kalau ke entertainment park begitu, gua selalu ambil buku panduan. Yang pasti lihat dulu ride apa yang popular (biasa ada tanda untuk fast pass) seperti Space Mountain dan antri di sana. Ada bagusnya juga mendung dan hujan karena pengujung tidak terlalu membludak.
Yang sempat kita enjoy antara lain The Golden Mickey Show, Mickey's Philarmagic, Tarzan's Tree House, Festival of the Lion King. Diaz juga anteng dan tenang-tenang aja nonton pertunjukan. Kadang karena ac yang dingin ketiduran juga di pangkuan gua.  Yang gak diremomenin adalah Utopia karena udah antriannya sejam, cuma nyetir gitu doang di rel tapi Denzel anehnya seneng banget.

Dan untunglah setelah lewat jam 12 matahari mulai bersinar dan artinya pertunjukan kembang apinya tidak dicancel:)


Sempet juga ke Macau day trip. Tadinya mau nginap tapi ribet bawa koper dan segala macam terus kita emang udah nyewa apartemennya 7 malam berturut. Enjoy juga sih even cuaca panassss minta ampun. Untung di belakang reruntuhan katedral St Paul ada museum kecil, lumayan buat ngadem.


Selebihnya dari mal ke mal, makan-makan, syoping-syoping. Sebrang apartemen gua ada Langham Plaza yang interiornya keren habis, escalatornya tinggi banget sampai gua cukup serem tuh naiknya. Overall kita seneng banget di HK, mudah2an ada kesempatan balik lagi kalau Diaz sudah lebih besar dan bisa menikmati.

"Mommy gak ajak makan-makan, gua ngemil stroller belt dulu dah"



Wednesday, August 20, 2014

Tips for Parents Travelling with Toddler

Karena ortunya (baca- mama) suka travelling dan adventure maka jadinya dua bocah sudah terbiasa dibawa dan diangkut kalau masih bayi ke sana sini. Denzel umur 3 minggu sudah dibawa ke pulau Samosir ikut gua tugas. Syukurlah di saat-saat terakhir ada kenalan tetangga teman bokap, seorang ibu-ibu lansia yang bersedia ikut kita ke pedalaman mengasuh Denzel. Petualangan 6 bulan di sana luar biasa dan kapan-kapan akan gua ceritakan.

Baby Denzel with amazing scene #spoiler

umur 16 bulan ke Lombok, umur 21 bulan ke Medan. Ke Makassar sih sudah 3 tahun lebih. Kalau Diaz 5 bulan ke Kyoto, 9 bulan ke Surabaya dan 17 bulan barusan ke Hong Kong. Kalau ke Bandung dan Bogor juga lumayan sering.

Tiap anak daya adaptasi memang beda-beda tapi sebagai ortu, setidaknya ada beberapa hal yang menurut gua bisa mempermudah semua orang termasuk si toddler menikmati perjalanan.

1. Jaga kesehatan toddler sebelum pergi

Sekitar sebulan sebelum travelling gua biasanya lebih lagi memperhatikan gizi anak-anak, bila perlu berikan vitamin dan suplemen. Untuk anak yang alergi dan mudah mendapat infeksi kalau sudah kambuh alerginya, gua ekstra juga menyingkirkan alergen. Khusus Diaz yang alergi debu, ya lebih sering deh menyedot sofa, ranjang dan sudut2 ruangan. Gorden dan AC lebih sering dibersihkan.

Tak lupa, suster diwanti-wanti kalau ke taman, pusat perbelanjaan, mal dan lain-lain kan kadang main tuh sama anak-anak yang lagi batuk pilek. Gua bilang kalau sampai Diaz sakit ya alamat batal liburannya dan sus juga batal deh cutinya:P BS gua sih cukup pinter dan kooperatif jadi gua gak terlalu khawatir soal ini.

Sekedar sharing, saat kita bawa Denzel ke Lombok, hari pertama dia langsung panas tinggi. Firasat gua udah gak enak kok anak ini gak seceria biasa, tahu-tahu begitu mendarat di airport sana , badannya udah rada hangat. Waktu itu mungkin gua juga sibuk dan gak terlalu khawatir karena Denzel sangat jarang sakit, jadinya gak keinget untuk tindakan preventif. Curiganya sih Denzel ketularan teman sekolah minggu.

2. Siapkan obat selengkap mungkin

Gua ke HK cuma bawa dua koper. Satu besar dan satu sedang dengan baju dan kebutuhan anak mendominasi. Tapi khusus obat-obatan gua bawa satu container besar lock n lock. Biarpun obat yang kelihatannya tidak akan kepakai tetap gua bawa just in case... Sharing lagi gua dulu di Lombok cuma bawa obat penurun panas. Setelah kita putuskan beberapa hari kemudian mau diberikan antibiotik karena kondisinya sudah kelihatan infeksi bakteri, kita gak punya akses ke apotik. Sudah tinggalnya di tempat remote pula. Untunglah akhirnya bisa titip teman yang baru mau berangkat dari Jakarta.

3. Stroller

Kalau untuk bayi jelas ada tambahan baby carrier. Untuk toddler sempat gua dan hubby berdiskusi panas soal ini. Kelihatannya dia kapok di Kyoto jadi juru angkat stroller naik turun temple. Nah tapi gua bilang kita kan pergi seharian nih pasti, gak sanggup kalau harus gendongin dia terus dan Diaz saat di Kyoto maupun Surabaya itu bisa tidur nyenyak di stroller lho.

Syukurlah akhirnya kita bawa. Kalau ke Kyoto bawa stroller Elle bekas Denzel kebaret2 gua gak peduli. Pas ke HK ini kita bawa peg perego baru Diaz, sedih deh kebaret- baret tapi jika harus diulang gua tetap akan bawa. Stroller ini memang berat tapi kokoh dan nyaman banget. Diaz bisa tidur 3 jam straight di stroller ini gak peduli kita naik turun MTR, desek2an di trotoar atau kehujanan di Disneyland, dia mah molor terus. Tadinya hubby mau beli Combi 3kg tapi pikir2 kita kan mau taruh tas (dan belanjaan) di handlenya, bisa kebalik atuh.


4.  Makanan

Kalau di rumah makanan Diaz pastilah masih terjaga. garam secukuuupnya, gizi empat sehat lima sempurna. Harus ayam kampung, telur kampung, sayur kalau bisa yang organik.  Jadwal makan terstruktur rapi (kalau ada sus).  Lha kalau pergi harus seperti itu alamat kita semua gak bisa ninggalin apartemen lama-lama dong? Jadinya meski gua bawa beras, cereal dan sebagainya. Semua nyaris gak disentuh.

Gua ingat kata kolega gua, kalau pergi berlibur dan elo masih harus khawatirin gizi anak selama berlibur sebaiknya sekalian gak usah pergi. Kebetulan anak-anaknya termasuk tipe susah makan so kalau liburan mereka end up di restoran fast food yang sebenernya pantang banget bagi dia kalau lagi di Jakarta. Tapi katanya pula, liburan paling banter dan paling lama seminggu sampai 10 hari. Gak pa pa deh untuk jangka waktu itu anak-anak bebas makan apa aja yang penting stres free (maksain anak dan nyuapin anak susah makan adalah hal yang paling membuat mood turun).

Oleh sebab itulah gak heran ya, si Diaz kegirangan banget makan makanan kita mulai dari dimsum, bubur, bakpao, dan kedoyanannya ternyata mie seperti koko. Memang sih Chinese food cocok untuk toddler. Jadi ingat di Lombok pesan sup ayam untuk Denzel aja ternyata pedas banget hiks. Karena juga si Diaz kepo mau makan sendiri seringnya gua kasih mangkuk, mie dan garpu biar dia asyik sendiri sementara mama kalap juga makannya huahaha... Tapi orang sana galak-galak ya, pas kita selesai makan si pelayan berdecak-decak sambil tunjuk-tunjuk lantai marah-marah. Yang ada kita buru-buru kaburrr..

Minum juga sebenarnya kalau di rumah masih air aqua yang direbus tapi kalau pergi-pergi cukup air aqua. Susu juga susu UHT saja! Bahkan kalau si toddler kehausan dan malakin jus juga relakan saja. Masyaolloh panasnya Macau, gua sampai habisin dua gelas jus dan masih berasa haus.


Pertama dapat jus bukan bikinan sendiri
5.   Tempat tinggal
Kalau di hotel ada enaknya kamar dirapiin terus dan dapat breakfast. Tapi kalau stay agak lama sebaiknya di apartemen. Dua anak ini keringatan melulu dan memang HK lagi panas-panasnya jadi mereka sering banget ganti baju, belum lagi Diaz kalau makan, makanan pasti nempel di sekujur baju. Nah, enaknya kalau di apartemen bisa cuci baju. Bisa masak kalau mau meski gua jarang. Tapi pernah darurat sekali, karena hujan papa dan mama gua yang rencananya beliin kita dinner tertahan. Untunglah gua bisa masak dulu di rice cooker dan sementara mereka dengan lahapnya ganjal duluan makan nasi plus abon:)

Di apartemen HK yang meskipun imut luar biasa masih dapat yang 2 kamar plus ruang makan, ruang tamu dan dapur jadi si toddler bisa menjelajah ke sana kemari. Sempet pula keluarin amenities pemilik apartemen yakni semua handuk-handuk, pasta gigi dipencet2in, sabun dan plastik ditebar ke mana-mana.

6.   Turunkan standar

Standar apa nih? Macam-macam tergantung elo orang tua seperti apa? Gua sebenarnya cukup fleksibel tapi kalau di rumah misalnya gua mau pergi, sus sudah tahu jadwal Diaz untuk makan, mandi, tidur, main di taman dsbnya. Gak harus ada jam tepatnya tapi at least terpenuhi, misalnya jangan sampai keasyikan main tidak diajak tidur siang.

Kalau lagi liburan, gua gak ada lagi jadwal2an. Pergi aja paling lambat jam9 pagi, pulang-pulang kemarin paling cepat jam 9 malam, pernah sampai jam 11 malam. Tidur otomatis di stroller. Makan juga kadang lebih cepat atau lebih lambat dari jam makan. Sebalnya restoran yang enak kalau di sana antri parah. Pernah kita ngantri sejam lebih, apa boleh buat. Anak-anak kalau laper kita selalu ganjal dulu dengan roti.

Satu lagi standar kebersihan.  Biasanya setiap anak-anak pegang sesuatu yang kotor pasti gua buru-buru suruh mereka cuci tangan. Duduk di lantai even di mal? Jangan sampai deh. Tapi kalau liburan, anak-anak terutama toddler yang explore sana sini, gak mungkin bentar2 cari wastafel, gak mungkin juga tiap 5 menit pakai cairan pembersih tangan. Yang penting sebelum makan harus cuci tangan aja karena suka colek2 makanannya.

Mainan batu di lantai resto #merem
Di snoopy world malah tertarik mainan daun

Tebar dan mulung daun juga dibiarin asal anaknya happy

7.  Happy Time

Kalau anak sudah lebih besar seperti Denzel mungkin sudah ngerti yang namanya Universal Studios, Disneyland dan sebagainya. Kalau Diaz sih gak mudeng, contoh di atas diajak main di Snoopy World malah asyik mainan daun:) Kita sih ngikutin si toddler aja. Diaz lagi obsesi naik ban jalan (escalator datar) di airport yang mana kita bisa bolak balik 1234 kali selama nunggu boarding di KL dan juga obsesi masuk keluar lift.

Kadang kalau sudah dua jam duduk di stroller, asalkan gak tidur pasti kita turunin kasih jalan sendiri. Emang kadang memperlambat perjalanan atau malah melenceng karena anaknya entah jalan meleng ke mana, gak pa pa deh, kasih waktu sekitar 15 menit atau setengah jam. Kebetulan Diaz ini senang banget deketin orang. Selama diawasin biarin aja meski yang dideketin suka bingung haha..

Suka nunjuk orang, mungkin maksudnya mau kenalan

Si anak cewek salah mengerti, Kirain main angka kali langsung keluar dua jari #bukanpolitik

Yang ini lebih lucu, karena Diaz tunjuk terus, anak ini kasih Diaz tissue yang dipegangnya karena kirain Diaz minta

Kadang kan di mal suka ada tempat main buat anak kecil, wuih happy banget Diaz apalagi kalau ketemu yang bening-bening:)


Main bola bareng yuk... mumpung mommyku lagi sibuk belanja
Serius ngobrolnya
Oh, ya jangan lupa selalu libatkan si koko buat main bareng untuk mempererat persaudaraan sekalian ngetoddlersit adiknya.


8. Calm.. calm and keep your sanity

Diaz tumpahin teh ke mana-mana? Laburin mie ke kepalanya? Cranky pas ngantri mau ke peak selama sejam lebih hanya untuk naik tram dan begitu pula lagi pulangnya. Ada saat-saat di mana gua begitu rindu sama susnya.. terutama saat tangan gua sampai gemetaran gendongin dia ngantri mau ke Peak itu. Awalnya duduk manis di stroller, berhubung antrian jauh meliuk2, panas dan nyaris gak bergerak, si toddler cranky minta digendong. Habis itu juga meliuk2 gak betah narik kita keluar dari antrian setelah antrian lumayan deket.

Yang penting adalah jangan sampai emosi. Selalu ingat ini adalah liburan yang mana harusnya fun, jadi gua sebisa mungkin keep calm, gak ngomel yang gak perlu-perlu ( tingkat pengomelan berbanding terbalik dengan saat di rumah) dan yang penting gua selalu mendahulukan anak-anak ketimbang orang lain. Apa maksudnya?

Kadang gua lihat kan ortu gak enakan, takut bayinya atau toddlernya mengganggu orang lain kalau sampai nangis atau rewel ngantuk. Gua sih memang berusaha menenangkan Diaz tapi kalau dia masih rewel2 dikit ya biarin aja, didekap sebentar juga tidur ketimbang gua hush hush suruh diam malah nangisnya tambah heboh. Terus kadang kan dia minta jalan, gua sih bawa ke samping kiri jadi gak ganggu orang yang jalannya cepat. Tapi ada aja lho yang galak even sama toddler, stroller yang gua dorong pelan2 dia dorong gak sabar, terus ada tante-tante galak yang melototin Diaz yang menghalangi jalannya. Kalau untuk itu gua pilih egois dan mentingin anak:) Pura2 gak lihat dan gak ngerti aja. Toh itu jarang banget kejadiannya, biasanya oom oom muka masam disenyumin Diaz aja gak kuasa untuk gak senyum balik.

Kalau ditanya repot gak bawa toddler? So pasti, bahkan lebih repot daripada bawa dia saat baby 5 bulan yang kerjaannya minum dan tidur. Tapi gua gak nyesel lho, meski mungkin dia gak ngerti sepenuhnya yang pasti dia terlibat dalam family fun bersama kita dan ortu gua.

Happy Toddler

Sunday, June 15, 2014

Doctor's Life (part 1)

Kemaren sempet baca postingan dulu yaitu kuis tentang usul postingan dari teman-teman. Banyak ternyata yang minta postingan tentang keseharian kerja atau hal-hal yang terjadi di RS. Berhubung gua juga mulai nonton lagi Grey's Anatomy jadi sering nostalgia masa-masa co-ass dan masa residensi.

Kalau sekarang terus terang 95% waktu gua praktek di outpatient alias rawat jalan alias poli. Berbanding terbalik dengan saat pendidikan dulu. Pastinya gua lebih suka dan enjoy kondisi sekarang tapi kadang kangen juga suasana di ward dulu.

Kadang ada teman yang tanya beneran gak sih kehidupan dokter seseru di film2 macam ER, Grey's Anatomy, House MD bahkan sampai Good Doctor? Jawabannya bisa ya dan tidak haha.. Emang kadang ada hecticnya, ada emergencynya ada drama percintaan sampai perselingkuhan tapi itu cuma secuplik aja. Most of the days just the average normal days.

Kadang gua pikir betapa beruntungnya gua sampai saat ini mendapat pengalaman yang kaya, melewati gradasi perasaan yang bergejolak mulai dari sedih sangat sampai bahagia luar biasa karena mendampingi pasien dan keluarganya dengan perasaan yang sama. Perasaan yang dulu gua gak kenal dan tidak tahu ada dalam diri juga sering bermunculan. Kadang perasaan gregetan, frustrasi, puas sampai bangga juga melanda. Pengalaman kocak, mengharukan hingga mengerikan dan menyeramkan juga sudah pernah dilewati. Gua juga gak nyangka bisa bertindak dari lembut hingga tegas, dari mencoba menganyomi hingga memarahi (untuk kepentingan pasien tentunya). 

Gua sering berpikir betapa gua sendiri berubah. Waktu kecil gua pemalas dan penunda nomer wahid, agak mending saat remaja dan sekarang kalau gua belom selesai mereview artikel yang udah gua tetapin bisa lho kebawa ke mimpi. Dulu gua penakut luar biasa tapi siapa sangka saat kuliah gua pernah bawa dan mempelajari tengkorak (asli) ke kamar kos untuk  untuk ujian Anatomi besokannya. Gak ada rasa takut sedikitpun saat harus memegang cadaver (mayat) di ruang labarotorium. Dulu gua anak bungsu manja dan egois, semua harus ngikutin keinginan gua kalau gak gua ngambek berhari-hari dan papa gua kebingungan. Sekarang gua harus nyingkirin kepentingan pribadi, bahkan sampai kepentingan anak kalau emang ada hal yang emergency (lebih sering lagi hubby yang punya pasien darurat).

Sebagai petugas medis, kita diwanti-wanti jangan sampai sebagai dokter kita sendiri burn-out alias jenuh. Dulu pertama kali co-ass, gua ingat bener gua sulit menata emosi. Jadi ceritanya ada masa orientasi dan kita dirotasi ke berbagai bagian. Saat itu gua lagi di bagian Bedah dan tugas di IGD. Karena belum boleh bertindak, namanya juga orientasi maka hanya boleh anamnesa (mencari keterangan dari pasien dan keluarga), memeriksa dan melaporkan hasilnya pada dokter jaga. Siang itu datanglah seorang bapak korban KLL dengan kepala bocor. Secepat kilat gua tanya singkat dan gua langsung melapor ke dokter jaga yang sedang asyik minum kopi. 

Harapan gua sih dia langsung hecting (jahit) karena darahnya banyak ke mana-mana. Mana meski sudah lulus sarjana kedokteran waktu itu, lihat darah paling di tabung reaksi, jadi ceritanya masih shock saat ngelihat darah bergelimpangan. Eh, si dokternya tenang-tenang aja gak bergerak asyik nyeruput-nyeruput kopinya yang masih panas. Teman-teman gua nenangin, maksudnya jangan kita desak terus ntar dianya marah. Bolak balik gua lihat kondisi pasien. Bapaknya masih ngerang dan sadar tapi tuh darah ngucur kayak keran dan akhirnya kita tampung di bawahnya pakai ember.

Akhirnya gua yang emang terkenal nekad dan vocal datengin si dokter jaga dan kasih tahu semua peralatan sudah disiapkan. Sang dokter jaga dengan galak bilang begini, "Kamu gitu aja heboh! Emang gak tahu apa, kalau vulnus laceratum (luka robek) di kepala emang darahnya banyak! Baca lagi tuh buka anatomi! Ini mah tidak membahayakan! Ganggu saya aja kamu!" Meski sehabis itu dia dengan rapi menjahit luka bapak tersebut, gua bertekad mulai hari itu gua gak mau seperti dia, gua gak mau jadi dokter yang masih bisa memanjakan indra saat ada yang mengerang-ngerang di ruangan yang sama.

Kisah lain juga pada saat orientasi atau awal co-ass, gua lupa. Seorang anak perempuan pasien seumur gua sedang menangisi papanya yang kena stroke perdarahan dan sudah tidak sadarkan diri. Gadis ini meraung dan minta maaf sudah sering menyakiti perasaan papanya dan meminta kesempatan kedua. Dia rela mengurangi umurnya agar papanya bisa sadar lagi. Saat itu gua gak tahan dipaparkan oleh perasaan anak yang begitu terbuka dan tulus. Biar udah gigit bibir, mata didelikkan ke atas tetap aja tahu-tahu mata dan pipi panas. Mungkin juga karena anak itu seumur ama gua  dan papanya seumur papa gua jadi mudah bagi gua bersimpati. Gua tahu dengan kondisi begitu gua gak akan fit sebagai dokter papanya! Mereka tidak butuh air mata gua! Mereka tidak butuh simpati gua! Mereka butuh dokter yang bisa tenang, biarpun berempati tetapi bisa mengambil keputusan yang tepat dan rasional. 

Dua kejadian itu yang menyadarkan gua kalau jadi dokter itu sulit tapi jadi dokter yang baik itu suuuuuliiiiiiiiit. Biarlah kita berempati saja tapi jangan sampai perasaan kita kacau balau. Sampai saat ini meski gua gak pernah lagi menitikkan air mata depan pasien, gua tetap dalam proses belajar untuk memberikan yang terbaik. 

Gua kenal banyak dokter yang sebagai defense mechanism akan bertindak super dingin. Seakan-akan mereka shut down tombol emosi. Sebagian kecil emang sudah terlahir begitu, tapi sisanya itulah cara mereka untuk jadi dokter yang baik versi mereka. Dengan begitu dia tetap memakai analisa dan logika yang terbaik untuk pasien. Di antara mereka ada yang gua tahu benar2 genuine lho segalanya buat pasien tapi kadang pasien tidak respek dengan dokter type seperti itu, karena kurang komunikatif, dingin dsb... Kalau soal itu emang susah ya, karena beda dengan profesi yang lain, dokter butuh trust dari pasien dan keluarganya, kalau tidak yakinlah hasilnya tak akan optimal.

Duh udah panjang aja, next time disambung. Memang gua pernah bilang gak mungkin gua cerita spesifik yang bisa melanggar konfidensial, tapi kalau general sih gak papa. Awalnya  gua ragu mau posting pengalaman fresh graduatedkah, pengalaman kerja di klinik, pengalaman pernah punya klinik, pengalaman horor, pengalaman PTT di desakah? Eh jadi curhat di atas hehe... So dari pilihan di atas pada pengen yang mana nih:)?

Saturday, June 07, 2014

Family time at Neo+ Green Savana

Hari Sabtu, dua minggu yang lalu kita nginap di hotel yang relatif baru di Sentul yaitu Hotel Neo+ by Aston. Bentuk bangunannya unik dan bersebelahan dengan Taman Budaya Sentul di Sentul City. Tahun lalu waktu kita main ke Taman Budaya sempat ngelihat bangunan hotel yang bentuknya unik ini tapi gak kepikiran ini adalah hotel.

Arsitekturnya agak unik jadi selasar dibuat open air. Sementara bangunan cuma berlantai dua tapi memanjang. Di bagian tengah ada kolam renang dan ujungnya ada jacuzzi

Dilihat dari arah kamar

Lobby

Kamar simple minimalis tapi cukup luas. Gua suka lantainya yang tidak berkarpet karena kiddos terutama si kecil yang masih suka crawling sana sini rentan alergi. Contohnya pulang dari Trans kemarenan itu meler semeler2nya even karpetnya tiap hari divacuum.



Kamar mandi terpisah antara toilet, shower dan area ganti maupun wastafel. Downside air panas harus menunggu sedikit lama dan air cukup tergenang di area shower. Bukan karena saluran tersumbat tapi ternyata kemiringan lantainya tidak tepat jadi air tidak cepat mengalir ke drain. Sempat minta ganti kamar karena takut anak-anak terpeleset tapi sayangnya semua kamar penuh.

Karena kita tiba juga udah malam, akhirnya habis dinner kita mutusin berenang deh haha... Meski awalnya agak ragu mengingat si bocah mau UAS hari Seninnya, akhirnya kita mutusin berendam aja di jacuzzi yang hangat:)


Asyik juga karena setelah rombongan terakhir udahan, pool dan jacuzzi milik pribadi. Dan setelah itu gua sempet juga berenang sendiri. Enak dan seger banget deh, meskipun bukan air hangat, nggak dingin-dingin amat juga. Malah menurut gua lebih enak berenang malam-malam sebenarnya gak usah pakai sun block segala. Karena bentuk pool yang memanjang begitu, habis berenang tinggal keluar jalan beberapa langkah udah sampai pintu kamar.

Esokannya sarapan biasa aja, gak selengkap biasanya Aston sih tapi cukup decent. Ada area omelette, lontong sayur, bubur, nasi dan lauk, roti dan oats. Sehabis sarapan Denzel sempet berenang lagi.

Depan kamar langsung pool


Jacuzzi again
Sebenarnya udah bisa ngambang ya, tapi belum mau nerusin les renang yang berhenti sejak Juli tahun lalu
Akhirnya setelah lumayan gosong, baru si bocah mau diajak naik itupun diiming-imingi main ke Taman Budaya. Taman Budaya secara harafiah di belakang hotel, jadi tinggal jalan kaki doang.


Trampolin kesukaan

Habis main trampolin, becak, layangan muka Denzel udah kayak kepiting rebus karena udah  hampir jam12. Tapi si bocah masih ngotot mau main flying fox. Syukurlah ternyata petugasnya sedang istirahat sampai jam1.30 jadi kita bisa dengan tenang kembali ke hotel untuk check-out.

Ini sih selipin foto main flying fox dan layangan persis Mei tahun lalu di Taman Budaya juga.



Yang pasti holiday berkesan buat si bocah. Waktu gua tanya Seninnya apakah bisa ngerjain soal ujian atau nggak dia jawab dengan pede, "Bisalah!" Sekarang sejak masuk SD ngomongnya suka sok tahu dan gemesin. Kata dia begini, "Makanya mommy, sebelum ujian nanti harus nginep di hotel dulu, biar aku bisa ujianya." What??  Tahu deh bisa atau nggak haha.. yang pasti sampai di rumah tepar sampai malem akibat kecapean... untung masih kelas1 :)

Sunday, June 01, 2014

Suatu Long Weekend di Trans Luxury Hotel

Setelah lama pengen coba nginap di hotel yang entah kenapa awalnya sempat disebut-sebut berbintang 6 (emang ada ya?), akhirnya kesampaian juga Maret kemarin pas ada seminar. 



Ranjangnya besar juga, gak sampai berdesak-desakan dengan bocah besar, tapi baby cribnya agak mengecewakan. Gua tahu kalau bumper mungkin untuk standar internasional tidak memenuhi kriteria keamanan tapi untuk toddler yang lasak bisa benjol-benjol nih.


Sofa ini bisa multifungsi untuk tidur juga.


Bathroom elegan


Bathroom amenities komplit sampai bubble bath,  bath salt etc
Anomali :  bisa-bisanya minta mandi mlulu

Breakfast di sini lengkap dan lezat. Nginep di sini 3 malam gua sempet merasakan 2 restoran yang berbeda. Pertama The Restaurant di level3 (bisa ngeliat swimming pool) daaaaan yang di lantai 18 dengan pemandangan yang jauh lebih wow! Btw kalau malam2 mau dinner di sini, viewnya juga bagus banget, gak usah macet2an ke Dago sono.

Dan yang paling mengesankan untuk si bocah besar pastinya swimming pool !!


 Yay, ada pasir putihnya...



Dilema mau berenang atau mau main pasir

Sementara kokonya seperti gasing, explore sana sini, berenang 2 jam sampai gosong dan saban disuruh udahan nangis ala jejeritan dramatis sampai diliatain banyak orang, ngapain dong adiknya?



Jangan terkecoh penampilan Diaz yang siap tempur ya, bahkan nginjakin kaki ke pasir basah aja dia emoh. Emang sih airnya dingin amat. Jadinya little boss bersantai dan berjemur di sofa aja sambil senyum-senyum lihatin ulah kokonya:P

Overall cukup puas nginap di sini. Kamarnya mewah dan luas, pelayanan memuaskan. Letaknya juga strategis langsung nyambung ke Trans Studio Mall. Gua yang tadinya udah ngelist mau makan apa aja, terpaksa menyerah oleh cuaca buruk dan macet gak kira-kira. Akhirnya selain sekali ke Sierra, banyakan makan di restoran di mal tersebut yang rata-rata juga branch dari Jakarta.