Wednesday, August 20, 2014

Tips for Parents Travelling with Toddler

Karena ortunya (baca- mama) suka travelling dan adventure maka jadinya dua bocah sudah terbiasa dibawa dan diangkut kalau masih bayi ke sana sini. Denzel umur 3 minggu sudah dibawa ke pulau Samosir ikut gua tugas. Syukurlah di saat-saat terakhir ada kenalan tetangga teman bokap, seorang ibu-ibu lansia yang bersedia ikut kita ke pedalaman mengasuh Denzel. Petualangan 6 bulan di sana luar biasa dan kapan-kapan akan gua ceritakan.

Baby Denzel with amazing scene #spoiler

umur 16 bulan ke Lombok, umur 21 bulan ke Medan. Ke Makassar sih sudah 3 tahun lebih. Kalau Diaz 5 bulan ke Kyoto, 9 bulan ke Surabaya dan 17 bulan barusan ke Hong Kong. Kalau ke Bandung dan Bogor juga lumayan sering.

Tiap anak daya adaptasi memang beda-beda tapi sebagai ortu, setidaknya ada beberapa hal yang menurut gua bisa mempermudah semua orang termasuk si toddler menikmati perjalanan.

1. Jaga kesehatan toddler sebelum pergi

Sekitar sebulan sebelum travelling gua biasanya lebih lagi memperhatikan gizi anak-anak, bila perlu berikan vitamin dan suplemen. Untuk anak yang alergi dan mudah mendapat infeksi kalau sudah kambuh alerginya, gua ekstra juga menyingkirkan alergen. Khusus Diaz yang alergi debu, ya lebih sering deh menyedot sofa, ranjang dan sudut2 ruangan. Gorden dan AC lebih sering dibersihkan.

Tak lupa, suster diwanti-wanti kalau ke taman, pusat perbelanjaan, mal dan lain-lain kan kadang main tuh sama anak-anak yang lagi batuk pilek. Gua bilang kalau sampai Diaz sakit ya alamat batal liburannya dan sus juga batal deh cutinya:P BS gua sih cukup pinter dan kooperatif jadi gua gak terlalu khawatir soal ini.

Sekedar sharing, saat kita bawa Denzel ke Lombok, hari pertama dia langsung panas tinggi. Firasat gua udah gak enak kok anak ini gak seceria biasa, tahu-tahu begitu mendarat di airport sana , badannya udah rada hangat. Waktu itu mungkin gua juga sibuk dan gak terlalu khawatir karena Denzel sangat jarang sakit, jadinya gak keinget untuk tindakan preventif. Curiganya sih Denzel ketularan teman sekolah minggu.

2. Siapkan obat selengkap mungkin

Gua ke HK cuma bawa dua koper. Satu besar dan satu sedang dengan baju dan kebutuhan anak mendominasi. Tapi khusus obat-obatan gua bawa satu container besar lock n lock. Biarpun obat yang kelihatannya tidak akan kepakai tetap gua bawa just in case... Sharing lagi gua dulu di Lombok cuma bawa obat penurun panas. Setelah kita putuskan beberapa hari kemudian mau diberikan antibiotik karena kondisinya sudah kelihatan infeksi bakteri, kita gak punya akses ke apotik. Sudah tinggalnya di tempat remote pula. Untunglah akhirnya bisa titip teman yang baru mau berangkat dari Jakarta.

3. Stroller

Kalau untuk bayi jelas ada tambahan baby carrier. Untuk toddler sempat gua dan hubby berdiskusi panas soal ini. Kelihatannya dia kapok di Kyoto jadi juru angkat stroller naik turun temple. Nah tapi gua bilang kita kan pergi seharian nih pasti, gak sanggup kalau harus gendongin dia terus dan Diaz saat di Kyoto maupun Surabaya itu bisa tidur nyenyak di stroller lho.

Syukurlah akhirnya kita bawa. Kalau ke Kyoto bawa stroller Elle bekas Denzel kebaret2 gua gak peduli. Pas ke HK ini kita bawa peg perego baru Diaz, sedih deh kebaret- baret tapi jika harus diulang gua tetap akan bawa. Stroller ini memang berat tapi kokoh dan nyaman banget. Diaz bisa tidur 3 jam straight di stroller ini gak peduli kita naik turun MTR, desek2an di trotoar atau kehujanan di Disneyland, dia mah molor terus. Tadinya hubby mau beli Combi 3kg tapi pikir2 kita kan mau taruh tas (dan belanjaan) di handlenya, bisa kebalik atuh.


4.  Makanan

Kalau di rumah makanan Diaz pastilah masih terjaga. garam secukuuupnya, gizi empat sehat lima sempurna. Harus ayam kampung, telur kampung, sayur kalau bisa yang organik.  Jadwal makan terstruktur rapi (kalau ada sus).  Lha kalau pergi harus seperti itu alamat kita semua gak bisa ninggalin apartemen lama-lama dong? Jadinya meski gua bawa beras, cereal dan sebagainya. Semua nyaris gak disentuh.

Gua ingat kata kolega gua, kalau pergi berlibur dan elo masih harus khawatirin gizi anak selama berlibur sebaiknya sekalian gak usah pergi. Kebetulan anak-anaknya termasuk tipe susah makan so kalau liburan mereka end up di restoran fast food yang sebenernya pantang banget bagi dia kalau lagi di Jakarta. Tapi katanya pula, liburan paling banter dan paling lama seminggu sampai 10 hari. Gak pa pa deh untuk jangka waktu itu anak-anak bebas makan apa aja yang penting stres free (maksain anak dan nyuapin anak susah makan adalah hal yang paling membuat mood turun).

Oleh sebab itulah gak heran ya, si Diaz kegirangan banget makan makanan kita mulai dari dimsum, bubur, bakpao, dan kedoyanannya ternyata mie seperti koko. Memang sih Chinese food cocok untuk toddler. Jadi ingat di Lombok pesan sup ayam untuk Denzel aja ternyata pedas banget hiks. Karena juga si Diaz kepo mau makan sendiri seringnya gua kasih mangkuk, mie dan garpu biar dia asyik sendiri sementara mama kalap juga makannya huahaha... Tapi orang sana galak-galak ya, pas kita selesai makan si pelayan berdecak-decak sambil tunjuk-tunjuk lantai marah-marah. Yang ada kita buru-buru kaburrr..

Minum juga sebenarnya kalau di rumah masih air aqua yang direbus tapi kalau pergi-pergi cukup air aqua. Susu juga susu UHT saja! Bahkan kalau si toddler kehausan dan malakin jus juga relakan saja. Masyaolloh panasnya Macau, gua sampai habisin dua gelas jus dan masih berasa haus.


Pertama dapat jus bukan bikinan sendiri
5.   Tempat tinggal
Kalau di hotel ada enaknya kamar dirapiin terus dan dapat breakfast. Tapi kalau stay agak lama sebaiknya di apartemen. Dua anak ini keringatan melulu dan memang HK lagi panas-panasnya jadi mereka sering banget ganti baju, belum lagi Diaz kalau makan, makanan pasti nempel di sekujur baju. Nah, enaknya kalau di apartemen bisa cuci baju. Bisa masak kalau mau meski gua jarang. Tapi pernah darurat sekali, karena hujan papa dan mama gua yang rencananya beliin kita dinner tertahan. Untunglah gua bisa masak dulu di rice cooker dan sementara mereka dengan lahapnya ganjal duluan makan nasi plus abon:)

Di apartemen HK yang meskipun imut luar biasa masih dapat yang 2 kamar plus ruang makan, ruang tamu dan dapur jadi si toddler bisa menjelajah ke sana kemari. Sempet pula keluarin amenities pemilik apartemen yakni semua handuk-handuk, pasta gigi dipencet2in, sabun dan plastik ditebar ke mana-mana.

6.   Turunkan standar

Standar apa nih? Macam-macam tergantung elo orang tua seperti apa? Gua sebenarnya cukup fleksibel tapi kalau di rumah misalnya gua mau pergi, sus sudah tahu jadwal Diaz untuk makan, mandi, tidur, main di taman dsbnya. Gak harus ada jam tepatnya tapi at least terpenuhi, misalnya jangan sampai keasyikan main tidak diajak tidur siang.

Kalau lagi liburan, gua gak ada lagi jadwal2an. Pergi aja paling lambat jam9 pagi, pulang-pulang kemarin paling cepat jam 9 malam, pernah sampai jam 11 malam. Tidur otomatis di stroller. Makan juga kadang lebih cepat atau lebih lambat dari jam makan. Sebalnya restoran yang enak kalau di sana antri parah. Pernah kita ngantri sejam lebih, apa boleh buat. Anak-anak kalau laper kita selalu ganjal dulu dengan roti.

Satu lagi standar kebersihan.  Biasanya setiap anak-anak pegang sesuatu yang kotor pasti gua buru-buru suruh mereka cuci tangan. Duduk di lantai even di mal? Jangan sampai deh. Tapi kalau liburan, anak-anak terutama toddler yang explore sana sini, gak mungkin bentar2 cari wastafel, gak mungkin juga tiap 5 menit pakai cairan pembersih tangan. Yang penting sebelum makan harus cuci tangan aja karena suka colek2 makanannya.

Mainan batu di lantai resto #merem
Di snoopy world malah tertarik mainan daun

Tebar dan mulung daun juga dibiarin asal anaknya happy

7.  Happy Time

Kalau anak sudah lebih besar seperti Denzel mungkin sudah ngerti yang namanya Universal Studios, Disneyland dan sebagainya. Kalau Diaz sih gak mudeng, contoh di atas diajak main di Snoopy World malah asyik mainan daun:) Kita sih ngikutin si toddler aja. Diaz lagi obsesi naik ban jalan (escalator datar) di airport yang mana kita bisa bolak balik 1234 kali selama nunggu boarding di KL dan juga obsesi masuk keluar lift.

Kadang kalau sudah dua jam duduk di stroller, asalkan gak tidur pasti kita turunin kasih jalan sendiri. Emang kadang memperlambat perjalanan atau malah melenceng karena anaknya entah jalan meleng ke mana, gak pa pa deh, kasih waktu sekitar 15 menit atau setengah jam. Kebetulan Diaz ini senang banget deketin orang. Selama diawasin biarin aja meski yang dideketin suka bingung haha..

Suka nunjuk orang, mungkin maksudnya mau kenalan

Si anak cewek salah mengerti, Kirain main angka kali langsung keluar dua jari #bukanpolitik

Yang ini lebih lucu, karena Diaz tunjuk terus, anak ini kasih Diaz tissue yang dipegangnya karena kirain Diaz minta

Kadang kan di mal suka ada tempat main buat anak kecil, wuih happy banget Diaz apalagi kalau ketemu yang bening-bening:)


Main bola bareng yuk... mumpung mommyku lagi sibuk belanja
Serius ngobrolnya
Oh, ya jangan lupa selalu libatkan si koko buat main bareng untuk mempererat persaudaraan sekalian ngetoddlersit adiknya.


8. Calm.. calm and keep your sanity

Diaz tumpahin teh ke mana-mana? Laburin mie ke kepalanya? Cranky pas ngantri mau ke peak selama sejam lebih hanya untuk naik tram dan begitu pula lagi pulangnya. Ada saat-saat di mana gua begitu rindu sama susnya.. terutama saat tangan gua sampai gemetaran gendongin dia ngantri mau ke Peak itu. Awalnya duduk manis di stroller, berhubung antrian jauh meliuk2, panas dan nyaris gak bergerak, si toddler cranky minta digendong. Habis itu juga meliuk2 gak betah narik kita keluar dari antrian setelah antrian lumayan deket.

Yang penting adalah jangan sampai emosi. Selalu ingat ini adalah liburan yang mana harusnya fun, jadi gua sebisa mungkin keep calm, gak ngomel yang gak perlu-perlu ( tingkat pengomelan berbanding terbalik dengan saat di rumah) dan yang penting gua selalu mendahulukan anak-anak ketimbang orang lain. Apa maksudnya?

Kadang gua lihat kan ortu gak enakan, takut bayinya atau toddlernya mengganggu orang lain kalau sampai nangis atau rewel ngantuk. Gua sih memang berusaha menenangkan Diaz tapi kalau dia masih rewel2 dikit ya biarin aja, didekap sebentar juga tidur ketimbang gua hush hush suruh diam malah nangisnya tambah heboh. Terus kadang kan dia minta jalan, gua sih bawa ke samping kiri jadi gak ganggu orang yang jalannya cepat. Tapi ada aja lho yang galak even sama toddler, stroller yang gua dorong pelan2 dia dorong gak sabar, terus ada tante-tante galak yang melototin Diaz yang menghalangi jalannya. Kalau untuk itu gua pilih egois dan mentingin anak:) Pura2 gak lihat dan gak ngerti aja. Toh itu jarang banget kejadiannya, biasanya oom oom muka masam disenyumin Diaz aja gak kuasa untuk gak senyum balik.

Kalau ditanya repot gak bawa toddler? So pasti, bahkan lebih repot daripada bawa dia saat baby 5 bulan yang kerjaannya minum dan tidur. Tapi gua gak nyesel lho, meski mungkin dia gak ngerti sepenuhnya yang pasti dia terlibat dalam family fun bersama kita dan ortu gua.

Happy Toddler

Sunday, June 15, 2014

Doctor's Life (part 1)

Kemaren sempet baca postingan dulu yaitu kuis tentang usul postingan dari teman-teman. Banyak ternyata yang minta postingan tentang keseharian kerja atau hal-hal yang terjadi di RS. Berhubung gua juga mulai nonton lagi Grey's Anatomy jadi sering nostalgia masa-masa co-ass dan masa residensi.

Kalau sekarang terus terang 95% waktu gua praktek di outpatient alias rawat jalan alias poli. Berbanding terbalik dengan saat pendidikan dulu. Pastinya gua lebih suka dan enjoy kondisi sekarang tapi kadang kangen juga suasana di ward dulu.

Kadang ada teman yang tanya beneran gak sih kehidupan dokter seseru di film2 macam ER, Grey's Anatomy, House MD bahkan sampai Good Doctor? Jawabannya bisa ya dan tidak haha.. Emang kadang ada hecticnya, ada emergencynya ada drama percintaan sampai perselingkuhan tapi itu cuma secuplik aja. Most of the days just the average normal days.

Kadang gua pikir betapa beruntungnya gua sampai saat ini mendapat pengalaman yang kaya, melewati gradasi perasaan yang bergejolak mulai dari sedih sangat sampai bahagia luar biasa karena mendampingi pasien dan keluarganya dengan perasaan yang sama. Perasaan yang dulu gua gak kenal dan tidak tahu ada dalam diri juga sering bermunculan. Kadang perasaan gregetan, frustrasi, puas sampai bangga juga melanda. Pengalaman kocak, mengharukan hingga mengerikan dan menyeramkan juga sudah pernah dilewati. Gua juga gak nyangka bisa bertindak dari lembut hingga tegas, dari mencoba menganyomi hingga memarahi (untuk kepentingan pasien tentunya). 

Gua sering berpikir betapa gua sendiri berubah. Waktu kecil gua pemalas dan penunda nomer wahid, agak mending saat remaja dan sekarang kalau gua belom selesai mereview artikel yang udah gua tetapin bisa lho kebawa ke mimpi. Dulu gua penakut luar biasa tapi siapa sangka saat kuliah gua pernah bawa dan mempelajari tengkorak (asli) ke kamar kos untuk  untuk ujian Anatomi besokannya. Gak ada rasa takut sedikitpun saat harus memegang cadaver (mayat) di ruang labarotorium. Dulu gua anak bungsu manja dan egois, semua harus ngikutin keinginan gua kalau gak gua ngambek berhari-hari dan papa gua kebingungan. Sekarang gua harus nyingkirin kepentingan pribadi, bahkan sampai kepentingan anak kalau emang ada hal yang emergency (lebih sering lagi hubby yang punya pasien darurat).

Sebagai petugas medis, kita diwanti-wanti jangan sampai sebagai dokter kita sendiri burn-out alias jenuh. Dulu pertama kali co-ass, gua ingat bener gua sulit menata emosi. Jadi ceritanya ada masa orientasi dan kita dirotasi ke berbagai bagian. Saat itu gua lagi di bagian Bedah dan tugas di IGD. Karena belum boleh bertindak, namanya juga orientasi maka hanya boleh anamnesa (mencari keterangan dari pasien dan keluarga), memeriksa dan melaporkan hasilnya pada dokter jaga. Siang itu datanglah seorang bapak korban KLL dengan kepala bocor. Secepat kilat gua tanya singkat dan gua langsung melapor ke dokter jaga yang sedang asyik minum kopi. 

Harapan gua sih dia langsung hecting (jahit) karena darahnya banyak ke mana-mana. Mana meski sudah lulus sarjana kedokteran waktu itu, lihat darah paling di tabung reaksi, jadi ceritanya masih shock saat ngelihat darah bergelimpangan. Eh, si dokternya tenang-tenang aja gak bergerak asyik nyeruput-nyeruput kopinya yang masih panas. Teman-teman gua nenangin, maksudnya jangan kita desak terus ntar dianya marah. Bolak balik gua lihat kondisi pasien. Bapaknya masih ngerang dan sadar tapi tuh darah ngucur kayak keran dan akhirnya kita tampung di bawahnya pakai ember.

Akhirnya gua yang emang terkenal nekad dan vocal datengin si dokter jaga dan kasih tahu semua peralatan sudah disiapkan. Sang dokter jaga dengan galak bilang begini, "Kamu gitu aja heboh! Emang gak tahu apa, kalau vulnus laceratum (luka robek) di kepala emang darahnya banyak! Baca lagi tuh buka anatomi! Ini mah tidak membahayakan! Ganggu saya aja kamu!" Meski sehabis itu dia dengan rapi menjahit luka bapak tersebut, gua bertekad mulai hari itu gua gak mau seperti dia, gua gak mau jadi dokter yang masih bisa memanjakan indra saat ada yang mengerang-ngerang di ruangan yang sama.

Kisah lain juga pada saat orientasi atau awal co-ass, gua lupa. Seorang anak perempuan pasien seumur gua sedang menangisi papanya yang kena stroke perdarahan dan sudah tidak sadarkan diri. Gadis ini meraung dan minta maaf sudah sering menyakiti perasaan papanya dan meminta kesempatan kedua. Dia rela mengurangi umurnya agar papanya bisa sadar lagi. Saat itu gua gak tahan dipaparkan oleh perasaan anak yang begitu terbuka dan tulus. Biar udah gigit bibir, mata didelikkan ke atas tetap aja tahu-tahu mata dan pipi panas. Mungkin juga karena anak itu seumur ama gua  dan papanya seumur papa gua jadi mudah bagi gua bersimpati. Gua tahu dengan kondisi begitu gua gak akan fit sebagai dokter papanya! Mereka tidak butuh air mata gua! Mereka tidak butuh simpati gua! Mereka butuh dokter yang bisa tenang, biarpun berempati tetapi bisa mengambil keputusan yang tepat dan rasional. 

Dua kejadian itu yang menyadarkan gua kalau jadi dokter itu sulit tapi jadi dokter yang baik itu suuuuuliiiiiiiiit. Biarlah kita berempati saja tapi jangan sampai perasaan kita kacau balau. Sampai saat ini meski gua gak pernah lagi menitikkan air mata depan pasien, gua tetap dalam proses belajar untuk memberikan yang terbaik. 

Gua kenal banyak dokter yang sebagai defense mechanism akan bertindak super dingin. Seakan-akan mereka shut down tombol emosi. Sebagian kecil emang sudah terlahir begitu, tapi sisanya itulah cara mereka untuk jadi dokter yang baik versi mereka. Dengan begitu dia tetap memakai analisa dan logika yang terbaik untuk pasien. Di antara mereka ada yang gua tahu benar2 genuine lho segalanya buat pasien tapi kadang pasien tidak respek dengan dokter type seperti itu, karena kurang komunikatif, dingin dsb... Kalau soal itu emang susah ya, karena beda dengan profesi yang lain, dokter butuh trust dari pasien dan keluarganya, kalau tidak yakinlah hasilnya tak akan optimal.

Duh udah panjang aja, next time disambung. Memang gua pernah bilang gak mungkin gua cerita spesifik yang bisa melanggar konfidensial, tapi kalau general sih gak papa. Awalnya  gua ragu mau posting pengalaman fresh graduatedkah, pengalaman kerja di klinik, pengalaman pernah punya klinik, pengalaman horor, pengalaman PTT di desakah? Eh jadi curhat di atas hehe... So dari pilihan di atas pada pengen yang mana nih:)?

Saturday, June 07, 2014

Family time at Neo+ Green Savana

Hari Sabtu, dua minggu yang lalu kita nginap di hotel yang relatif baru di Sentul yaitu Hotel Neo+ by Aston. Bentuk bangunannya unik dan bersebelahan dengan Taman Budaya Sentul di Sentul City. Tahun lalu waktu kita main ke Taman Budaya sempat ngelihat bangunan hotel yang bentuknya unik ini tapi gak kepikiran ini adalah hotel.

Arsitekturnya agak unik jadi selasar dibuat open air. Sementara bangunan cuma berlantai dua tapi memanjang. Di bagian tengah ada kolam renang dan ujungnya ada jacuzzi

Dilihat dari arah kamar

Lobby

Kamar simple minimalis tapi cukup luas. Gua suka lantainya yang tidak berkarpet karena kiddos terutama si kecil yang masih suka crawling sana sini rentan alergi. Contohnya pulang dari Trans kemarenan itu meler semeler2nya even karpetnya tiap hari divacuum.



Kamar mandi terpisah antara toilet, shower dan area ganti maupun wastafel. Downside air panas harus menunggu sedikit lama dan air cukup tergenang di area shower. Bukan karena saluran tersumbat tapi ternyata kemiringan lantainya tidak tepat jadi air tidak cepat mengalir ke drain. Sempat minta ganti kamar karena takut anak-anak terpeleset tapi sayangnya semua kamar penuh.

Karena kita tiba juga udah malam, akhirnya habis dinner kita mutusin berenang deh haha... Meski awalnya agak ragu mengingat si bocah mau UAS hari Seninnya, akhirnya kita mutusin berendam aja di jacuzzi yang hangat:)


Asyik juga karena setelah rombongan terakhir udahan, pool dan jacuzzi milik pribadi. Dan setelah itu gua sempet juga berenang sendiri. Enak dan seger banget deh, meskipun bukan air hangat, nggak dingin-dingin amat juga. Malah menurut gua lebih enak berenang malam-malam sebenarnya gak usah pakai sun block segala. Karena bentuk pool yang memanjang begitu, habis berenang tinggal keluar jalan beberapa langkah udah sampai pintu kamar.

Esokannya sarapan biasa aja, gak selengkap biasanya Aston sih tapi cukup decent. Ada area omelette, lontong sayur, bubur, nasi dan lauk, roti dan oats. Sehabis sarapan Denzel sempet berenang lagi.

Depan kamar langsung pool


Jacuzzi again
Sebenarnya udah bisa ngambang ya, tapi belum mau nerusin les renang yang berhenti sejak Juli tahun lalu
Akhirnya setelah lumayan gosong, baru si bocah mau diajak naik itupun diiming-imingi main ke Taman Budaya. Taman Budaya secara harafiah di belakang hotel, jadi tinggal jalan kaki doang.


Trampolin kesukaan

Habis main trampolin, becak, layangan muka Denzel udah kayak kepiting rebus karena udah  hampir jam12. Tapi si bocah masih ngotot mau main flying fox. Syukurlah ternyata petugasnya sedang istirahat sampai jam1.30 jadi kita bisa dengan tenang kembali ke hotel untuk check-out.

Ini sih selipin foto main flying fox dan layangan persis Mei tahun lalu di Taman Budaya juga.



Yang pasti holiday berkesan buat si bocah. Waktu gua tanya Seninnya apakah bisa ngerjain soal ujian atau nggak dia jawab dengan pede, "Bisalah!" Sekarang sejak masuk SD ngomongnya suka sok tahu dan gemesin. Kata dia begini, "Makanya mommy, sebelum ujian nanti harus nginep di hotel dulu, biar aku bisa ujianya." What??  Tahu deh bisa atau nggak haha.. yang pasti sampai di rumah tepar sampai malem akibat kecapean... untung masih kelas1 :)

Sunday, June 01, 2014

Suatu Long Weekend di Trans Luxury Hotel

Setelah lama pengen coba nginap di hotel yang entah kenapa awalnya sempat disebut-sebut berbintang 6 (emang ada ya?), akhirnya kesampaian juga Maret kemarin pas ada seminar. 



Ranjangnya besar juga, gak sampai berdesak-desakan dengan bocah besar, tapi baby cribnya agak mengecewakan. Gua tahu kalau bumper mungkin untuk standar internasional tidak memenuhi kriteria keamanan tapi untuk toddler yang lasak bisa benjol-benjol nih.


Sofa ini bisa multifungsi untuk tidur juga.


Bathroom elegan


Bathroom amenities komplit sampai bubble bath,  bath salt etc
Anomali :  bisa-bisanya minta mandi mlulu

Breakfast di sini lengkap dan lezat. Nginep di sini 3 malam gua sempet merasakan 2 restoran yang berbeda. Pertama The Restaurant di level3 (bisa ngeliat swimming pool) daaaaan yang di lantai 18 dengan pemandangan yang jauh lebih wow! Btw kalau malam2 mau dinner di sini, viewnya juga bagus banget, gak usah macet2an ke Dago sono.

Dan yang paling mengesankan untuk si bocah besar pastinya swimming pool !!


 Yay, ada pasir putihnya...



Dilema mau berenang atau mau main pasir

Sementara kokonya seperti gasing, explore sana sini, berenang 2 jam sampai gosong dan saban disuruh udahan nangis ala jejeritan dramatis sampai diliatain banyak orang, ngapain dong adiknya?



Jangan terkecoh penampilan Diaz yang siap tempur ya, bahkan nginjakin kaki ke pasir basah aja dia emoh. Emang sih airnya dingin amat. Jadinya little boss bersantai dan berjemur di sofa aja sambil senyum-senyum lihatin ulah kokonya:P

Overall cukup puas nginap di sini. Kamarnya mewah dan luas, pelayanan memuaskan. Letaknya juga strategis langsung nyambung ke Trans Studio Mall. Gua yang tadinya udah ngelist mau makan apa aja, terpaksa menyerah oleh cuaca buruk dan macet gak kira-kira. Akhirnya selain sekali ke Sierra, banyakan makan di restoran di mal tersebut yang rata-rata juga branch dari Jakarta. 


Wednesday, May 21, 2014

Along came the Bee

Beberapa bulan lalu, kita nginep lagi di Novotel Bogor. Udah lama banget gak ke sana. Seandainya saja bisa tiap tahun nginap bisa bikin time lapse photo di sofa kebangsaan ini.


2014
Sudah jadi koko
The room
My little baby
Seingat gua dulu gak ada kids club atau gua gak ngeh. Kemarenan Diaz kita bawa ke kids club berhubung air di kolam renang terlalu dingin buat dia berenang. Kalau Denzel sih udah kepincut mainan-mainan outdoornya.


Seingat gua juga mainan outdoor ini relatif baru atau setidaknya terakhir datang belom ada. Ya iya dong udah hampir 5 tahun yang lalu hahaha...






Air di Bogor tahu sendiri dinginnya udah kayak aer es, tetep aja si manusia ikan pura-pura budeg saban disuruh udahan.

Petani cilik
Tamannya tetap bagus dan asri. Pantesan hubby selalu bercita-cita kalau udah pensiun mau punya rumah di Bogor dan ada kebonnya. Tapi siapa yang mau ngerawatnya ya? Sekarang saban disuruh rapiin cemara udang depan rumah aja udah lonjong mukanya. Belum lagi kalau ada binatang-binatang liar yang suka ngaso di kebon kan banyak ya?

Jadi ingat nih ada kejadian luar biasa akhir-akhir ini. Dua bulan lalu siang bolong gua denger si mbak tereak histeris tapi karena orangnya suka lebay gua cuekin, cuma suruh BS liatan ada apa, tapi gak lama berdua tereak bersahut-sahutan ngalahin Bianca Castafiore. Tetangga sebelah yang lagi renovasi aja sampai nyembulin kepala pada. Lari dong gua ke bawah, eh si mbak lagi ambil kayu buat mukulin ular yang meliuk-liuk. Di bilang gede sih kagak tapi bukan ular kecil juga, ada bangsa semeter deh. Tapi karena panik, pukulannya hanya kena ke badan, bukan kepala. Alhasil si ular melipir pergi masuk selokan. Sementara tukang-tukang sebelah cuma kasih instruksi bukannya bantuin, Ciiih!

Terus kemarenan tukang keluarga gua suruh nguras bak, sekalian dia rapiin pohon mangga tetangga yang cabang-cabangnya merangsek liar ke halaman rumah gua, dan bikin kabel telpon gua ketarik. Pagi-pagi gua minta izin dulu si empunya pohon dan katanya silahkan aja. Sore-sore selesai tugasnya yang lain, naeklah si tukang. Ini pas gua gak di rumah dan cuma diceritain. Pas dia lagi gergaji kok tiba-tiba badannya ada yang sakit-sakit. Ternyata oh ternyata dia udah mulai dirubung tawon. Untungnya selain kulitnya setebal pohon, lumayan pinter juga. Dia pikir kalau panik, terus buru-buru turun yang mana akan bikin makin banyak tawon datang, dia diam aja gak gerak. Gak berapa lama pergi deh tawon-tawon itu. 


Habis itu baru dia ngeliat ada sarang tawon guedeee! Kira-kira seukuran 2 helm orang dewasa ada kali. Usut punya usut ternyata maid si empunya rumah juga udah kesengat pas metikin mangga beberapa bulan silam dan dilarikan ke RS. Kayaknya si trauma dan emang gak kerja lagi sih sejak itu. Jadi mereka emang udah tahu tapi gak ambil tindakan karena takut mindahin sarang tawon itu.Tapi ya, kok pas gua minta izin gak dikasih peringatan gitu, gua gak tahu lho sama sekali. Kan kasian kalau sampai tukangnya kenapa-kenapa, ya gak sih.

Sampai sekarang sih bersyukur semuanya aman sentosa meskipun sport jantung. Kan katanya tawon itu kalau gak diganggu gak nyengat ya, betul gak? Ada yang punya pengalaman seperti gua atau ada yang tahu gak sih cara mindahin/ buang sarang tawon itu? Haha dari cuma mau cerita hotel gua jadi ingat makhluk2 tak diundang ini deh, ganti deh judulnya.