Monday, November 17, 2014

Lost in the Past

Selama travelling gua sering ke museum. Mulai dari yang terkenal semacam Prado di Madrid sampai museum-museum spesifik seperti museum Freud di Vienna  atau museum Van Gogh di Amsterdam. Agak ironis emang, di Jakarta, gua aja jarang banget ke museum padahal udah punya niat bawa anak-anak ke museum tapi belum-belum juga.  Di Eropa museum-museum merupakan destinasi favorit, yang meski tiket masuknya cukup mahal tetap saja antriannya membludak.

Nah kalau museum lain umumnya lebih ke koleksi lukisan, keramik, perhiasan, koleksi seni dll, kali ini di Berlin ada museum yang istimewa banget yaitu museum Pergamon. Di sini kita bisa lihat fasade bangunan-bangunan arkeologis dunia.

Pertama masuk ke museum langsung disambut oleh Ishtar Gate yang megah. Pintu gerbang ini didirikan 2500 tahun yang lalu oleh Raja Nebukadnezar. Dievakuasi pada awal abad ke-20 dan direkonstruksi lagi menggunakan bata-bata asli. Gua di depan gerbang ini cukup lama sambil mendengarkan audio guide. Audio guidenya sangat informatif diimbuhi sound effect yang membuat gua membayangkan bagaimana perasaannya apabila gua dilahirkan pada jaman tersebut.


 Yang ini adalah Babylon Processional Way yaitu koridor sebelum kita memasuki Ishtar Gate di atas. Panjang asli koridor ini adalah 800 meter, tinggi 15 meter. Jadi ukuran aslinya sekitar lima kali lebar yang di museum ini dan jauh lebih tinggi dan megah.


Saat peradaban lain mungkin masih menggunakan kayu, lumpur, tanah liat peradaban Babylonia sudah menghasilkan sesuatu yang indah seperti ini :







Selanjutnya kita mengembara ke Miletus. Gua sempat nyari soal Miletus yang merupakan salah satu kerajaan Yunani kuno (sekarang di Turki). Miletus sempat disebut-sebut dalam Alkitab antara lain di Kisah Para Rasul 20 : 17-38 dimana Rasul Paulus  menasihati para panatua.

Foto di bawah adalah Market Gate of Milletus , sebuah gerbang marmer  yang dibangun abad ke2 Masehi.


Berikutnya lagi adalah Fasade dari kerajaan Yordania yaitu Mshatta Facade dari abad ke-8.  Fasade ini adalah bagian dari istana musim dingin yang kemudian sebagian hancur karena gempa bumi. Bagian yang terselamatkan kemudian dievakuasi dan diberikan sebagai hadiah dari Sultan Ottoman Abdul Hamid II kepada Kaisar Jerman Wilhelm II pada abad ke-19.


The beauty of Islamic Art

Salah satu ruangan di Aleppo (Syria)


Used to be a bath tube


Dan masih banyak lagi yang gak akan habis dilihat dan difoto. Berada beberapa jam di sini membuat gua merasa begitu kecil tapi juga begitu kaya. Maksudnya kecil di hadapan Tuhan yang sudah membentuk peradaban dari jaman dulu sampai entah kapan. Merasa kaya karena tersentuh dan terharu.... entah kenapa rasanya susah disampaikan melalui kata, apakah telah begitu beruntung karena telah menjadi bagian dari peradaban manusia.

Sayangnya manusia yang membangun, manusia pula yang merusak. Banyak artefak yang rusak karena invasi dari negara lain, agama lain, tradisi lain, nafsu lain. Sebagai satu conntoh,  sampai sekarang masih banyak perusakan stupa, arca Buddha di Afganistan. Dan ironisnya di museum Pergamon juga pernah terjadi, sudah susah payah dievakuasi dan direkonstruksi, museum ini juga tak luput dari kerusakan serangan udara saat Perang Dunia II. Coba ya semua manusia di dunia ini hidup tanpa kebencian, tanpa prasangka satu sama yang lain seperti yang gua lihat saat pengunjung-pengunjung museum Pergamon dari berbagai negara dan berbagai budaya maupun agama bersama tertegun kagum memandangi sisa peradaban-peradaban  yang diwariskan pada kita hari ini...


7 comments:

Leony said...

Gate marmernya Market itu mirip sama library yang di Ephesus loh El. Gile ya orang jaman dulu peradabannya keren banget. Ngebayangin taman gantung atau pyramid aja gue suka terkagum2. Belum lagi jaman segitu udah bisa bikin irigasi. Sementara kita di Jkt acakadul dan kebanjiran.

clarissamey said...

setuju bngt sama paragraf terakhirnya, manusia yg membuat dan manusia yg merusak.. sayang yah padahal kalo dirawat dgn baik akan jadi warisan peradaban yg keren bngt :)

Arman said...

bagus banget museum2nya...
walaupun gua bukan penggemar museum tapi kalo ngeliat yang begini berasa impressed juga ya...

Mamana Clo said...

Di Jakarta harga tiket masuk museum terhitung murah, tapi nyari niatnya itu yang susah hehheee... Gw baru sekali doang ajak anak2 ke museum satria mandala. Emang sih museum disini kurang terawat soalnya dengan tiket gak sampe 10rb manalah cukup buat biaya operasional tapi kalo harga tiket dimahalin, makin ga ada yang mau ke museum ya hahhaa.. dilema..

Once in a Lifetime said...

@ Leony : Ephesus ya? Gua belum pernah tuh, pasti bagus ya..Iya ngebayangin orang dulu udah segitu pinter dan bijaknya.

@ Mey : Iya, sedih banget ya artefak-artefak yang harusnya dijaga dan diwariskan malah dihancur-hancurin.

Once in a Lifetime said...

@ Arman : Elo kan pernah juga bawa Andrew ke museum iptek atau apa yang keren di sono. Kalau museumnya bagus jadi menarik juga sih.

@ Xiao Yan: Masih mending dong, gua paling museum di TMII atau museum di Kebun Raya Bogor aja, itupun sembari emang jalan-jalan di sana, Mungkin harusnya subsidi pemerintah dulu ya. Oh, ya meskipun mahal tapi di sana kalau untuk anak di bawah 16 tahun dan senior di atas 60 atau 65 tahun free lho. Juga untuk orang cacat dan yang bawanya juga biasanya free atau reduced price.

Vix alexa said...

Amazing banget museum nya jadi pengen kesana juga >_<

Download film box office

Post a Comment