Saturday, November 20, 2010

Ajaran Sesat

Gua lagi emosi habis membaca sebuah artikel di majalah Ad Info edisi November halaman 22. Majalah ini dibagi gratis ke perumahan-perumahan dalam satu wilayah tertentu. Bagi yang punya silahkan baca versi lengkapnya. Judulnya Tips Memilih Klinik Kesehatan. Gua duga pasti isinya tentang memilih klinik yang representatif dengan dokter yang punya empati buat pasien, bisa berkomunikasi, teliti etc..etc..

Baca punya baca antara judul dengan isi tidak klop! Kalimat pembuka spt ini : Ada cara untuk menghemat biaya ketika kita berobat klinik kesehatan ataupun dokter spesialis. Lha, ini pan harusnya Tips Berobat yang Murah Meriah aja:) It's okay, gua juga nyadar biaya kesehatan mahal sekarang2 ini. Ada hal-hal yang bagus juga seperti menyarankan pasien bertanya sejelas-jelasnya tentang penyakit, tp makin lama makin aneh. Coba simak aja point2nya (Gua ringkas) :

1. Tanyakan apa yang pantang dan apa yang dianjurkan. Setelah itu jangan tebus resepnya, cukup kita carikan obat luar di klinik kesehatan yang kira2 lebih murah dan terbukti bisa mengobati penyakit yang sama.

Hati-hati banyak obat palsu diluar sana!!! Ada pasien gua yang sudah berobat ke dokter spesialis jantung dan diberi tiga macam obat hipertensi. Dikasihnya one by one ya, karena si engkong ini tensinya 200 ke atas terus meski udah dosis optimal jadi terpaksa dikombinasi dengan obat kedua dan karena gak ada hasil ditambah obat ketiga. Pas gua tanya "Akong beli obat di mana?"
Jawabnya, " Pancoran, harga bisa sepertiganya lho." katanya dengan nada bangga yang sama waktu gua ditanya teman apakah baju gua yang bagus beli di Sogo? terus gua dengan riang gembira jawab Mangdu:P

Setelah gua oceh2in dan kasih pengertian akhirnya dia beli obat di apotik resmi berizin. Beberapa hari kemudian si engkong datang dalam keadaan pucat, lemes dan ditensi cuma 100/60. Ternyata oh ternyata sudah pasti obat sebelomnya obat palsu sehingga dokter jantung nambahin terus karena dikira gak mempan. Syukurlah si engkong gak sampai kena stroke.

Moral : Jangan karena mau berhemat kita mencari obat di Pramuka, Glodok, Pancoran dst dst.. lebih baik uangnya buat beli tepung masukin kapsul, efeknya sama kok!

2. Jika terpaksa harus menebus, tebus separuhnya

Untuk obat simptomatik yaitu obat untuk mengobati gejala seperti obat mual, obat sakit kepala, obat pilek silahkan saja. Tapi ada beberapa obat yang tidak boleh diminum sembarangan termasuk minum separuhnya saja terutama antibiotik. Penyebab kuman resisten sehingga mutasi menjadi jenis yang makin berbahaya salah satunya adalah pemakaian yang sesuka hati misalnya kalau sudah enakan diberhentikan meski dokter sudah memberi utk 5 hari atau seminggu.

Moral : Tanya jelas ke dokter mana obat yang harus dihabiskan dan mana yang boleh distop setelah gejala-gejala penyakit berkurang atau hilang.

3. Dan, untuk jenis yang lain seperti vitamin bisa diganti buah dan untuk antibiotika bisa digantikan dengan makanan yang mengandung serat dan antioksidan tinggi.

Pingsan gua dengan sukses.. Tobaaat, vitamin gua setuju bisa ganti dengan buah dan sayuran tapi harus jumlah yang cukup banyak ya. Kalau makanan berserat biar mau antioksidan tinggi sebakul penuh gak bisa gantiin antibiotik. Gua setuju dan mengakui masih ada pemakaian antibiotik yang irrasional artinya pada infeksi virus kok dikasihnya antibiotik. Lha, jangan lupa bahwa emang ada infeksi bakteri beneran mulai dari yang ringan sampai yang fatal! Kalau emang kita sudah berobat ke dokter bukankah kita sudah percaya pada ilmunya, pada pertimbangan klinisnya, pada pengalamannya?? Jika ada keraguan tanyakan saja tapi jangan berjudi dengan nyawa kita atau nyawa orang yang kita sayangi.

Terus terang gua pernah trauma beberapa kali atas penolakan ortu ttg pemberian antibiotik pada anaknya. Pertama pada saat co-ass merawat seorang balita gendut yang terserang radang otak. Kali kedua pengalaman sejawat yang gagal memberikan antibiotik pada anak yang terkena disentri. Dua-duanya berujung pada kematian..

Agak di luar konteks, sekalian mau meluruskan tidak ada suplemen ataupun herbal yang bisa mengobati hipertensi, kolesterol tinggi, HIV/AIDS dsb dsb. Ada cerita pasien yang menghentikan obat hipertensi dan kolesterol dengan suplemen herbal dari agen ternama. Alhasil si bapak stroke dan cacat seumur hidup. Sebagai suplemen ok, bukan sebagai terapi utama. Gua setuju kalau masih prahipertensi (tensi sekitar 130 hanya kadang2 140), kemudian kolesterol tinggi karena pola makan yang salah sebenarnya bisa tanpa obat yaitu dengan merubah lifestyle dan bisa dibantu dengan suplemen. Bukan untuk mereka yang sudah terbukti tak bisa tanpa obat.

4. Jika terbukti kita membaik dengan obat dari dokter, kita tebus lagi separuhnya tapi jangan dengan resep, cukup kita tanyakan kepada apotik obat yang sama. Karena obat dengan resep lebih mahal.

Gua punya beberapa teman yang punya apotek. Apakah ada apotekernya? Ada tapi sekedar untuk izin dan hanya berkunjung sekali sebulan kalau perlu. Jadi lumrah kalau pasien gua balik2 dengan obat yang namanya mirip2 tapi sebenarnya beda isi dan tentunya bedaaaa banget khasiatnya. Dalihnya "Enci di apotik bilang ini lebih bagus/murah/favorit." Huhu... mau nangis rasanya. Sekalian berobat aja ke apotik deh. Mungkin pikirnya cuma masuk angin ini sama dada gak enak. Terpikirkah jangan2 itu serangan jantung ringan? Bagaimana kalau hanya diresepin antangi* ama si enci apotik? Belom lagi obat2an itu kompleks, obat yang bagus utk seseorang bisa jadi gak boleh sama sekali diresepin utk orang kedua meski penyakitnya sama. Kenapa begitu? Itulah yang namanya kontraindikasi. Artinya misalnya begini sama2 ada hipertensi tapi yang satu dengan irama kelainan jantung, kalau sampai mengkonsumsi obat tertentu tanpa diperiksa terlebih dahulu bisa2 lewat deh.

Gak ada ceritanya beli obat dengan resep harganya beda dengan obat tanpa resep. Gua malah curiga si penulis adalah pemilik toko obat yang sudah melanggar UU Kesehatan. Obat yang boleh dibeli tanpa resep hanyalah OTC (Over the Counter) karena dianggap tidak terlalu membahayakan even diberikan pada kondisi yang salah dan biasanya hanya terbatas pada obat maag, obat sakit kepala, obat mules dan sejenisnya.

Gua ngerti banget biaya kesehatan mahaaaal. Makanya yang terpenting adalah prevensi jangan sampai sakit dengan menganut gaya hidup sehat, punya asuransi kesehatan dsbnya. Kalau sampai sakit ya apa mau dikata, masa untuk kebutuhan lain2 kita mau mengeluarkan biaya sementara untuk kesehatan nyari jalan lika-liku buat hemat???

21 comments:

Leony said...

Gila! Kacau abis! Gue sih setuju gak setiap dokter juga baik dalam memberikan obat, alias kadang ada juga yang suka iseng ngasih obat semahal2nya *bikin gue nungging, karena sebenarnya ada versi lokal, tapi gue dikasih yang buatan jerman dengan harga 30 kali lipat per butirnya*. Namun, gue sangat tidak setuju dengan seluruh point2 yang ada di article itu. Kalo gue liat, kesannya kayak melecehkan profesi dokter yah. Obat dokter ditebus separo, cari obat di bukan apotik. No wonder elu juga esmosi jiwa.

mamipapa said...

thx yah el buat sharing infonya...kalau gw kenalan2 banyak yg suka tebus resep obat di pasar baru katanya murah (gw malah kaga tau di pasar baru ada toko obat) trus pada bilang itu asli asal tau tokonya..gw gak jelas juga, soalnya dari sodara gw, temen A, temen B, temen C pada ke pasar baru pdhl mereka semua gak saling kenal..gw jadi penasaran juga pasar baru mananya..

kalau gw sih selalu di apotik paling beda2 dikit dari pada kudu buang bensin dan macet2 ria hahaha..lagian gw bener2 jarang sakit juga, gak pernah ke dokter...takut di suntik heheh

Arman said...

huahahahaha majalahnya kok kaco banget gitu sih el?

masa sih ngasih tips kok kayak begitu. sesat banget tuh....

tapi emang masalahnya di indo begitu sih ya. banyak celah buat beli "obat" tanpa resep. padahal itu bisa bahaya ya. walaupun gak dipungkiri kadang bisa jadi lebih gampang buat kita kalo perlu obat tanpa resep. hahaha.

kalo disini kan strict banget tuh. gak ada resep ya gak bakal bisa dapet obatnya. dimanapun juga.

sampe kayak gua kan kalo bintitan kudu pake cendo mycos tuh. kalo disini obat itu termasuk obat keras yang harus pake resep. kalo di indo kan gak tuh, bisa langsung beli di apotik. pas gua kasih tau dokter sini, dokternya bilang ya kalo gua cocok, ya gua kudu beli dari indo aja. soalnya kalo disini kudu ke dokter dulu, minta resep dulu, belum tentu juga doketrnya ngasih. huahahaha....

btw trus majalah itu gak diprotes tuh ama IDI?

Veny said...

Kok artikel gitu ga disensor apa bs muat di majalah ?
menyesatkan banget , emang hrg obat yg mahal bs jadi dilema , makanya kita hrs jaga kesehatan spy jgn sakit ya ? he22

myjbless said...

Majalahnya kok bisa2nya artikel kaya gitu diterbitin yaa el..penasaran siapa sih pengarangnyaa.. thx banget dah diulas..
Lucu jga masa ke dokter tapi jgn tebus obatnya..

Quinie said...

itu majalah kesehatan kah? hihi.. lu bisa komplen tuh ke majalahnya kalo ada banyak 'ajaran' yang bisa bikin pembacanya tersesat dan bisa berujung kematian.
gua ga pernah dengan sok tau mengurangi dosis or ngatur2 sendiri. Kalo lagi sakit trus lagi bokek, gua minta obat generik deh ama sobat kental gua yang dokter. ga berani deh modifikasi sendiri. emangnya gua dokter?!

nilola24 said...

Ih, parah banget tuh artikel. Apa jadinya kalo artikel itu jatuh ke tangan orang yang notabene ga ngerti sama sekali mengenai obat-obatan.

Gue setuju sama Arman. Di indo pengawasan untuk beli obat tanpa resep kurang ketat. Malah ada beberapa apotik yang bisa mengulang resep walaupun sebenernya tidak boleh di ulang.

Sepertinya masalah kesehatan di Indo lagi gencar2nya di bahas dan di kritik ya. Seperti masalah puyer yang beberapa waktu lalu muncul secara bertahap di salah satu TV swasta.

Semoga makin ke depannya, masyarakat indo makin aware dan tau mana yang bener dan mana yang salah. Entah bagaimana caranya...yang pasti bukan dengan artikel sesat itu.

Thanks ya El buat sharingnya

Pucca said...

haha.. emang itu tips ngaco ya.. gua selalu beli obat di apotek kok bu dokter, gak brani gua beli di glodok, dan gua juga amat jarang nebus 1/2 resep, biasanya gua patuh ama kata dokter, tapi emang bener sih ke dokter itu mahal hiks..

lu bikin aja tulisan lagi el buat counter tulisan itu, dimuat di majalah itu juga edisi berikutnya :P

pinkbuble said...

Geblek!! bisa bisanya ngasi infor ngawur!

Thanks uda klarifikasi El.:)

jenzcorner said...

Wah, bokapnya Sopi hobi tuh beli obat di Pancoran, ntar deh gw ingetin. Thanks Soi. :)

Masalahnya kata Sopi banyak apotek yang beli stok obat juga di Pancoran/Pramuka, gimana dong kalo gitu? Setau gw utk harga obat di Century/Guardian lebih mahal daripada di Apotek biasa.

Clo said...

Waduu ngeri amat yah kalo sampe dapet obat palsu..
susahnya, apotek gedepun ngga jaminan barangnya asli semua walopun kemungkinannya lebih kecil..
Semoga ga dapet yang palsu2an deh..

once_alifetime said...

@ Leony : Kadang ada dokter yang merasa 'gengsi' kasih obat murah karena menduga pasiennya curiga obat murah tak mujarab. Salah dokter jg sih, hrsnya nerangin atau setidaknya menawarkan pilihan. Syukurlah, gua seneng baca komen elo berarti orang2 yang baca setidaknya bisa bersikap kritis juga.

@ Felice : Percayalah obat palsu beredar di mana2, ada yg setengah palsu alias dosisnya tidak full. Paling bagus emang jangan sampai sakit ya, Fel:)

@ Arman : Di Indonesia dokter serba salah, Man. Kalau kasih obat2 begitu doang tanpa racikan, sebagian besar pasti selanjutnya sesuka2 tebus sendiri atau malah nyaranin saudaranya beli obat yang sama tanpa resep. Makanya banyak dokter di sini memilih membuat racikan agar terhindar dari hal di atas- sesuatu yang tidak mungkin terjadi di US dan negara maju lain.

once_alifetime said...

@ Veny : Tidak semua obat mahal. Yang paling mahal adalah dari pabrik yang pertama membuat risetnya, nah setelah 5 tahun, teknologi obat tsb harus disharing ke perusahaan lain tanpa biaya. Makanya obat lama relatif lebih murah dari obat baru, selain karena belom ada persaingan harga, perusahaan yang mahal2 membuat riset pengen balik modal dulu. Betul he..he. ayo rame2 jaga kesehatan:)

@ Tine : Gak ada pengarangnya. Gua udah kirim complaint via email tap belum ada tanggapan. Iya, gak logis kan?

@ Ratu : Bukan. Majalah iklan yang suka dibagi2in gratis tapi ada artikel2 menarik juga kadang2.

once_alifetime said...

@ Tia : Iya, majalah itu kan pasti dibaca banyak orang, lantaran dibagiin ke rumah2. Pasti ada yang terpengaruh kan, sedih makanya. Aminn, semoga lebih banyak lagi yang aware dan asertif.

@ Viol : Iya, cari aja apotek yang termurah tapi masih cukup bonafid. Gua udah tulis surat complaint belom dibalas tuh.

@ Elrica : Iya tuh... ampun deh!

once_alifetime said...

@ Jenz : Jangan Noi, bisa dibilang 90% palsu. Kalau pun ada efek pasti efek placebo. Apotek emang gak 100% aman tapi mereka kan teregistrasi, kadang2 ada sidak lho. Terus dari pabrik obat yah jualnya ke apotek2, yang nyasar ke toko obat itu (kata medical rep yang suka minta ttd ke rs) adalah obat yang sudah mau kadaluarsa dan reject. Baju bolehlah beli di FO, kalau obat jangan yaaa:D

@ Xiao Yan : eh, iya gua udah jawab di atas juga. Apotek yang besar gak berani lah Xiao, setahu gua orang2 marketing dari pabrik obat pun nganjurin gua ke apotik A, B, C yang mereka pasok dan rata2 apoteknya cukup besar dan gak pernah bermasalah dengan pasien gua.

Yulia said...

Esmosi abis ya El ama yg sok tau kaya gitu. sabar ya bu. kalo gw obat dicover 100% ama kantor jd ga pernah nyoba ke tempat2 yg aneh gitu. (bersyukur). tp meski begitu, gw jarang sih beli di toko obat, better di apotik tp dicompare harganya. lbh besar resiknya.
ntar kalo uda ada tanggapan. kabarin yak..

Ah Boy's Mom said...

kalo di sini habis ke dktr sekalian nebus obat di dokternya. kalaupun mau beli di pharmacy kyk guardian gitu, pasti mereka minta resep dokter.

serem amat sih bisa ada obat palsu segala.

Pitshu said...

cuma klo kek nyokap g kan susah tuh klo sakit dikit suruh ke dokter, bukan karean pelit sih! cuma males makan obat banyak2 hahaha :)
kek kemarin sakit batuk, beli obat batuk yang mahal, ternama tau na enggak sembuh, di kasih obat batuk murah langsung sembuh ^^

ashleyprincess said...

papa gw termasuk salah seorang yg "bandel" en suka seenak2nya ngubah2 resep dokter tuh el. alasannya, "khasiat sama, cuman beda merk en beda pabrik, en lebih murah" Jd si papa suka jd dokter dadakan, beli obat bebas, klo gw radang tenggorokan (paling sering), lgs dia beliin antibiotiknya, dll. Ga bener siy yah, tp gw yakin yg sealiran papa gw ini byk.ga bole ditiru sih:( apalagi apotik skrng juga gitu, klo obat ga ada, lgs ditawarin merk lain yg ada.
Skrng sih klo ke dokter gw slalu nurut, apapun resepnya ya ditebus, tp kalo papa gw tau en nanya, dikasih obat apa? lgs deh si papa ngecek ke toko obat en ngasih tau obat sejenis yg lebi murah. Gw ga nyalahin papa sih, sbg orang awam biasa, biaya obat en dokter kan mahal bgt, jd dia suka cari yg harganya miring. beda ama gw sknrg yg full dicover company, apapun resepnya ga masalah jd ditebus.
Tp stlh dpt pencerahan dr lu ini, gw mau ksh tau papa gw spy ga sembarangan ganti2 obat, krn tnya efek sampingnya bahaya ya. Thanks for sharing el. Btw, geblek ya yg nulis artikel, bisa diboikot ama IDI tuh!

once_alifetime said...

@ Lena : Gua jg berharap suatu hari Indonesia bs spt itu:)

@ Pitshu : Obat batuk termasuk OTC kok banyakan, kecuali jenis yang kuat spt codein baru pake resep dokter. Memang, belom tentu obat mahal lebih baik dibanding obat murah.

@ Mei : Mending papa kalau ke dokter terus terang aja minta obat yang bagus dan ekonomis. Kan jadinya gak mungkin salah, emang kalau dikasih yang mahal2 pasien kan jadi enggan ya. Tapi jangan tanya apotiknya utk menghindari kesalahan. U r welcome:)

once_alifetime said...

@ Yulia : Syukurlah dapat company yang baik. Harusnya asuransi kesehatan itu wajib dimiliki semua orang deh.

Post a Comment