Sunday, October 19, 2008

Don't judge me by my size nor appetite

Beberapa waktu yang lalu, aku dan beberapa teman sejawat diundang lunch oleh sebuah farmasi. Sambil menunggu yang lain-lain aku pun asyik mengambil sushi, salah satu makanan favorit. Tiba-tiba seorang seniorku masa pendidikan dulu berbisik pada temanku, “Eh, Elisa lagi isi ya?” sambil melirik ke arah perutku di balik blus longgar yang kupakai. Hah, apa nih maksudnya? Isi roti pas sarapan sebelumnya dan beberapa suap sup appetizer sih iya. “Eh, bukan kok” kata temanku sambil tersenyum. Tapi ia merasa perlu menerangkan lagi..”Maklum, ia kan buteki (istilah Depkes untuk breastfeeding mother).. Tapi sebenarnya dari residen juga appetitenya bagus” Huh, kalau ngga ingat untuk sedikit jaim di depan orang banyak, pasti temenku udah di #@#@@@.

Terus keinget lagi kejadian bertahun-tahun silam. Waktu itu aku lagi seneng banget ikut fitness tepatnya aerobik. Selain membuang stres juga badan terasa fit. Side effect yang juga sangat menyenangkan adalah BB rada turun. Saat sedang senang-senangnya, ketemu dengan seorang medical representative di RSCM. “Eh, dokter… kok cepat langsing lagi?” Sementara aku lagi mencerna makna kalimat tersebut, ia bertanya lagi ” Gimana kabar sih kecil? Kapan lahirnya..” What?? Saat itu kan aku masih gadis, lajang, single. Terus emangnya kapan BB ku sebegitu beratnya sampai dikira gravid tua? Mungkin melihat ekspresiku yang sudah seperti sup Tum Yam (minus rasa manis tentunya) ditambah tatapan mata bak laser, ia pun menyadari kesalahannya.. dengan gelagapan bercampur malu ia berkilah, “Oh, iya.. waktu itu dokter agak gemukan ya eh, maksudnya sedikit gemuk, eh.. ”

Sedihnya atau untungnya kejadian di atas semua, pengomentar atau pelaku kejahatannya adalah para pria, yang aku anggap hipokampus (pusat memori otak) dan korpus kallosum (penghubung otak kanan dan kiri)nya tidak secanggih wanita. Untungnya lagi di bagian psikiatri selain diajarkan meng-psikoterapi pasien, sebelumnya bisa menterapi diri sendiri dulu. Pikiran positif bisa menggantikan yang negatif. Rasa trauma jadi lucu…

Selain itu berusaha mengingat-ingat pujian basa-basi yang disampaikan orang ..”Kirain masih kuliah, eh udah punya anak toh, jeng?” dan sejenisnya. Pelajaran dari peristiwa2 ini.. 1. Olah raga untuk sehat bukan untuk kurus agar dipuji2. Jangan biarkan rasa bersalah atau sedih mengalahkan nafsu makan. Karena dari penelitian yang ada, longevity itu bukan melulu karena pola makan melainkan attitude yang menyertainya. Kalau setiap mau makan kita sibuk menghitung kalori itu malah menaikkan kortisol, metabolisme glukosa pun berlangsung tidak sempurna.3. Anda yang menentukan mood anda hari ini. Kalau dengan 1 komentar anda terjungkal atau dengan 1 pujian anda melambung, coba kalau ada yang mempermainkan anda, dilambung, dijatuhkan, lambung lagi, jatuh lagi.. capek nggak sih?

Mommy's Pride


Pernah nggak terlibat atau terjebak dalam diskusi para ‘mommy’? Terutama yang saling membandingkan prestasi anak masing-masing. Mungkin karena mamaku jarang mau memuji kami, aku pun tidak terbiasa membanggakan Denzel. Padahal dulu aku sering complaint ke mama, kalau tante dan teman-temannya udah ngebragging ttg anak masing-masing paling mamaku tersenyum-senyum simpul. Bahkan setelah mendapat ranking untuk pertama kali dan terakhir kali, mamaku menganggap hal itu biasa-biasa aja. Waktu aku tanya boleh nggak piagamnya dipigura (Karena mamaku pasti gak akan cerita aku berharap tamu yang datang bisa ngeliat sendiri.. Ck..ck masih SD udah haus pujian) ternyata jawabannya tidak perlu.Aku ngerti banget kalau para mommy memang seneng banget cerita hal-hal yang baru dipelajari bayinya atau bila anak mereka melakukan hal-hal yang cerdas dan menggemaskan. Tapi aku pernah greget banget waktu ketemu seorang mommy yang maksa aku mengakui kejeniusan bayi 2 bulannya yang sudah bisa manggil mama, papa, mau susu dsb dengan pronounciation yang tepat.“Oh ya memang kadang bayi bisa babling seperti ada artinya ya? Tapi itu bukan bahasa karena mereka belum mengerti.”“Nggak kok. Bayi saya setiap lihat saya langsung manggil mama,, mama.. susu”Busyet, mungkin bayinya termasuk bayi ajaib dan perlu masuk dalam Guiness Book of Records.Berbekal rasa antipati terhadap ‘kenorakan’, aku malah jadi berhati-hati kalau ada yang menanyakan keadaan Denzel, karena kalau sekali sudah mulai aku juga kebablasan. Contohnya pernah memutar video bayi Denzel lagi goyang-goyang kepala ngikutin irama di handphone untuk medrep2 yang lagi ngebahas musik untuk bayi.So bayangin nih, saat kemarin di CitraLand lagi ada pameran sebuah fotostudio. Karena Denzel pernah difoto di sana, akupun tertarik untuk mendaftar satu sesi pemotretan lagi. Tiba-tiba mataku tertumpuk pada banner besar yang berisi beberapa foto bayi yang montok dan lucu. Eh ada foto Denzel yang lagi tertawa dan dizoom dengan ukuran paling besar. Langsung aku dengan noraknya berteriak-teriak kpd mbak penjaga pameran. “Eh, mbak, Itu kan foto anak saya.” Mbaknya masih bingung dan tidak mau mengakui, mungkin karena sudah tanpa izin memasang foto. Aku dengan ngotot sampai akhirnya keinget foto yang sama ada di dompet dan aku tunjukkan. Alhasil pemilik foto studio mengakui dan memberi bonus untuk paket yang aku ambil. Beberapa pasangan yang sedang mengambil paket foto tersenyum-senyum simpul melihat seneng dan bangganya aku. Padahal dipikir-pikir belum jadi bintang iklan atau menang lomba foto. Norak ya? Tapi akibat kenorakanku sekarang aku mau lebih sabar terhadap ‘Perkumpulan Mommy’ aku juga berjanji tidak menjudge mereka norak tapi menerimanya sebagai Mommy’s pride…