Thursday, October 29, 2009

Hachi Hachi Bistro Taman Anggrek


Setelah sering mendengar dan membaca rekomen tentang tempat ini, akhirnya kita tertarik buat nyoba  untuk memuaskan rasa penasaran. Kalau lewat tempat ini sih udah sering, tapi anehnya dulu-dulu gak tertarik, soalnya sebelumnya kan ada restoran Japanese food juga di lokasi itu, tapi yang pake sushi bar  gitu, cuma gua lupa namanya sama atau nggak ya? Dan rasanya cuma biasa aja, gak terlalu special.

Kita mesen Salmon Tower Maki 38K (fresh salmon on top of crabstick, cucumber roll, tobiko with spicy ponzu vinaigrette), Rainbow roll 39K (tempura crunch, aioli topped with fresh tuna, salmon, ebi, avocado, goma sauce, wakabe) dan Tobiko (flying fish roe) 8K. Minumnya ocha 9K.

Tobikonya so so deh. Selanjutnya Salmon Tower Maki datang dalam bentuk unik, disate dan ditancapkan vertikal seperti menara kembar:) Tapi rasanya menurut gua cukup enak doang tapi nggak yang akan bikin ngangenin. Pesanan ketiga, Rainbow roll lebih enak dari ekspektasi gua, mungkin karena ada crunchy2nya, ikannya juga terasa fresh, enak dan mantap:) Pokoknya kombinasi keseluruhan terasa pas dan legit.  Pssstt, gua malah lebih demen ini daripada jumbo dragon rollnya Sushi Tei dan lebih murah yang ini lhooo:)). Recommended deh.  Sayangnya gari (sweet pickled ginger) dan shoyu (Japanese soy sauce) nya gak seenak Sushi Tei. 

Gua baru aja baca reviewnya di kaskus mengenai pelayanannya yang amburadul dan tidak profesional. (Hehe telat ya, udah habis makan baru baca, gua cuma mau nyatet alamatnya biar postingan komplet kok). Nah, yang gua alamin sendiri adalah pas udah selesai liat2 menu dan mau mesen, kan gua panggil seorang pelayan cowok. Setelah datang, masa sambil megang notes dan pensil di depan kita, dia berteriak ala Tarzan ke temannya yang di depan pintu masuk : "Sini..sini hoi, mau mesen nih!!!" Lha gimana si mas? Mana temennya pada gak ada yang mau mendekat, cuma senyam senyum dari jauh. Grrrrrr... Gua langsung tanya aja :"Kenapa, mas? Mas yang tulis bisa kan?" Awas kalau gak bisa, gak tau yah kita udah laper arrrghhh.. Langsung dia cengengesan dan nulisin pesenan kita. Huh, padahal dia juga lagi gak sibuk. Mungkin  mereka ada pembagian jatah meja?  Setelah itu sih lancar. Pesanan juga lumayan cepat datangnya. Untunglah terbayar sama makanannya yang enak dan harga yang sesuai.

Results : 

Ambience : 7,5/10

Food : 8/10

Price : 8/10

Service : 6,5/10

Overall : 7,8/10


Hachi-hachi Bistro

Mal Taman Anggrek Lt.3 Unit #311

Telp (021) 56999527

Sunday, October 25, 2009

Tamani Kafe





Sabtu kemarin giliran acara ngumpul-ngumpul dengan teman2 kolega yang pastinya acara makan-makan. Kali ini kita makan di Tamani Kafe Tomang. Dulu pas pacaran sih seringnya sama hubby ke Tamani Dago Bandung. Ke Tamani Jakarta malah jarang, cuma sekali pas Tamani Tomang ini buka. Habis seringnya makan di mal kali ya, gak kepikir lagi ke Tomang hanya buat makan doang:)

Anyway, kemaren gua nostalgia aja ama menu2 Tamani. Ternyata banyak yang baru. Gua pesen Wagyu Sirloin Steak 180 g 218K karena gua belum pernah nyoba wagyu di steak, paling di shabu-shabu, itupun irisannya tipis2 dan rasanya emang enak banget. Gua udah cukup lama mendengar berita tentang si wagyu yang dahulu di negara asalnya, Japan merupakan komoditi yang disayang dan dimanja. Bahkan ada massage khusus untuk si sapi dan diberikan minuman sake juga. Hehe.. bukan, bukan supaya si sapi bahagia sebelum di sembelih (maaf ya sapi..) tapi ceritanya jaman dulu tuh peternakan kan kecil-kecil jadi sapinya sering kram dan mengurangi kualitas dagingnya. Sementara sake diberikan untuk merangsang pencernaannya so makannya banyak dan semakin empuk dagingnya. Kalau sekarang wagyu kan kebanyakan dari Australia, gua rasa sudah absen pijat dan sake, atau paling2 diberi beer ? Ceritanya juga selain terkenal karena tender dan juicy, Wagyu meskipun berlemak mengandung banyak unsaturated fat, omega3 dan 6 jadi relatif lebih sehat:) *fakta yang dicari2 utk mengurangi rasa bersalah*

Teman-teman kolega ternyata pada mesen yang sama, katanya ikut aja sama si pakar kuliner he..he.. jadi seragam aja deh pesenan kita hari itu. Selain itu gua pesen seafood chowder 26,9 K+ soup hat 10,5K dan fresh kiwi juice 24K

Servicenya menurut gua kurang, kelihatan banget si waitress lagi ditraining. Begitu dia mengantarkan steak kan gua tanya :"Mbak, ini yang medium kan kematangannya?" Si mbak tanpa menjawab langsung berpaling ke teman gua, "Pak, pesen sirloin steak?" Kolega gua menjawab,"Bener, tapi punya saya yang well done." , eh si mbak tambah bingung dan ngider2 tanya pertanyaan yang sama, karena makin bingung ditanya2in akhirnya si mbak makin panik dan pergi mencari pertolongan. Tak lama kemudian, supervisornya datang, kekacauan ternyata belum teratasi karena nampak-nampaknya steak kita medium well semua, padahal kitanya kan pesen steak donenessnya beda-beda! Dan wagyu kan enaknya kalau gak medium rare, medium biar nggak menjadi keras.

Untunglah ternyata enak banget, maknyuss, top markotop:)) Rasanya sangat tender. Begitu gua gigit, tak ada perlawanan yang seperti biasa gua dapetin dari steak sekalipun yang ngaku2 import. Kunyahan pertama langsung merangsang segenap sistem saraf gustatorik gua. Rasa umaminya yahud:)

Supnya biasa, standar. Topi rotinya kurang enak:( Mungkin terlalu cepat diambil dari oven, yang crispy cuma lapisan atasnya.

Results :
Ambiance : 7/10
Food : 8,5/10
Price : 7/10
Service : 6/10
Overall : 7,5/10

Tamani Kafe
Jl. Tomang no.15
Jakarta Barat
Telp : (021) 56943269



Monday, October 19, 2009

Pasien Idaman

Kalau lagi blogwalking, gua suka ketemu sanjungan maupun keluhan untuk dokter tertentu. Sebagai orang yang kita percayai dapat menyembuhkan segala penyakit kita (kuratif) , bahkan kalau perlu mencegah jangan sampai kita sakit sekaligus memperbaiki status kesehatan (preventif dan promotif) dan kalau udah terlanjur sakit, mencegah kerusakan menjadi lebih parah (rehabilitatif) pasti kita menaruh ekspektasi yang cukup tinggi pada dokter kita tersebut. *Kalau dosen public health gua baca blog ini dia pasti seneng ajarannya masih gua inget hahaha..*
a
Kalau sesuai harapan maka dokter itu akan jadi orang yang kita hormati dan senangi. Kalau sampai sebaliknya tentu kita bakalan kecewa, kesel, geram dan marah. Sah-sah aja, gua sendiri pun pernah jadi pasien kok dan tak jarang pula membawa anggota keluarga menjadi pasien:) Gua juga punya dokter idola dan ngedumelin dokter2 tertentu yang menurut gua udah melanggar sumpah Hippocratesnya!
a
Dulu nenek dari pihak bokap setiap berobat selalu membawa dua keranjang besar (yup, bener keranjang yang masih terbuat dari tikar itu) salak! Alasannya biar si pak dokter lebih memperhatikan dia, lebih ramah, dan paling penting lebih teliti! Waktu itu biar ortu bujuk bagaimanapun, oma bersikeras menenteng keranjang salak itu dengan menempuh 9 jam perjalanan naik mobil carteran dari kota kecil tempat dia tinggal selama itu. Akhirnya papa menawarkan diri untuk membeli buah2an di kota saja, oma menolak mentah-mentah karena menurutnya salak itu pilihan terbaik dari kebun salaknya, wong pedagang buah aja selalu rebutan membeli hasil kebun oma.
a
Waktu itu gua masih kecil jadi hanya manggut-manggut mendengar argumen oma. Terus terpikir kalau pasien2nya ada yang tanem salak, tanem pisang, tanem mangga lama2 si pak dokter bisa-bisa buka toko buah di samping apotik:) 
a
Setelah gua lulus jadi dokter ternyata sering juga dapet aneka bingkisan : mulai dari buah-buahan (gak ada yang ngasih salak sayangnya), kue, roti, tart, masakan, baju, baju Denzel, buku, ayam hidup dan angpao (saat PTT). Senang? so pasti.. Apalagi kue bikinan pasien, hmmmm rasanya enak tak terkira, gua rasa karena ada bumbu ketulusan dan rasa berterima kasih. Bahkan roti merk tertentu pun rasanya beda lho dibanding gua beli sendiri. Rasanya jauh lebih lezat. Pertanyaan selanjutnya: apa gua lebih ramah dan lebih perhatian sama pasien yang ngasih ketimbang nggak? Jujur gua jawab nggak. *Gua kan ramah pada semuanya :P* Lebih teliti? nggak juga. Gua selalu biasain teliti mulai dari awal praktek biar jadi kebiasaan yang gak bisa lekang dalam keadaan apapun. *masa??*
a
Sebagaimana para pasien memilah dokter menjadi dokter yang disukai maupun tidak; yang bakal sering dikunjungi lagi atau' kalau-perlu-tulis di blog-biar-temen2-gak-menderita-spt-gua' akan tetapi sebaliknya pernah gak kalian kepikir kalau dokter juga mempunyai harapan tertentu terhadap pasien maupun keluarganya? Berawal dari obrolan ringan di dokter lounge sampai curhat mengharukan dari temen-temen kolega gua mulai dari dulu pertama praktek bareng di klinik kecil pinggiran Jakarta  hingga sekarang di rumah sakit, hampir semua dokter juga pernah memiliki pasien idaman, pasien di atas rata-rata, pasien standar, pasien di bawah standar hingga pasien-tolong-jangan-balik-lagi-plisssss. 
a
Gua coba kumpulin aja yah. Ada anggapan-anggapan pasien tertentu yang justru membuatnya jauh dari kriteria pasien idaman. Sebagian pasien dan keluarga beranggapan mereka akan disukai, diingat dan dirindukan jika:
1. Punya duit
Banyak pasien takut diremehkan oleh dokternya, takut kalau dianggap kere maka pemeriksaan hanya setengah-setengah. Padahal kalau diperiksa setengah2, tarif dokter gak diskon 50% kan? Maka sibuklah ia  dengan cerita bahwa ia adalah seorang direktur, punya perusahaan, punya bisnis beromzet bla..bla...bla yang hanya membuat dokter tak bisa konsentrasi.
a
Seorang teman gua dengan pongah berkata pada seorang dokter obsgyn di Indonesia yang kebetulan pernah menangani kehamilan gua juga. "Dok, asal tahu ya, selama ini saya tidak pernah berobat di Indonesia. Dokter yang pertama saya kunjungi." seraya mengeluarkan hasil pemeriksaan USG, lab seabreg2 dari negara jiran Singapore. Perkataanya hanya menyiratkan dua hal bagi si dokter: Pertama, dia mampu  ke LN dan sudah operasi segala macam. Kedua: ini pertama kali gua percaya lho ama dokter Indonesia, awas kalau sampai salah. Tak heran si dokter idola gua karena super perhatian dan super ramah menurut gua bisa tiba-tiba berhenti tersenyum, mengumpulkan hasil-hasil pemeriksaan dan menyerahkannya balik sambil bilang : Silahkan balik saja ke LN utk meneruskan pengobatan. Gua pun tak kuasa untuk membela teman yang satu ini.... Teman gua merasa kaget bukan kepalang, menurut dia, dia hanya ingin membuat si dokter merasa terhormat sudah 'terpilih'.
a
Hal yang tak kalah penting adalah lebih baik jujur, kalau memang dana untuk berobat hanya tersedia segini jangan dibesar2kan atau jangan dikecil2kan. Untuk penyakit kronis tertentu butuh terapi yang kontinu. Percuma membeli obat mahal tapi hanya bisa sekali tebus, lebih baik obat yang lebih ekonomis tp masih salah satu yang terbaik yang bisa direkomendasikan dokter dan bisa terus menerus diberikan.
a
2.Tunduk sepenuhnya
Gua pernah beberapa kali ketemu pasien type begitu. Apapun yang kita katakan maupun sarankan semua dianggukin. Takut kalau dibilang ngeyel, dibilang sok tahu padahal ada bedanya lho antara pasien kooperatif dengan hanya tunduk saja. Pengalaman gua kalau memberi penjelasan biarpun sebisa mungkin sudah dengan bahasa awam, sepelan dan sejelas mungkin tetap ada kemungkinan pasien tidak mengerti, tapi mereka selalu jawab sudah paham. Makanya suka gua balik setelah gua jelasin, jadi menurut ibu/bapak sakitnya apa? atau Oh, ya coba ibu/bapak jelasin balik ke saya cara minum obatnya tadi bagaimana? Melihat tampang polos melongo atau memelas gak jadi kesel deh, biasanya juga diulang lagi penjelasannya.
a
Saran gua, tanya, tanya dan tanya! Mau pasiennya rame kek, antrian udah mengular di luar, suster udah bersiap-siap ngantar keluar tetep aja tanya kalau belum mengerti. Karena kalau elu sampai salah tangkap atau mengira-ngira sendiri, kesehatan yang elu korbanin gak ada gantinya, nah rugi sendiri kan?
a
Tapi ya biar tidak menyita waktu pasien lain terlalu banyak mohon persiapin pertanyaan sebelum masuk ruang praktek, kalau takut lupa bisa bikin catatan dulu. Jangan bilang : "Dok, sabar ya ini bener-bener pertanyaan terakhir deh, tadi kan baru nanya 8 pertanyaan kan? Apa, oh udah 21? Apa ya?? duh tuh jadi lupa deh, tapi penting kok, sabarrrr ya dok saya pikir2 duluuu...."
a
3. Pintar
Kalau ini ada benarnya. Gua tuh demen pasien yang udah mempersiapkan diri, misalnya udah baca buku tentang penyakitnya, udah browsing-browsing internet, udah diskusi ama sesama penderita etc. Tapi kalau sok pintar? amit-amit deh, untuk semua dokter ini pasti termasuk kategori terakhir pasien di atas. Sok pintarnya kadang bukan dari ilmu yang benar lagi tapi dari hasil tanya toko obat, yang jagain apotik hingga hasil ngobrol2 dgn ncim2 jualan di pasar. "Dok, obatnya saya berhentiin soalnya kata si tukang apotik, obat itu bukan utk X tapi Y" Padahal 1 jenis obat kadang dipakai untuk beberapa indikasi. Pusing gak coba. Kalau tidak jelas atau khawatir tanyakan pada kunjungan berikut, jangan mengambil keputusan sendiri.
a
Pasien yang terlalu pinter matematika juga memusingkan.  Misalnya karena kemarin ia dapat obat A 10 mg, sekarang diganti obat B 50mg langsung berteriak2 :" Nggak mau, berarti penyakit saya makin berat ya? kok kemarin 10 mg sekarang 50 mg. Nanti ginjal/lever/otak saya rusak." Dijelasin bahwa itu obat yang berbeda dan tidak bisa dibandingkan mg nya, tetap ngotot.  Akhirnya gua bilang aja :" Kalau gitu jangan suka minum Panad*l ya pak, isinya kan paracetamol 500 mg, 50X lipat lebih kuat lho. Hati-hati ginjal/liver/otak rusak." Setelah terpana sebentar si bapak langsung tersipu-sipu :" Bener juga ya, dok"
a
Atau nih pasien kolega gua yang ngatur dosis seenaknya, karena merasa ada sedikit efek mengantuk, pasien membelah obat dan langsung tidur dengan sukses 24 jam! Obat yang canggih itu adalah tipe XR (Extended Release)  yang dikeluarin perlahan2  selama 24 jam jadi kalau sampai dibelah kapsulnya langsung diserap dalam waktu sesingkat2nya dan dibuang dalam waktu singkat pula, Jadi kadar obat dalam darah emang sempet tinggi tapi turun drastis, selain tidak mencapai efek pengobatan, efek samping ngantuknya juga menjadi-jadi.
a
4. SKSD
Gua seneng bisa deket sama pasien, bahkan ada yang udah kayak temen lho. Tapi yang gua sebelin sebenarnya gak deket tapi berusaha memproklamirkan bahwa dia deket. Contohnya mama pasien gua yang memang sudah separuh baya, ia ngotot mau panggil nama gua aja baik selama telpon nanya2 ttg penyakit anaknya maupun saat konsultasi. Katanya anaknya seumuran gua soalnya. It's ok. Tapi yang bikin gua shock waktu di lorong rumah sakit ada yang manggil dengan lantang :"ELISSAAAA!!!" Dalam hati gua pikir karena gua prakteknya sebelahan ama dokter anak, wah ada yang kasih nama anaknya Elisa jaman sekarang, keren dah kirain nama itu udah punah. Tapi kayanya si anak Elisa ini rada budek atau nakal kali ya soalnya mamanya manggil2 terus makin lama makin keras sampai semua celangak celinguk. Sampai akhirnya tante tersebut menepuk bahu gua : " Haiya, Elisa kok dipanggil gak nyahut2!" OMG! Terserah deh mau nyebut gua jaim atau apa, gua mau hilang aja waktu itu soalnya orang2 seisi ruang tunggu melongo liatin kita.
aa
Terus untuk cowok yang ke dokter cewek atau sebaliknya ya cewek yang ke dokter cowok, jangan memuji berlebihan tentang kecantikan/ kegantengan dokter tersebut apalagi yang tampangnya biasa2 kaya gua pasti merasa si pasien cari muka banget deh, rasanya kurang etis aja kali ya.
a
Gua kalau dipuji yang aneh-aneh malah merasa dilecehkan dan merasa dijadikan obyek alih-alih senang, kalau pujian tulus dan sepintas lalu ngga masalah. Kita kan bisa ngerasa juga.. Pengalaman yang gak bakal gua lupain di mana  ada suami pasien di depan istrinya tiba2 ngomong begini, :"Dokter cantik banget ya, lembut pula ngomongnya nggak kayak istri saya mulutnya kayak mercon. Dokter udah punya suami? Bilang tuh suaminya beruntung banget dapet istri kayak dokter." Gua rasa pulang2 si oom ini tidak hanya dapat serangan mercon tapi sekaligus bom atom!
a
5. Cerita yang menurut dia pengen didenger si dokter
Artinya menutup-nutupi a.k.a gak jujur a.k.a bohong.  Sembilan puluh persen pasien gua pasti menurunkan jumlah rokok yang diisapnya, ketahuan kalo gua cross-check ke keluarganya. Jangan kalau ditanya, :"Merokoknya berapa banyak pak hari ini?" "Anu, dikit kok dok paling 5 batang....." kemudian diteruskan dalam hati "..sejak duduk di ruang tunggu". Gak bohong lho dok:)
a
Pertanyaan yang paling banyak dimodifikasi jawabannya adalah frekuensi berolah raga, pola makan dan keteraturan minum obat. Lebih baik jujur sejujurnya dengan risiko diomel-omelin (percaya deh kalau masih diomelin berarti dokternya masih sayang) daripada menutupi kenyataan. Atau karena takut mendapat diagnosa penyakit yang 'seram', menutup-nutupi gejala. Karena akibat detail yang elu anggap gak penting bisa saja merupakan kepingan puzzle yang hilang dalam diagnosa, pemeriksaan maupun pengobatan. 
a
6. Jangan sampai komplain ttg si dokter (..ntar aja di belakang)
Ini cerita terbanyak dari teman-teman GP (general practitioner/dokter umum) gua yang tugasnya di depan gawang alias di bangsal perawatan. Kalau dokter spesialisnya belum datang, mereka ngeluh terus tentang dokter tersebut, dari yang datangnya telatlah , gak kasih penjelasan yang jelaslah , gak mau dengerinlah  etc etc. Karena GP relatif kan masih muda jadi mungkin lebih enak dicurhatin sekalian diomelin. Anehnya begitu dokter yang udah didumelin pagi  siang malam tersebut muncul baik pasien maupun keluarganya diam seribu bahasa, cuma bisa tertunduk2 ramah menghadapi kharisma dan kewibawaan sang dokter tenar. Saat ditanya adakah yang mau dijelaskan atau kurang mengerti serempak menjawab :   " Sangat jelas, terima kasih banyak pak dokter." Tinggal si GP yang gigit jari saking dongkolnya. Kadang iseng mereka suka  nyelutuk : "Tadi komplen ttg dokter, dok" langsung disanggah habis2an. Haishh, kalau ada yang mau dikomplen langsung aja ke dokter ybs. Siapa tahu ia emang pantas dikomplen, syukur2 bisa introspeksi, yang untung kan pasien juga??
a
7. Orang penting ( yang tandanya nerima hp tak henti-henti)
Mungkin mau nunjukin bahwa dunia bisa berhenti berputar kalau dia menahan diri tidak menjawab handphone walaupun cuma 15 menit. Seorang kolega senior yang sudah ternama bercerita dia baru saja mengusir pasien yang menerima handphone saat diperiksa. Si pasien dipersilahkan menerima telpon mahapenting di luar dengan konsekuensi pasien selanjutnya masuk duluan. Fair dong? Masa membiarkan pasien-pasien lain menunggu ia bertelpon ria. Tentunya para dokter juga harus menahan diri bersikap sama, tidak menerima telpon yang tidak penting atau memangkas sesingkat mungkin. Masalahnya justru pasienlah yang sering menelpon dan karena merasa penting tidak mau percakapannya dipangkas. Duh, pusing lagi !
a
Gua yang belum seberani kolega gua hanya bisa melototin pasien gua, seorang cowok usia 30 an yang selagi konsultasi menerima telpon dari mamanya. Bukannya mengatakan bahwa ia sedang di ruangan dokter, ia malah asyik bergosip dengan mamanya tentang hal remeh temeh yakni si anu mengata-ngatain mamanya begini, kemudian ia menjawab begitu. Bolak balik begitu. Plisss deh. 
a
8. Ingetin kesejahteraan dokter berasal dari koceknya.
Nggak usah diingetin semua dokter juga tahu, mereka memberikan jasa, menjual jasa. Kadang-kadang sebagian pasien maupun keluarga pasien VIP dan VVIP, kalau perlu VVVIP (nggak semua sih) yang menuntut habis-habisan service yang diterima harus sebanding dengan uang yang dikeluarkan. Sebenarnya otomatis pastilah, wong kamarnya aja bisa buat arisan, perbandingan suster dengan pasien juga lebih kecil, layar TV LCDnya lebih besar, makanannya lebih enak etc tapi kalau pelayanan si dokter mah sama aja kan? Apa pasien kelas 3 hanya diperiksa paru tapi tidak jantungnya, pasien kelas 2 diperiksa 3 menit, pasien VVIP 30 menit. Silahkan laporin ke Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) kalau ada. Lama tidaknya pemeriksaan biasa lebih kepada kompleksitas penyakit yang diderita dan progresivitasnya. Kalau penyakitnya kronis otomatis pemeriksaan tidak selama pada pasien akut yang dalam hitungan jam bahkan menit fungsi organ bisa berubah.
a
Gua pernah selagi hendak memeriksa pasien VVIP, sang suami pasien bertitah kepada anak cucunya untuk minggir memberi tempat buat gua. Ujarnya dengan keras. " Jangan sampai 250 rb sehari utk dokter ini terbuang percuma." Hati gua mencelos, rasanya sedih banget. Waktu itu gua baru selesai spesialisasi, masih hijau dan belum terbiasa menghadapi pasien 'kaya'. Setahu gua pasien-pasien di RSCM miskin duitnya tapi kaya senyum, kaya hatinya, kaya ketulusannya. Memang akhirnya suami pasien ini berangsur-angsur semakin ramah dan paling rajin mengantarkan istrinya untuk kontrol. Gua anggap aja waktu itu dia sedang stres memikirkan penyakit istrinya. Tapi cerita dari teman-teman kolega membuat gua semakin 'kebal'. Semuanya pasti pernah mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari mulai sindiran hingga limpahan amarah. Biasanya yah,  semakin berpendidikan atau semakin bijaksana (Bijaksana gak mesti sekolah tinggi kan?) pasien,  semakin nyaman hubungan dokter-pasien. 
a
Sebagai informasi, banyak dokter yang rela tidak menerima honor dari pasien tidak mampu. Banyak dokter juga yang merujuk pasien 'sulit' buat kolega yang dianggap lebih sabar. Sulit bukan kasusnya sulit tapi kepribadiannya lho. Mereka rela kok tidak menerima honor apalagi kalau dirasa honor tidak diberikan tulus. Dalam hak dan kewajiban dokter disebutkan, boleh seorang dokter menolak seorang pasien dan merujuknya asalkan tidak dalam situasi emergency atau tidak ada dokter lain. 
a
Terus sesuai judul postingan gimana dong jadi pasien idaman. Harap simpulkan sendiri aja ya dari point2 di atas. Intinya adalah asertif dan kooperatif. Bisa merasa bahwa ia adalah mitra dari sang dokter jadi memiliki motivasi dan komitmen untuk bersama-sama mencapai target pengobatan yang sudah direncanakan *wah khas bahasa yang digunakan waktu rapat depkes hehe*
a
Duh, panjang banget postingan gua kali ini. Mudah2an tidak bosen bacanya. Sekedar cerita dari sisi gua dan teman-teman kolega, mungkin kelihatan berat sebelah ya, silahkan kalau mau dicomplain atau dikomplitin:) 
a
Sebenarnya masih banyak banget cerita2 yang gua dapet dari temen2 kolega tapi kapan-kapan dipostingan berbeda aja ya:)

Saturday, October 17, 2009

Chatter Box

Cerita2  sedikit ya  soal  makanan di Chatterbox Emporium Pluit kemaren. Yang menurut pramusaji merupakan signature dishes antara lain Hainan chicken rice 42,5K so banyak dari kita yang pesen. Tersedia dalam bentuk fried dan steamed chicken. Nasinya berasa harum kaldu dan ayamnya lumayan empuk. Terus pesen Grilled chicken breast 45K. Dagingnya biasa aja tapi saus jamurnya enak. Yang lain pada pesen Fish and Chips 40K, ikannya ikan Dori ;Nasi Goreng Ciapo 35K, Chinese Style Black Pepper Steak 42,5K dan Rice Beef Siram 40K. Dua masakan terakhir minta ampun deh datangnya hampir sejam setelah hidangan yang lain muncul.

Agak kecewa juga sih karena signature dish lainnya yang enak kan Char Kuew Tiao. Setelah teman dan ipar gua pesen, lama baru dikasih tahu sudah habis, mungkin karena kalau gak salah, gua lihat di meja lagi ada promo 50 % discount on second plate of Char Kuew Tiao (nggak yakin juga). Tapi setelah kita selesai makan, ada aja orang yang pesen dan diladenin. Apa karena kita pesennya 2 piring dan di sono cuma pesen 1 *curigation..* Yang laen sih becanda mungkin orangnya bawa kuew tiao sendiri dari C4 hihi...

Minumannya nothing special : Mocca Delight 22,5K; Milk Shake 22K; Blended Tea 19K; Ice Lemon Tea 13K; Ice Tea 8K, Watermelon Juice 21K. (cuma satu-satunya jus dari buah segar), yang lain seperti orange juice dari kaleng. Padahal bikin juice kan gampang ya, knp pula gak disediain buah2an segar:(

Overall makanan cukup enak, pelayanan ramah tapi agak lambat, kalau udah bingung mau makan apa di Emporium boleh mampir ke Lt 3 di dalam Sogo.

Tuesday, October 13, 2009

Cari Perhatian

Minggu malam kita makan-makan di Chatterbox Emporium Pluit. Denzel seperti biasa sehabis makan di highchair langsung minta turun melanglang  buana  deptstore secara Chatterbox ini ada di dalam Sogo. Karena ada acara tiup lilin untuk cousinnya dan gua pun disuruh ikutan berpose karena ultah kita berdua deketan:), Denzel kita panggil untuk masuk kembali ke resto. Dicari-cari ternyata dia lagi kenalan ama daun muda, anak cewek manis kira-kira berusia 1,5 tahun yang juga sedang main-main ditemani BSnya.aa

Entah karena lagi asyik main gak mau diganggu atau kesel digendong paksa sama papanya, ngamuklah si Denzel. Caranya adalah dengan menegangkan badan hingga susah digendong, teriak2 sampai mukanya merah padam dan mulai aksi-aksi cari perhatian.a

Dulu, waktu setahun lebih memang nih anak kalau marah suka cari perhatian, yaitu dengan melakukan hal-hal aneh yang dia tahu kita bakalan kaget or marah, contohnya jilat lantai, gigit seprai, boneka dll. Aksinya itu sambil melirik kita jadi ketahuan banget dia pengen dilihatin dan dibujuk. Akhirnya gua dan hubby sepakat selama aksinya gak nekad hingga membahayakan, kita cuekin aja. Kita lanjutin ngobrol, baca majalah dan sebagainya sampai akhirnya dia bosen dan nyamperin kita dengan mood yang udah biasa. Gua perhatiin kalau semakin kita bujuk atau tegur, semakin seru aksi-aksi anehnya.

Nah, kemarin tuh si Denzel begitu lagi, tissue digigit dan dikunyah-kunyah. Temen2 gua kaget dong dan langsung membujuk2 dia. Makin diliatin banyak orang, makin cari perhatian deh. Apalagi tahu ada kamera yang lagi jepret2 merekam aktingnya. Dah bener2 overacting deh...sendok kue digigit menggantung2 di sudut mulutnya. Kue tart maunya makan sendiri dengan suapan raksasa dan belepotan, krim kue diambil pake tangan terus dioles ke rambut, serasa gel rambut kali ya. Sempet juga diolesin ke leher. Temen gua sampai takjub, katanya anaknya gak pernah bertingkah seperti itu, sigh... Terus waktu gua cerita bahwa itu adalah caranya cari perhatian, dia juga nyaris2 gak percaya, masa sih anak 2 tahun tahu caranya? Hehe belum juga gua cerita si Denz udah begitu sejak setahun lebih, bisa lebih heboh lagi dia.

Jenz jg terpesona kayaknya yach hihi, mungkin berpikir dua kali sebelum nawarin jadi BS cadangan:) Habis selama ini lihatnya Denzel yang kalem, tahu2 kemarin tuh udah kayak Dennis the Menace. Heran juga, padahal udah lama nggak begitu lho. 

Untunglah sehabis makan dan jalan-jalan seputar mal, Denzel udah biasa lagi, apalagi nonton ada yang main piano di toko musik, langsung girang banget, emang dia kan seneng banget semua yang berkaitan sama musik.

Beberapa hari ini juga lebih rewel dan manja ama gua. Kadang-kadang kalau ada gua, sama sekali gak mau disentuh ama BS. Gua tahu sih dia lagi adaptasi dengan pergantian BSnya. Mudah2an fase adaptasi ini cepat selesai, dia merasa nyaman dan gak butuh aksi2 cari perhatian lagi. 

Kata cici gua sih, mirip banget ama gua, waktu kecil pun gua pernah lho sengaja merobek-robek kertas terus dimakan sampai papa mama heboh nyuruh gua muntahin. Tapi lama kelamaan mereka bosen dan belagak pilon, langsung gua hentiin aksi tsb, habis gak enak sih! Aduh jangan nurunin sifat jelek gua dong, kalau cakep dan baik hatinya sih gak pa pa *setuju kan, setuju aja:))* 

Thanks ya, jenz yang udah motoin, aduh pengen deh punya kamera DSLR dan jago foto kayak elu:). Nih salah satu aksinya, mana matanya juga masih merah habis nangis:

Beberapa saat kemudian :

Sunday, October 11, 2009

G Force


Hari Minggu kemarin kita nonton G Force sama Denzel di Blitz GI. Waduh sebenarnya udah tayang  agak lama nih filmnya tapi yah baru ada kesempatan buat nonton. Ini kali kedua Denzel kita ajak ke bioskop. Yang pertama film 'Up' karena tertarik membaca reviewnya Arman, kebetulan tuh bocah kan demen banget ama balon jadi hampir sepanjang film dia ribut2 sendiri kalau lihat penampakan balon2 yang emang sering muncul. Tapi 30 menit menjelang berakhir dan ceritanya lagi seru2nya..gua perhatiin kok jadi diem banget nih si Denz,  he..he.. ternyata udah ketiduran di pangkuan gua. Gak papalah, kayaknya gelap2 dan dingin2 begitu asyik kali buat tidur:) Asal jangan minta keluar *gak mau rugi*
a
Kali ini Denzel gak tidur lagi, pertama dipangku ama BS masih mau, tapi begitu film dimulai langsung minta pindah ke gua. Gua juga bingung mau jelasin cerita filmnya gimana ke dia, paling gua kasih tahu aja apa yang muncul di layar seperti tikus tanah, marmut, agen FBI (polisi) dsb.. D
Denzel mah biar kagak ngerti sepenuhnya tapi  enjoy2 aja tuh. Sepanjang film minta cemilan melulu, entah biskuit, kue apa popcorn, yang pasti gak berhenti mengunyah. Kalau gua sering-sering ajak nonton, bisa ndutttt kali ya ha..ha....
a
Produser film ini Jerry Bruckheimer yang sudah kondang memproduseri film2 apik seperti trilogi Pirates of the Caribbean, Black Hawk Down dan Pearl Harbour. Sayangnya meski seru, kayaknya ceritanya terlalu  terlalu canggih untuk anak di bawah 8 tahun deh. 
aa
Ceritanya tentang 3 guinea pig (marmut), seekor mole (tikus tanah), seekor lalat dan sepasukan kecoa (ihhhhh, untung jarang muncul) yang dilatih seorang ilmuwan menjadi special agent. Mereka berhasil mendapatkan info bahwa seorang pemilik perusahaan elektronik besar, Leonard Saber (Bill Nighly) diam-diam berniat menciptakan senjata pemusnah global dengan menyabotase setiap benda2 elektronika yang dibeli hampir setiap rumah. Jadi nantinya electronical appliances itu bisa bergerak sendiri, lengkap dengan tangan-kaki-capit-gerinda pemusnah kalau sudah diaktifkan dari satelit. Agak-agak nonsense secara berapa modal yang harus dia tanamkan, wong ada yang cuma blender, mesin pembuat kopi kan harga jualnya murah wakakkka, tapi sekali lagi ini kan film anak2, jadi sikap kritis gua tekan sedalem2nya, lha namanya binatang2nya aja pada bisa bicara dengan alat penerjemah yang diciptakan ilmuwan:)
a
Sayangnya FBI bukannya mendukung si ilmuwan meskipun sudah melihat bukti kepiawaian agen2 G Force namun justru berusaha menutup proyek ini dan binatang2 yang ada hendak dikurung dengan alasan 'menganggu keamanan dan kinerja FBI'. Ceritanya jealous gitu deh meski tujuannya sama. Mungkin katanya,"tikus kok mau ngelawan gajah" 
a
Lantaran tak sudi dikurung G Force akhirnya melarikan diri yang sayangnya berakhir di pet shop. Nah seru2nya deh cerita ttg bagaimana mereka melarikan diri dan berusaha menyelesaikan misi mereka utk menyelamatkan  umat manusia dari pemusnahan global tersebut.
a
Yang keren pengisi suaranya dong, ada Sam Rockwell sebagai Darwin-ketua tim,  Penelope Cruz jadi salah satu agen guinea pig yang sexy, terus Nicolas Cage jadi si mole.  Kenapa juga si Nicolas Cage jadi mole yang biarpun ceritanya jenius dalam perkomputeran, dengan cepatnya mati setelah berusaha melarikan diri dari pet shop dengan berpura-pura mati (Yang lain karena cute bisa berharap di beli ama anak2 tapi lantaran si mole ini jelek pisan gak ada yang tertarik. Sayangnya bukannya dikubur dia malah dibuang ke truk penghancur sampah). Ternyata si mole bukan hanya anggota G Force namun partner gelap si pemilik perusahaan elektronik yang merancang dan menjalankan aksi pemusnahan massal. Dengan rupanya yang jelek dan nasib yang selalu diinjak2 manusia, ia memendam nafsu balas dendam yang besar!!!
a
Apakah akhirnya ia tega melawan partner2nya dalam G Force yang sudah seperti saudara sendiri? Ayo ditonton, yang pasti fim Disney selalu happy ending kan? Tapi seringnya film Walt Disney selalu mempunyai moral cerita. 
a
Terus terang gua lebih suka film Up dari pada G Force karena lebih menyentuh. Gua aja hampir meneteskan air mata waktu sih kakek mengenang  kehidupannya bersama nenek, menyesali dirinya yang tidak bisa mengabulkan visi mereka karena selalu terbentur masalah finansial.. terus ketemu scrap book yang mana ternyata bagi nenek, kehidupan seumur hidup bersama kakek sudah merupakan petualangan terindah, bukan melulu masalah mimpi2 masa kecil mereka untuk berpetualang ke air terjun yang gak terlaksana2.. very simple...very touching...
a
Kalau moral cerita film ini apa ya? Mungkin tentang persaudaraan dan kerendahan hati, yang tadinya mereka mengira mereka tuh berbeda dan spesial secara genetis (sengaja oleh ilmuwan biar memboost PD) ternyata hanyalah hewan2 biasa yang tidak diinginkan atau hampir menjadi binatang eksperimen. Meski sempat terluka harga dirinya, mereka akhirnya berhasil bangkit berjuang dan saling menjaga satu sama lain! Juga tentang pengampunan dan berterima kasih kepada orang yang sudah menyelamatkan hidupnya...

Thursday, October 08, 2009

Tekko dan Leko


Kedua restoran di atas sama-sama mengusung menu spesial iga penyet. Lokasinya sama-sama di Ruko Cordoba Blok F Pantai Indah Kapuk. Logo dan tulisan nama restorannya hampir sama pula.
a
Beberapa bulan yang lalu saat gua membaca review tentang Leko di sebuah blog, langsung gua tertarik untuk mencoba. Gua suka banget iga, kalau di rumah nyokap masakin paikut tapi karena gua gak bisa masaknya, kalau ngidam iga ke resto aja hehe.. Yang sampai sekarang gua suka banget tuh Iga bakar si Jangkung di Bandung. Lokasinya sebelum mesjid Cipaganti. Ntar kalau ke sana gua fotoin dan posting deh:)

Maksud hati kita ke Leko, tapi nyasarnya ke Tekko. Soalnya Tekko comes first. Lagian gua lihat spesialis iga penyet dan rame benerrr pengunjungnya. Wah, gak salah lagi deh pasti ini dong. Malah gua sempet ngedumel si penulis review tsb kurang seksama nulis judul postingannya. Haishhh, untung mata gua awas, pikir gua waktu itu, kalau nggak bisa-bisa kan gak ketemu. Hmmm, pesen iga penyet, nasi putih dan sup iga. Ternyata enak lho, gua demen dagingnya yang empuk dan potongannya besar (3 potong). Pas pulangnya lihat2 eh, jarak beberapa ruko, nampanglah si Leko. Adawww, malu nggak sih, udah salah sendiri masih berani ngedumelin orang... maap..maap...dr B.

Tak sampai seminggu kemudian kita balik lagi ke Leko, pesen yang sama lagi. Padahal ada menu lainnya sih seperti ayam penyet, gurame goreng dsbnya. Tapi gurame goreng kan enaknya di resto Sunda aja dong.

Ternyata nggak nyesel deh, gua malah lebih seneng yang di sini, meski hubby prefer si Tekko. Soalnya sambalnya ada manis2nya, gua kan gak suka sambal yang asin. Padahal kayaknya sih dua-duanya dari Surabaya kan dan makanan sana asin2? Koreksi ya kalau salah. Potongan iganya sih sama-sama besar, empuk dan bumbunya terasa sampai ke dalam-dalamnya, ditaburi pula dengan bawang goreng, baunya juga wangi dan bener2 merangsang nafsu makan. Soalnya kan ada iga yang baunya rada 'daging-anyir' gitu.. Harga iganya cuma 25K seporsi belum termasuk nasi. Btw pelayan di sini nawarin sup doang tanpa iga dan gratis pula jadi kita gak mesen supnya lagi. Soalnya seporsi iga menurut gua udah cukup, sambalnya juga melimpah ruah, gak pelit ngasihnya. Minumnya kita pesen es cincau 5K.

Sejak itu kita udah sering banget balik2 ke sini. Habis makanan rumah sakit kan biasa (gak berani bilang kurang enak ntar diblack list ke kantin).

Omong punya omong gua kirain mereka ownernya sama atau sodaraan gitu seperti Nasi Campur Kenanga, Putri Kenanga dan Putra Kenanga, Tapi gua tanya pelayannya katanya sih gak ada hubungan sama sekali. Kok bisa ya, ada yang tahu? Tapi masa sih bisa kepikiran bikin logo dan nama yang nyaris sama, nyesatin aja... tapi biar tersesat ke salah satu dari dua itu gak rugi kok. Sama-sama enak:) Hayo, silahkan dicoba!

Wednesday, October 07, 2009

Pepper Lunch





Pepper Lunch, sebuah 'steak-fast' restoran dengan sistem franchise dari negara Jepun. Semua makanan disajikan di hotplate yang dipanaskan hingga 260 Celcius dalam 70 detik dan tetap hangat (80 Celcius) selama 20 menit. Beneran deh sampai gua selesai makan tuh nasi masih aja terasa panasss. Ceritanya si inventor, seorang koki Jepang berniat membuat makanan berkualitas namun cepat dalam penyajiannya dan tidak membutuhkan koki berpengalaman. Akhirnya ketemulah metode di mana mereka hanya menyediakan bahan-bahan yang baik kualitasnya, namun yang memasak, meramu dan mencampur adalah si pengunjung resto sendiri. Menu2 yang ada juga tidak hanya steak tapi juga bermacam2 nasi yang juga disajikan di atas hotplate. 

Liburan kemarin kita sempat nyoba Salmon Pepper Rice dan Unagi Pepper Rice di Pepper Lunch Taman Anggrek. Kita udah beberapa kali pengen mampir tapi rasanya skeptis. Masa steak di resto Jepang. Kayaknya ada yang gak fit gitu deh. Tapi akhirnya karena udah bosen sama yang laen, ya udah kita nyoba jg. Dan rasanya ternyata cukup lezat.  Potongan Salmon dan Unagi lumayan banyak. Khususnya Unagi gua emang demen banget, rasa ikannya sangat khas dan juicy. Seperti iklannya yang diputar berulang2 di LCD yang terpasang di dinding resto, udah kita niru2 aja, aduk deh semua yang ada di hotplate : sayur, nasi,  ikan dan telur setengah matang. Terus ditambahin saus2 sesuka hati. Tadinya gua kirain rasanya akan mirip Bibimbap (nasi campur Korea) ternyata beda banget.Ngga mirip donburi juga, gua gak ada perbandingan deh untuk yang satu ini.

Untuk harga gua lupa, sekitar 50-60K? Tapi menurut gua worth it deh. Kayaknya nambah satu lagi resto favorit kita :) Tapi lain kali mau nyoba yang beef, keliatannya enak jg. Steak gua gak tll doyan.  Pengalaman yang unik, sizzle it your way!

Sunday, October 04, 2009

All about Him






Akhir2 ini gua jadinya sering makan di luar soalnya gak ada yang masak. Jadinya si Denzel sering 'terkontaminasi' deh he he he.. Sebelumnya emang kan gua agak ekstrim, makanannya dimasak 3 kali oleh BS sehari jadi selalu fresh dan bergizi. Kalau gak pake kaldu ayam kampung, pake ikan seperti salmon dan kakap. Kalau pergi pun masak dulu dan bawa termos buat nyimpen sup. Bayangkan kalau kita nginep ke Bandung tempat omanya pun, udah kayak bedol desa, pake bawa termos es yang isinya plastik kaldu, ikan, daging2 dsb. 

Tapi kali ini akhirnya gua agak-agak nyerah, biar si Denzel ngerasain makan luar seperti apa jugalah *alesan*. Ternyata... dari sekian banyak yang dia nyoba,  bisa dihitung jari yang dia suka antara lain  cuma teochew olive rice di Soup restoran Plaza Indonesia ( habis 1 porsi sendiri), mini Salmon Don di Ajisen Ramen, dan bakso2an di Ita Suki yang di Pluit. Selebihnya makan di Hakone, Peach Garden di Pavillion Puri (masih diskon30% pas lebaran), Sapo Oriental, Rice Bowl, Pepper Lunch, Kentucky  semuanya dilepeh, waktu mau disuapin lagi kepalanya digoyang2 dengan hebat.

Kadang gua akalin pake acara nyanyi tp akhir2 ini udah gak mempan, terpaksa gua cerita deh, biasanya saduran dari buku cerita dia. Gua masukin2 aja misalnya si Goldilock lihat ada 3 mangkuk nasi tim di meja (Denz lagi makan nasi Tim di Bakmi GM dan gak doyan), kadang gua lupa kronologisnya dan gua loncatin salah satu adegan, si Denz ingetin. Lumayan habis juga setengah porsi.

Denz with Mini Salmon Don, nyamm..

Setelah gua amat2i ternyata dia gak doyan yang terlalu spicy. Itulah kalau makan makanan rumahan terus. Agak manis langsung ngomel, agak asin dilepeh sambil pasang muka meringis, apalagi kalau ada merica2nya langsung protes, "pedassss, mimik air azaaa". Sekarang semua kalimatnya suka ada kata aja hihihi. 

Gua bilang : "Zel, bobo yuk."

Dia : "Na mau, main azaa.."

Gua bilang : "Nih makannya pake ikan ya."

Dia : "Na mau, nasi putih azaa.." Busyet, beneran kalau gua suapin lauknya hari itu disuruh taruh lagi dan cuma mau nasi putihnya. Bener2 lagi fase negativistik. Na mau jadi idiom favorit. Jadinya sekarang gua gak omong2 langsung aja ngarahin ke kegiatan yang gua mau dia lakuin soale kalau ditanya mau ini gak? mau itu gak? pasti jawabnya : "Na mauuu!!!" Kecuali tanya mau nonton tv gak, gak pernah sekalipun nolak ckck...

Atau gua sengaja balikin, misalnya gua bilang, "Denzel main di atas terus aja ya?

"Na mau, bawah azaa.." Hehe..  emang tadinya gua mau ajak dia ke bawah sembari gua bisa ngawasin dia sambil masak. Tapi kalau diajak langsung pasti gak mau lagi. 

Pipis dan Pup udah bisa bilang, kadang2 bangun tidur bilang mau pipis, gua suruh di pampers aja, soalnya gua pegang pampersnya kempis kan sayang xixixi... dia langsung ngomel2 sambil berusaha nurunin celananya. Bener2 emak pemalas ya gua ini, tapi gak kok, sekarang gua buru2 lepasin pampersnya. Anehnya kalau lagi pup dia gak mau kita tontonin lho. Jadi sembari dia duduk di pispot bebeknya, kita disuruh masuk kamar. Gua kirain apa dia malu ama gua? Ternyata hubby yang nungguin jg gak boleh, langsung dia suruh hubby masuk kamar, ntar kalau udah selesai dia teriak2 :"Udah..udah.." Aduh kenapa ya anak ini, heran deh. Bukan apa2 gua bayangin kalau dia berantakan ke mana2 atau malah pegang2 pantatnya atau faecesnya gimana, jangan sampeeee!!! Udah parno deh gua, makanya suka gua intip2 dari balik pintu. Untunglah selama ini gak pernah sih.

Hal lainnya ternyata meski kalau main berantakan kemana-mana, ternyata Denz ada sifat resiknya juga. Contohnya habis tukerin bajunya, kadang baju lama gua geletakin aja di sudut kamar, maksudnya ntar sekalian keluar baru gua bawa. Ternyata nih bocah gak betah tuh, langsung bajunya kasih ke gua. Dasar lagi-lagi emak pemalas, gua taruh lagi di lantai sambil bilang ntar aja. Eh, pas gua gak perhatiin, dia bawa bajunya, buka pintu sendiri dan dilempar ke keranjang baju kotornya. Kalah dah gua ama anak 2 tahun:(

Kegembulannya juga makin jadi, habis makan nasi pasti mau ngemil biskuit, keju, roti lagi. Padahal porsinya lumayan banyak lho, nasi aja suka nambah. Kira2 ada tuh 2/3 porsi gua. Tapi sayangnya gak kelihatan berisi ya? BBnya paling 13 lebih. Padahal gua pengen dia ndut lagi.

Hal lain adalah gua suka ngisengin dia, yang ini hubby sering marah2, katanya cukup sudah dia aja yang jadi korban keisengan gua. Huh, padahal kalau hidup tanpa iseng-iseng sedikit pan bosen, bener gak? Contohnya gua pernah tukerin setting hpnya ke bahasa Tagalog, Mandarin, Viet etc, terus sebelumnya buku manualnya gua umpetin dulu dong hihi.. hp gua jg gak gua kasih pinjem. Ada 30 menit kali dia utak atik hpnya.. untunglah dia sabar :)

Kalau Denz, gua gak iseng2 banget kok, paling godain dia, ngumpetin mainannya etc. Atau seperti di bawah ini...

Kalau lagi nonton,  diapain jg gak nyadar.

Mejeng sebelum pergi

Sampe sekarang gua belum dapet BS padahal gua dah keliling beberapa yayasan. Kenapa ya pada kosong? Cuma pembantu jaman dulu  tiba-tiba telpon pengen kerja lagi, ya sudah gua terima. Terakhir dia berhenti karena katanya gak cocok ama BS Denzel, nah begitu dia tahu BSnya gak kerja lagi, dia langsung berminat. Cuma gak bisa diandelin jaga Denz soalnya masih ABG dan kurang tanggung jawab. 

Namun gua gak merasa terlalu beban lho, dulu kalau BS cuti rasanya udah maless aja kemana-mana. Ternyata pergi bertiga asyik kok. Gak seserem yang gua bayangin. Bahkan dengan praktisnya gua gak bawa tas besar Denz lagi lho, baju ganti 1, pampers1, tissue basah, antiseptik tangan, biskuit, air minum semua jejelin aja ke handbag gua. 

Yang terpenting juga gua bisa lebih kenal sifat-sifatnya Denzel, keras kepalanya, ketakutannya, kesukaannya. Emang dulu juga tahu tapi sekarang yah lebih komplet aja. Lagi mikir2 kalau emang gak dapet BS yang baik, gua pake mbak aja. Hanya jagain kalau gua dan hubby mesti kerja di jam yang sama. Mudah2an ketemu deh yang terbaik buat Denz.