Tuesday, June 23, 2009

How Can You Stop Learning?

Beberapa bulan yang lalu gua mendengar percakapan tiga orang tante di lift RS

tante#1 :Ni gan ze ge ni yi sheng! (lihat dokter cewek ini)

tante#2 : Hmmmffff *mendengus setelah melirik ke gua*

tante#1 : Pu ze tao ta de mu chin siang shen me? (tidak tahu cara pandang mamanya)

Ni zi du te zhe me gao, du tao lao ah (sekolah sampai tua)

tante#3 : Sian zai se tai bu tong lah (sekarang jaman sudah berbeda)

tante#2 : Mei yong lah, wo shuo i ding mei yong de! Nan cia chut ci (aku bilang tak ada gunanya, susah merit nantinya)


Ting.. lift berhenti di lantai 1, 3 tante beranjak ninggalin gua yang masih berusaha pasang muka 'tidak-marah-karena-tidak ngerti'. Sambil ngedumel dalam hati dosa apa gua ama tiga mpok, mana mama gua dibawa-bawa dan disalah-salahin. Sempet kepikir gua mau jawabin aja ah pake bahasa Mandarin, biar kaget dan malu terus kapok ngata-ngatain orang yang disangkanya gak ngerti. Tapi mungkin dengan negative mind mereka yang sudah terkonsep, malah mereka nambahin angka minus lagi buat mama gua, mungkin dibilangnya tidak bisa mendidik anak, jadi kurang ajar dll. Ya sudahlah terima nasib.

Pikiran gua melayang pada minggu sebelumnya, mama gua telp dan setelah cerita sana-sini, dengan suara menahan tangis, mama cerita seorang kakek yang dulu tetangga mama barusan meninggal. Gua sempat pikir yah kan namanya udah uzur banget. Ternyata mama baru cerita pula untuk pertama kalinya tentang tetangga ini.

Meskipun Akong (kakek) orang yang cukup kaya dan terpandang, pikirannya masih kolot. Ia sama sekali tidak suka maupun menghargai anak perempuan, jadi waktu itu nyokap yang merupakan anak perempuan pertama, setelah dua kakak laki-lakinya bersekolah tidak didaftarkan ke sekolah biar udah cukup umur. Kerjaanya sehari-hari diminta membantu memasak dan menggendong adik-adiknya (12 bersaudara, yang hidup sampai dewasa 9 orang). Mama pengen banget bersekolah, tiap hari buku2 pelajaran koko2nya dibuka dan dirabai, terus pura2 bisa membaca sampai dipanggil ama dan dimarahin karena takut merusak buku kokonya. Nah kakek tetangga ini yang terenyuh melihat nasib mama, dia selalu menasehati akong agar menyekolahkan mama juga karena menurut dia mama anak yang cerdas. Pertama-tama akong sih cuek aja tapi lama kelamaan karena bosen dibilangin terus akhirnya pada usia delapan tahun lebih baru deh masuk SD kelas1. Perasaan mama waktu itu bagaikan mimpi..bisa ikut naik becak sama koko2 dan anak2 tetangga.. punya tas sekolah meskipun bekas, senengnya minta ampun.


Prestasi mama di sekolah juga baik selalu dapat ranking meskipun sulit untuk belajar di rumah. Orang tuanya lebih suka kalau mama mengerjakan pekerjaan rumah tangga daripada mengerjakan pe-er. Zaman itu belum ada KB pula jadi hampir setiap tahun mama dapat adik bayi. Tugas mencuci popok, memasak, mengasuh adik2 semua jadi tanggung jawab mama. A Kong sangat galak, kalau adik-adik mama ribut ataupun berkelahi, yang disalahkan adalah mama. Begitu pula kalau ada satu anaknya yang berbuat kesalahan, selain anak tersebut yang mendapat hukuman rotan, anak-anak lain juga disuruh berbaris untuk dihukum atas kesalahannya yang telah lampau misalnya si A karena 2 hari yang lalu berkelahi di sekolah, si B karena mengganggu adiknya kemarin dstnya... serem yah, gua bayangin kan susah ya menghukum anak kita yang kesalahannya sebenarnya sudah lewat, tapi ngga tahulah memang begitu cara Akong mendisplinkan anak-anaknya.


Meskipun tidak dekat dengan semua anak-anaknya tapi Akong kelihatan jelas lebih sayang pada anak laki-laki. Kalau ada lauk, anak-anak cowok yang berhak mengambil duluan. Anak perempuan mendapat sisanya, kalau gak ada yah udah cuma dengan sayur-sayuran. Dengan anak perempuan, Akong juga hampir tidak pernah mengobrol, hanya kalau untuk marah atau memberi perintah saja baru anak-anak perempuan dilihat, selebihnya dianggap invisible.


Semakin hari bisnis Akong di bidang tembakau semakin berkembang. Mama dan saudara2nya bisa naik mobil ke sekolah. Tapi mama tidak pernah mendapat uang jajan jadi kalau ada yang mengajak mama jajan, mama selalu berkilah tidak lapar. Suatu hari diadakan bazar di sekolah, semua murid diminta menyumbang. Mama tidak mempunyai uang sepeserpun untuk disumbangkan. Mama mendengar teman-teman sekelasnya berbisik : Ih, pelit ya, padahal rumahnya ada kulkas, es jualan kita aja titip di rumahnya masa bilang ngga ada uang.
Memang saat itu cuma rumah mama yang punya kulkas besar. Hati mama sangat perih tapi tidak bisa menjawab apa-apa.

Meskipun banyak keluarga yang memuji Akong karena punya anak perempuan yang cukup berprestasi, Akong sendiri tidak pernah menunjukkan rasa senang. Sewaktu mendaftar ke SMA pun Akong menunjukkan rasa tidak sukanya. Mama tumbuh menjadi anak yang tidak percaya diri dan sensitif. Karena Akong terus-menerus menunjukkan rasa tidak sukanya meskipun tidak berani langsung melarang, mama akhirnya memutuskan berhenti saat kelas 2 SMA. Wali kelasnya datang ke rumah dan membujuk mama untuk sekolah lagi tapi mama sudah membulatkan niatnya. Ia ingin menyenangkan Akong, biar tidak menyindir lagi bahwa anak perempuan tak ada gunanya bersekolah tinggi2. Kalau ia bisa membantu Ama terus di rumah, mungkin Akong akan lebih senang dan mungkin sedikit menyayangi dirinya..

Nah, pas kemaring kakek tetangga yang baik itu meninggal, mama teringat betapa baiknya orang tersebut. Kalau tidak ada dia jangan2 mama buta huruf:( Sampai sekarang mama masih suka mimpi remaja lagi... terlambat ke sekolah... ada ujian pula... tapi dalam mimpinya hatinya terasa senang karena masih bersekolah. Mungkin dalam hati mama masih ada gadis berumur 18 tahun yang masih punya mimpi bisa bersekolah setinggi-tingginya...

Memang kemudian dari saudara-saudara mama: 1 orang dokter spesialis endokrinologi baru mendapat gelar profesor di Taipei, Taiwan; 1 orang Dipl Ing lulusan Jerman; 1 orang dokter gigi lulusan Jerman ; 1 orang sarjana Bahasa Inggris. Semuanya pria. Adik perempuan terkecil mama yang keras pendiriannya berhasil mendapat gelar master, itupun setelah menikah dan anaknya besar, ia mengambil kuliah malam.

Tapi apakah mama kalah dibandingkan dengan saudara2nya? Secara, semuanya kalau memiliki masalah pasti mencari mama. Kalau ada perselisihan di antara mereka, mama yang diminta memediasi. Mama juga yang dengan modal seadanya bersama papa merintis sebuah toko kecil yang lumayan berkembang dan bisa nyekolahing gua dan cici. Mama sudah berhasil jadi mama yang baik, yang meskipun masa kecilnya kurang kasih sayang namun membalasnya dengan pengasuhan penuh cinta.


Menurut gua sekolah penting namun lebih penting lagi kita terus belajar. Belajar menjadi orang yang lebih baik, lebih wise. Gua rasa setiap hari kita tak luput dari pembelajaran. Seorang karyawan belajar mengenai tugas2nya, belajar menjadi kolega, belajar menjadi bawahan, belajar menjadi atasan kalau nanti sudah punya. Seorang newlywed belajar mengenai bagaimana menjalankan rumah tangga, belajar menjadi suami/istri, belajar berselisih paham dan cara berdamainya, belajar mengalah dan tidak egois, belajar memaafkan. Seorang ibu belajar membedakan tangis anaknya yang baru lahir, belajar membalut luka, belajar bahwa sebuah ciuman di luka lutut ternyata lebih mujarab menghentikan tangis daripada obat, belajar bahwa kita ternyata bisa mencintai tanpa batas.
Jadi, please para tante jangan buru2 memberi penilaian negatif pada mama yang telah mengizinkan gua kuliah. Gua gak merasa rugi kok dengan sekolah yang memakan waktu lama ini. Memang banyak saudara yang bertanya ke mama: apa tidak takut anaknya nanti jadi perawan tua, entah karena keasyikan belajar tidak mau merit ataupun tidak ada cowok yang mau istrinya sekolah tinggi. Belum tentu juga kalau gua gak kuliah terus merit cepat, belum tentu cowok yang gak mau gua sekolah tinggi itu jodoh terbaik gua (gua rasa sih pasti bukan kalau type chauvinis bgt huh ). Sebaliknya juga belum tentu sekolah tinggi menjamin gua lebih bahagia. Ada kakak sepupu gua yang hanya setahun lebih tua dan menikah sangat dini, sekarang anaknya sudah lima orang, yap bener kok lima. Gua lihat dia bahagia betul kalau lagi bercanda dengan anak-anaknya. Sementara gua merit di usia akhir 20an, anak gua sekarang baru satu, 2 taon. Namun kebahagiaan gua dan dia gak bisa dibandingin, beda dimensinya. Masing2 puas dengan hidupnya. Tapi gua tahu, dia pasti setuju bahwa sampai saat ini pun dia belajar bagaimana caranya sambil menjalankan usaha bersama suaminya juga cakap mengurus anak-anaknya yang udah mulai puber. Jadi ingat nih masa kecil kita baring-baring di ranjang sambil berkhayal2.
Lu kalau gede jadi apa El? tanyanya..
Kalau lu apa?
Gua mau jadi pramugari ah, keliling2 dunia. katanya.
Kalau gua mau jadi nyonya2 kaya alias rich tai-tai. kata gua
Apa? hahahha
Nyatanya gak ada dari impian kita yang kesampean hahaha
Kalau ketemu lagi 3 tante itu gua mau tanya ah :Mana yang lebih baik 'Belajar sampai tua' atau 'Sudah tua tetap tidak belajar'?


Sunday, June 21, 2009

Bye Bye Thumb Guard


Denzel tuh lucu deh, kadang dia nurut banget tapi kadang2 minta ampun badungnya, sekarang dia lagi hobi melempar bola-bola dari bak mandi bolanya ke seantoro ruangan, berantakaaan! Ceritanya dia kan punya kolam renang tiup yang gua isi bola-bola biar dia bisa mandi bola setiap saat. Awalnya senang minta ampun cebur-cebur... tapi lama-lama mulai deh ciptain hobi baru ngelempar bola-bola tuh sampai habis. Secara bolanya kan ada ratusan hiks, kalau diminta bantuin mungut, paling cuma mungut beberapa setelah itu kabuurrr. Untunglah babysitternya sudah datang kemaren malem so sekarang tugasnya aja deh mungutin bola hihihi.

Nah, dari umur sebulan kurang dia suka banget ngemut ibu jari, mana waktu itu masih pakai sarung tangan bayi jadi bunyinya berdecap-decap. Gua pertama dengar sempat curiga ada tikus yang masuk ke kamar (lagi) dan ngunyah apaan ya.. jangan-jangan bayi gua..oh,no! eh setelah gua ngintip di kolong-kolong dan mencari-cari sumber suara ternyata asalnya dari emutan sang jempol. Waktu itu kan gua masih tugas di desa dan tidak jarang si tikus mampir saban malem. Sampai sekitar sebulan yang lalu, Denzel tuh belum bisa menghilangkan kebiasaannya. Emang gua biarin sih karena itu kan tandanya dia mencari kenyamanan dan rasa aman tapi setelah 1 tahun lebih perlahan2 gua alihkan perhatiannya kalau dia lagi ngemut. Kalau lagi seger dan banyak mainan sih dia bisa lupa tapi kalau udah ngantuk atau lagi bosen beraksi lagi deh, sampai gua perhatiin ibu jarinya merah-merah dan mengeras (terbentuk callus). Kalau gua lepasin ibu jarinya, wah semakin kenceng dia ngisep. Kadang-kadang sambil tertawa-tawa badung..ih gemes.

Waktu itu gua sampai udah searching mau beli thumb guard aja deh cuma masih mikir-mikir (pelit) karena harganya kok mahal sih US $74,95. (750 rban brarti) terdiri dari 2 tumb guardnya dan 60 gelang. Prinsipnya adalah supaya tetap ada ventilasi sehingga anak tidak menemukan kenikmatan mengisap lagi. Dengan ini diharapkan anak tidak trauma dibanding kita memaksa atau mengoleskan yang pedas-pahit. Sebenarnya babysitternya juga udah pernah ngolesin jahe ke jempolnya eh Denzel malah suka jempol rasa jahe, yummu mungkin malah isepnya makin heboh, gawat.

Terus sampai suatu pagi, habis deh kesabaran gua. Dengan tegas dan menatap matanya dalem-dalem gua bilang mama gak suka Denzel tetap isep jempol, kan Denzel sebulan lagi udah 2 tahun, udah gak pantes, mana tangannya jadi luka, bisa infeksi dan sakit bla-bla-bla eh dia melihat gua dengan terpesona lho. Dan sejak itu ajaib, gak pernah lagi dia masukin si jempol, kalau kadang lupa dan jempol udah nyampe ke bibirnya, dia tiba-tiba geleng-geleng kepala dan menggoyang-goyangkan tangannya terus bilang sendiri No! No! luka.. lucu banget lihatnya.. Yah udah gua gak jadi deh beli thumbguardnya hehehe...
Coba semua hal dia bisa nurut ya, terutama yang bisa membahayakan dirinya. Gua juga sebisa mungkin tidak banyak melarang biar dia berkembang dan tidak jadi anak yang keinginannya terkekang. Jadi jangan heran kalau berkunjung ke kamar gua kalau pas Denzel lagi main di kamar, isi laci berhamburan di lantai, mainan2 di mana-mana, lho mana Denzelnya? Coba aja cari kalau lagi gak asyik masuk ke kolong ranjang mungkin ngumpet ke dalam lemari:)

Friday, June 19, 2009

Every Year 25

Ketika gua masih kecil, masih SD gitu, idola gua adalah Alan Tam. Awalnya bermula dari nonton video music yang masih direkam asli dari HK, pokoknya gua jadi kagum banget ama doi. Bukan karena suaranya ataupun tampangnya karena menurut gua meski ok tapi gak yang extraordinary tapi lebih karena orangnya kesannya baiiik gitu. Saat ia menang berbagai macam penghargaan pada Jade Solid Gold Awards tapi tetap ramah dan humble. Kemudian juga setelah memaksa nyokap bacain semua berita tentang dia di majalah2 (bahasa mandarin semua..sigh) ternyata orangnya memang baik ke teman2, sopan dan sangat berbakti pada orang tuanya, makin senang deh gua sama dia.

Tapi satu hal yang bikin empet di hati dan jadi bahan ledekan sodara2 gua ialah dia tuh suka ngaku masih berumur 25 tiap kali ditanya wartawan jadi julukannya "Mr every year25" secara tampangnya sih masih imut2 jaman itu. Tapi mungkin waktu itu udah 30 something.. Gua gak habis pikir kenapa sih dia yang udah begitu terkenal, banyak penggemarnya, kaya masih takut tua gitu lho. Saat itu gua aja yang masih 10 tahun kayaknya pengen banget cepet gede, biar bisa kemana aja dan ngerjain apa aja, gak pake diatur2 ortu.

Nggak tahu sekarang apakah dia masih suka bercanda tentang umurnya atau nggak, yang pasti kalau mendengar lagunya aku masih tetap senang meski udah jarang banget ya lagunya diputer. Nah yang gua mau cerita sekarang gua baru berasa waktu berlalu dengan cepat, hiks kayanya baru tamat SMA, kuliah dan kuliah, eh udah merit dan punya anak. Kalau ngeliat wajah sendiri di cermin, karena liatnya tiap hari maka gak ngerasa tua sih, habis kan perubannya sedikit demi sedikit kan? Cuma kalau ketemu adik-adik temen yang waktu itu masih ingusan dan ngekor terus ama kakaknya eh sekarang udah pada kerja, ada yang udah lulus master? hah? wah berarti gua dah tua nihhh! Kalau gak tahu malu gua mah lebih parah dari Alan Tam, maunya ditanya berapa umurnya gua bilang aja 17 terus hihihi atau 21? terus gua bayangin orang yang bertanya jadi gelagapan dan salting antara percaya dan ngga, gua jawab lagi : iya nih, saya emang keliatan lebih tua soalnya dari kecil udah kena sinar matahari... atau .... karena saya tidak pernah makan sayur *mata berkaca-kaca penuh penyesalan* Pasti habis itu orang tersebut terbirit2 beli krim tabir surya dan makan sayur bannyaaakk...hihi emang gua lagi kumat aja pikiran isengnya.

Syukurlah sampai sekarang belum pernah ada yang nebak gua lebih tua dari umur senenarnya, mungkin ada intuisi bakalan diamuk hahaha... Sesial2nya gua pernah ditanya orang siapa di antara gua dan cici yang merupakan adik? Busyet, langsung bete soalnya jarak gua dan dia kan 4 taon:( Huh gua gak mau inget lagi pengalaman2 pahit seperti itu.

Yang mau gua kenang adalah waktu gua dulu jadi dosen, ada mahasiswa barengan naik lift di kampus yang SKSD : eh elu juga baru ngambil Faal 2 nih? Hmmpff dalam hati gua berujar iya baru ngambil 6 taon yang lau tapi gua rada jaim dong jadi geleng2 doang. Nah kebayang muka mahasiswa itu waktu gua masuk ke ruangan dan memperkenalkan diri sebagai dosen baru, mukanya jadi lucuuu deh.

Namun asli yang bikin gua kaget pas di fitness centre kemarin ada abg yang nyapa gua, karena gua hanya nanggapin dengan senyum karena gak merasa kenal, dia jadi penasaran.. "elu temen gua kan, umur lu 19 taon juga kan" Aujubilleee, ajaib.. gua sampai merasa perlu celangak celinguk dulu liat kanan kiri sebelum geer.. eh ternyata dia emang serius, gua gak sampai hati ngeralat (Baca: terlalu tersanjung) jadi gua cuma geleng2 aja. Tralala tralili hari itu gua seneng sekaleee.. Pikiran2 negatif yang menghinggap seperti : Abg itu ngelepas softlens dan lupa pake kacamata or muka lu penuh keringat kaleee jadi agak kabur dan nutupin keriput2 yang ada hihihi... langsung gua tepis jauh jauh.. Huh, pokoknya kemaren itu gua mau nikmatin narsi gua dulu. Setelah itu dengan bangga cerita ke hubby, dia mah cuma senyum-senyum gak berani membantah, mungkin pengalaman kalau ngeledek pasti dicubit.

Kalau ada yang ngebaca dan umurnya masih belasan or 20 an, jangan ketawain kita ya, nanti juga berasa waktu berlalu cepat. Tapi yang pasti cerita di atas just for fun, gak kepikiran di benak gua bahwa gua akan facelift or else untuk memanipulasi usia kok. Yang pasti pikiran gua juga harus semakin matang, jangan hanya usianya aja:)

Saturday, June 13, 2009

Minggu Keakraban

Nanti sore susternya Denzel mau pulkam.. walah-walah alamat repot nih. Meski Denzel tidak sampai hiperaktif tapi namanya anak umur 2 taon kurang yah tetap aja butuh perhatian. Mana gue lagi bingung pas kerja ntar, Denz baiknya dirumah aja ama pembantu atau aku bawa atau aku titip ke cici atau....
Masalahnya pembantu baru ini juga baru kerja 1 minggu, tampak ok2 aja tapi percaya deh antara muka dan tindakan tidak banyak relevansinya. Sebagai contoh suster yang jagain anaknya adik hubby, mukanya welas asih seperti gambar dewi, bulet dan senyum terus. Gue rasa calon majikan yang pertama lihat pasti udah langsung jatuh hati sambil mungkin mikir : 'aduh orang ini pasti penyayang, penyabar dan cantik pula. Kayaknya anak gue pasti aman di tangannya! ' Dia udah jaga keponakan gue, Michelle dari umur 2 bulan kalau gak salah sampai ketahuan belangnya pas Michelle 9 bulan. Sebenarnya Michelle tuh anak yang gak ribet jaganya, jarang mewek, makannya juga gampang. Suatu hari si Michelle nggak habisin makanannya yang gak biasa-biasanya eh sama suster-muka-welas asih ini ditampar dan ditabok kepalanya.. kepergok deh ama pembantu yang akhirnya ngelapor ke adik ipar. Sehari-harinya suster ini sering bilang aduuhhhh aku sayaaaaanggg bangeet ama michellleeee... sambil anak tuh dicium-cium. Jadinya keluarga tuh gak ada yang nyangka. Sempat karena emosi, suster itu mau dilaporin ke polisi tapi setelah banyak pertimbangan akhirnya tidak jadi. So begitulah kenapa gue belum tega dan rela Denz ditinggal berdua ama dia.
Suster Denz ini udah kerja tepat 1 tahun, pamitan pulang karena abangnya menikah jadi izin 1 minggu. Sempet-sempetnya nanya ke gue :
S: Non, saya pulang seminggu tidak dipotong kan?
E: Nggak.. paling hitungnya kamu ambil cuti.
S: Tapi saya kan ijin bukan cuti...
*maksudnya???*
S: Dulu saya kalau seperti ini tidak dipotong uang cuti.. kalau tetap dipotong gak tahu bisa balik lagi nggak
*hiks gue diancam*
Daripada gue berkeras 100 ribu, udahlah gue ngalah aja tapi gue tegesin sebenarnya menurut aturan yah dipotong cuma karena dia tuh udah sayang ama denz jadi gue kasih...

Dibilang Denz cocok banget sama dia juga nggak ya, anehnya denz itu kalau gue udah pulang pasti maunya nempel seperti cicak. Diajak suster mandi dulu apa makan dulu pasti nangis bombay sambil teriak histeris maaaammmaaaa.... Padahal gue kerja part time ini, yah banyak jugalah waktu gue untuk dia kok dianya masih berasa kurang ya. Sempet curigation jangan2 dijudesin apa dipukul ama suster, tapi ternyata sama papanya yang sayang banget pun denz bersikap sama, mungkin mom is the best ya *sigh* Seneng sih seneng dia deket ama gue tapi kadang jadi gak punya waktu untuk sendiri nih. Tapi gue mau nikmatin aja deh fase ini termasuk 1 minggu kedepan tanpa suster. Gimana kalau kita namain aja minggu keakraban? Si Denzel kalau ngerti pasti joget2 sambil jawab ya ya ya ya...

Tuesday, June 09, 2009

Re Start

Waduh waduh, ternyata selama ini blog gue belum di publish bener ya? Emang sih baru ada beberapa entri 'coba-coba' sebelumnya yang rada formil. Tadi pas utak atik eh baru ada keterangan sekarang blog gue ini sudah dapat alamat: oncelifetime.blogspot.com ( bener gak sih?). Malu deh, ketahuan gapteknya. Sori nih teman-teman.. let restart ya..

Tadinya gue males bikin blog karena tidak berada di lingkungan teman-teman yang fasih berblogger, netter dsb kecuali seorang temen sma yang web kulinernya cool habis. Berangkat dari kesukaan gue membaca blognya kemudian link dari webnya dan link dari linknya tersebut, gue makin menikmati asyiknya membaca blog-blog dan terbersit ide untuk membuat blog sendiri. Namun sampai sekarang belum tahu gimana caranya bisa membuat link ke blog teman-teman yang lain. Ada yang berbaik hati mau memberi tahu? *ada ngga ya yang mau baca blog gue?* Yah, gak pa pa juga deh, hitung hitung ini jadi jurnal gue yang mana gue udah lama banget berhenti menulis diary. Gue juga gak yakin bisa nggak berkomitmen menulis di sini... only time will tell..